Kecemerlangan Every Brilliant Thing mulai terasa sejak Anda menginjakkan kaki di dalam teater.
Tidak ada set panggung yang rumit untuk disaksikan, hanya barisan kursi di sepanjang tiga sisi panggung. Fokusnya justru tertuju pada bintang pertunjukan: Daniel Radcliffe, pemenang Tony Award dan wajah dari salah satu waralaba film terbesar sepanjang masa, yang kini berbaur dengan para penonton.
Radcliffe akan mendatangi anggota audiens dan memperkenalkan diri dengan riang, “Halo, aku Dan.” Ia akan menanyakan perasaan mereka tentang partisipasi penonton, membagikan kartu untuk dibaca, atau menunjuk mereka untuk memerankan peran tertentu dalam pertunjukan. Setiap sapaan antusias, yang dipasangkan dengan jabat tangan, menjadi bukti runtuhnya tembok antara penonton dan bintang besar dengan cara yang meluluhlantakan. Dalam sekejap, ia berubah dari Daniel Radcliffe, Ikon Budaya Pop, menjadi Daniel Radcliffe, rekan pemain untuk 90 menit berikutnya.
Dengan peralihan ini, Radcliffe dan para sutradara Duncan Macmillan serta Jeremy Herrin mengajak audiens masuk bukan sebagai penonton, melainkan sebagai kolaborator. Kolaborasi itu mengubah Every Brilliant Thing menjadi pengalaman teatrikal yang singular dan meneguhkan kehidupan, dengan Radcliffe berperan sebagai pemandu kita yang begitu berharga.
Apa yang diceritakan Every Brilliant Thing?
Setelah berkeliling menyapa penonton, Radcliffe kembali ke panggung dan memulai Every Brilliant Thing dengan sebuah kalimat yang menohok: “Daftarnya dimulai setelah upaya pertamanya.”
Seperti yang kemudian kita ketahui, ketika narator tanpa nama dalam sandiwara ini berusia 7 tahun, ibunya mencoba bunuh diri. Ayahnya, ketika berusaha menjelaskan kepada putra kecilnya itu, berkata itu “karena dia tidak bisa melihat hal apa pun yang layak untuk dijalani.”
Maka dimulailah pencarian narator untuk menunjukkan kepada ibunya bahwa ada begitu banyak hal yang layak dihidupi. Ia membuat sebuah daftar berisi “segala hal yang brilian” dalam hidup. Es krim. Barang-barang bergaris. Orang yang terjatuh. Melalui mata seorang anak 7 tahun, setiap entri adalah bukti keajaiban dunia yang luas.
Narator itu terus menambahkan daftarnya sepanjang masa muda hingga dewasa. Seiring waktu, entrinya menjadi lebih spesifik: hadiah yang benar-benar kamu inginkan tanpa harus memintanya. Lagu ketujuh di setiap rekaman yang bagus. Orang tua yang berpegangan tangan.
Lama-kelamaan, daftar itu bukan lagi sekadar pengingat untuk ibunya, tetapi menjadi latihan yang menenteramkan bagi narator dan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang luar pun berkontribusi pada daftar itu hingga panjangnya mencapai ratusan ribu entri.
Saat Radcliffe membacakan nomor entri dari daftar, ia akan menunjuk ke arah kursi penonton, dan pada saat itulah seorang anggota audiens akan membacakan “hal yang brilian” tersebut dari kartu yang dia berikan sebelum pertunjukan. Ia adalah konduktor dari paduan suara seluruh elemen indah dalam hidup, yang sebagian mungkin kita anggap remeh. Mendengarnya diteriakkan di ruang ini memberikannya kedalaman baru. “Ya,” Anda akan berpikir, “ada kecemerlangan dalam menyelami catatan liner di sampul piringan hitam, menyaksikan seseorang menyelipkan diri di pintu kereta tepat pada detik terakhir, dan juga tempat tidur.”
Daniel Radcliffe memancarkan pesona yang memikat lewat partisipasi audiens dalam Every Brilliant Thing.
Meminta audiens membacakan kartu adalah bentuk partisipasi penonton yang paling sering dalam Every Brilliant Thing, namun bukan satu-satunya. Lampu gedung tetap menyala selama sebagian besar pertunjukan, mengingatkan penonton bahwa narator tidak sedang berbicara di ruang hampa, melainkan berinteraksi langsung dengan kita. Radcliffe juga kerap mengajak penonton untuk memerankan ayahnya, seorang pustakawan yang ramah, hingga pasangan hidupnya kelak.
