Dalam perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, Tehran menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi semua negara kecuali AS dan sekutunya. Seperlima dari pengapalan minyak dunia melintas melalui selat ini.
Pada 2 Maret, Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, mengumumkan bahwa selat tersebut “ditutup” dan jika ada kapal yang berusaha menyeberang, IRGC dan angkatan laut akan “membakar kapal-kapal itu”.
Langkah ini membuat harga minyak melonjak di atas $100 per barel dari harga pra-perang sekitar $65.
Barel minyak Brent, patokan internasional, naik 2,5 persen menjadi $105,70 pada hari Senin. Angka itu lebih dari 40 persen lebih tinggi dibanding sebelum perang dimulai pada 28 Februari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada jaringan televisi AS CBS pada hari Minggu menyatakan bahwa Tehran telah “dihubungi oleh sejumlah negara” yang meminta jalur aman bagi kapal mereka “dan ini tergantung keputusan militer kami.” Ia menambahkan bahwa sejumlah kapal dari “berbagai negara” telah diizinkan melintas, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Berikut yang kita ketahui tentang kapal negara mana yang diizinkan melintasi selat dan negara mana yang dilaporkan sedang bernegosiasi untuk jalur aman.
Pakistan
Menurut laporan Bloomberg News, sebuah tanker Aframax berbendera Pakistan bernama Karachi berlayar keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz pada hari Minggu.
India
Pada hari Sabtu, Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, menyatakan Tehran telah mengizinkan beberapa kapal India melintasi Selat Hormuz sebagai pengecualian langka dari blokade yang telah mengganggu pasokan energi global.
Fathali tidak mengonfirmasi jumlah kapal. Namun, pada hari yang sama, New Delhi menyatakan dua tanker berbendera India yang membawa gas minyak cair yang menuju pelabuhan di India barat telah melintasi selat tersebut.
“Mereka menyeberangi Selat Hormuz dengan selamat dini hari dan sedang dalam perjalanan ke India,” ujar Rajesh Kumar Sinha, sekretaris khusus Kementerian Pelabuhan, Perkapalan, dan Jalur Air, dalam sebuah takarir pers di New Delhi.
Turkiye
Sebuah kapal milik Turki yang telah menunggu dekat Iran diizinkan melintasi selat setelah otoritas mendapatkan izin dari Tehran, kata Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki Abdulkadir Uraloglu dalam komentar kepada media Turki pada hari Jumat.
“Ada lima belas kapal [milik Turki] di sana. Kami memperoleh izin dari otoritas Iran untuk salah satunya yang telah menggunakan pelabuhan Iran, dan kapal itu pun lolos,” ujar Uraloglu.
Tiongkok
Tiongkok sedang dalam pembicaraan dengan Iran untuk mengizinkan kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair Qatar melintas dengan aman melalui Selat Hormuz, kantor berita Reuters melaporkan pada 5 Maret, mengutip tiga sumber diplomatik anonim.
Tiongkok, yang memiliki hubungan baik dengan Iran dan sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah, tidak senang dengan keputusan Iran untuk melumpuhkan pengiriman melalui selat dan mendesak Tehran untuk mengizinkan jalur aman bagi kapal-kapalnya, menurut sumber-sumber tersebut.
Tiongkok menerima 45 persen minyaknya melalui Selat Hormuz.
Prancis dan Italia
Kedua negara Eropa tersebut diketahui telah meminta pembicaraan dengan Iran tentang mengizinkan kapal mereka melintasi selat, lapor Financial Times Inggris, mengutip pejabat-pejabat anonim.
Apa koalisi angkatan laut yang diusulkan Trump untuk selat ini?
Presiden AS Donald Trump menyerukan koalisi angkatan laut untuk bergabung dengan Angkatan Laut AS dalam mengerahkan kapal perang untuk mengamankan selat tersebut.
“Semoga Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan lainnya, yang terdampak oleh pembatasan artifisial ini akan mengirim kapal ke wilayah itu sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman oleh bangsa yang telah benar-benar dipenggal,” tulis Trump dalam sebuah postingan Truth Social pada hari Minggu.
Namun, negara-negara yang disebutkan Trump tidak memberikan janji apa pun untuk bergabung dalam operasi semacam itu.
Pada hari Senin, Jerman dan Yunani menolak keterlibatan militer.
Juru bicara pemerintah Jerman berkata: “Selama perang ini berlanjut, tidak akan ada partisipasi, bahkan dalam upaya apa pun untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dengan cara militer.”
Yunani juga tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz, kata juru bicara pemerintah Pavlos Marinakis.
Meskipun ada tekanan dari pemerintahan Trump untuk memberikan dukungan kepada AS dalam perangnya melawan Iran, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan kepada media pada hari Senin: “Kami tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas.”
Rodger Shanahan, seorang analis keamanan Timur Tengah, kepada Al Jazeera menyatakan “tidak mungkin” sekutu AS akan terlibat dalam mengamankan Selat Hormuz seperti yang disarankan pemerintahan Trump.
Shanahan mengatakan karena sebagian besar sekutu AS “menentang perang ini sejak awal”, hal itu membuat mereka “merasa relatif kurang tertarik untuk memberikan dukungan.”
“Selain itu, ada masalah praktis. Jika Anda menginginkan dukungan angkatan laut untuk semacam operasi perlindungan koalisi, dibutuhkan waktu lama untuk mengirim kapal berlayar ke daerah itu. Anda tidak bisa melakukan hal semacam ini secara mendadak.”
(Al Jazeera)