Arab Saudi Usir Atase Militer dan Staf Kedubes Iran, Batas Waktu Hanya 24 Jam

Minggu, 22 Maret 2026 – 12:20 WIB

VIVA – Arab Saudi telah memberi waktu 24 jam kepada atase militer Iran dan staf kedutaannya untuk meninggalkan wilayah Kerajaan. Ultimatum ini dikeluarkan menyusul serangan-serangan berulang dari Iran ke wilayahnya.


Iran Hantam Dimona, Kawasan Nuklir Paling Rahasia Israel

Kementrian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataan pada Sabtu, 21 Maret, menyatakan mereka telah menetapkan sebagai *persona non grata* atase militer Kedutaan Besar Iran, asistennya, serta tiga anggota staf misi.

Langkah ini terjadi di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang membuat Teheran menargetkan Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Serangan-serangan tersebut semakin merusak, terutama terhadap pusat sipil dan fasilitas energi, sehingga memicu kekacauan di kawasan dan menggoyang pasar energi global.


Trump Ancam Bikin ‘Neraka’ Jika Iran Tak Segera Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam

Arab Saudi, yang punya cadangan minyak mentah terbesar kedua di dunia, telah menjadi sasaran ratusan rudal dan drone Iran sejak awal perang. Namun, menurut pihak berwenang, sebagian besar serangan berhasil dihadang.

Beberapa serangan juga menyasar fasilitas energi di wilayah timur Arab Saudi, serta ibu kota Riyadh, di mana Kedutaan Besar AS sempat terkena dua drone pada awal bulan ini.


Ini Senjata Rahasia Iran yang Diklaim Bikin Jet Tempur Siluman F-35 AS Jatuh

Pada Kamis, aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu di Laut Merah terganggu setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF milik Aramco-Exxon yang berada di dekatnya.

Pelabuhan tersebut menjadi satu-satunya jalur ekspor bagi Arab Saudi setelah Iran secara efektif memblokir lalu lintas kapal tanker yang keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz.

MEMBACA  Nyepi: Bandara Ngurah Rai Bali mengumumkan penutupan selama 24 jam

Pernyataan pada Sabtu itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan bahwa kepercayaan terhadap Iran telah hancur, sekaligus menegaskan hak negaranya untuk membela diri.

Ia juga mengatakan bahwa Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya memiliki kapasitas dan kemampuan yang sangat besar yang dapat digunakan jika mereka memutuskan untuk melakukannya.

Hubungan antara Arab Saudi dan Iran selama ini memang sering diwarnai ketegangan. Namun, kedua negara tersebut sempat memulai proses pemulihan hubungan yang dimediasi Beijing sekitar tiga tahun lalu.

Halaman Selanjutnya

Dalam pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri juga menegaskan bahwa serangan Iran yang terus berlanjut akan memicu eskalasi lebih lanjut dan membawa konsekuensi signifikan bagi hubungan saat ini maupun di masa depan.

https://openjournals.utoledo.edu/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=%2Findex.php%2Findex%2Flogin%2FsignOut%3Fsource%3D.c0nf.cc&io0=h23WM

Tinggalkan komentar