Menyaksikan Radcliffe menyutradarai rekan pemain dadakan ini seperti menyaksikan pertunjukan akrobat di atas tali. Di samping menghadirkan performa yang berayun dari memukau ke rentan, dari girang ke menghancurkan, Radcliffe juga bertugas sebagai fasilitator yang menenangkan. Dalam peran yang kedua ini, ia memancarkan keterbukaan yang menular, merembes ke setiap penonton, tak hanya mereka yang berbagi panggung bersamanya.
Ada pula kualitas improvisasional yang menyegarkan dalam interaksinya dengan penonton. Pada satu titik di pertunjukan, narator mengambil dua buku dari penonton. Dalam pertunjukan yang saya saksikan, salah satu buku itu adalah *A Court of Silver Flames* karya Sarah J. Maas, sebuah karya populer di BookTok yang sampul dan ketebalannya khas serta langsung memicu gelak tawa penonton yang mengenalinya. Radcliffe menyambut reaksi itu, dengan santai menyebut-nyebut serial ACOTAR (ya, ia menyebut singkatannya dengan tepat) bahkan bergurau tentang bagaimana buku itu bisa mengajarkan hal baru dan “seksi” kepada sang narator. Itu lebih dari sekadar candaan singkat; itu adalah upaya menjangkau penonton di level mereka.
Hubungan antara penonton dan pemain memang timbal balik. Namun, setiap kali Radcliffe memanggil seorang penonton, reaksi awal saya adalah tegang. Bagaimana jika ada yang mencoba merusak momen? Atau jika penonton lain justru mengacuhkannya? Namun, sekali lagi, kekhawatiran saya terbukti salah. Setiap penonton yang naik panggung melakukannya dengan antusiasme yang penuh hormat, dan kami semua di teater memberikan dukungan yang membesar, baik dalam adegan yang konyol maupun yang sangat menyedihkan.
Pada satu momen yang riuh, sebuah boneka kaos kaki terlibat, dan adalah suatu keajaiban kecil teater menyaksikan seseorang berkomitmen sepenuhnya untuk memerankan boneka itu sendiri. Dalam adegan awal yang mengharu biru, seorang penonton lain berperan sebagai dokter hewan yang harus menidurkan anjing narator, Indiana Bones. Adegan ini pun merupakan keaajiban kecil. Kami tak ragu mempercayai bahwa jaket yang baru dipinjam Radcliffe dari seorang penonton adalah anjingnya, bahwa pulpen yang dipegang “dokter hewan” itu adalah jarum suntik, dan bahwa kami menyaksikan sebuah nyawa padam secara realita. Ini adalah salah satu dari banyak momen di mana *Every Brilliant Thing* akan menghancurkan hati Anda, tetapi Radcliffe selalu hadir untuk mengumpulkan kita kembali dan menuntun kita menuju daftar hal-hal brilian yang membangkitkan semangat. Oleh karena itu, pengalaman menonton *Every Brilliant Thing* terasa layak masuk dalam daftar sang narator sendiri—tentu saja, dengan gaya yang spesifik dan pas.
Nomor 1.000.021: Menonton sebuah pertunjukan bersama penonton yang, secara kasat mata dan dalam waktu nyata, merangkul trik sulap transformatif bernama teater.
Jika Anda memiliki pikiran untuk bunuh diri atau mengalami krisis kesehatan mental, silakan bicara dengan seseorang. Anda dapat menghubungi 988 Suicide & Crisis Lifeline di 988 via telepon atau teks, atau chat di 988lifeline.org. Untuk dukungan spesifik, hubungi Trans Lifeline di 877-565-8860 atau Trevor Project di 866-488-7386. Kirim teks “START” ke Crisis Text Line di 741-741. Hubungi NAMI HelpLine di 1-800-950-NAMI, Senin hingga Jumat pukul 10 pagi hingga 10 malam ET, atau email [email protected]. Bila tidak nyaman menelepon, pertimbangkan untuk menggunakan 988 Suicide and Crisis Lifeline Chat. Untuk bantuan internasional, silakan merujuk pada daftar sumber daya ini.