Hubungan romantis itu susah. Butuh keterbukaan dan kesabaran tinggi untuk menghadapi gesekan saat mengatur keinginan sendiri sambil mempertimbangkan kebutuhan pasangan. Tapi bagi Gen Z, pengalaman percintaan awal itu — dan ketahanan sosial yang dibentuknya — makin jarang ada.
Hanya sekitar 56% Gen Z yang memasuki usia dewasa pernah punya pacar, dibandingkan 75% dari generasi lebih tua, menurut survei dari Survey Center on American Life.
Tanpa percakapan dan negosiasi sulit itu, Gen Z datang ke hari pertama kerja mereka tanpa persiapan menghadapi tantangan di kantor, kata Tessa West, profesor psikologi di New York University yang meneliti komunikasi antara karyawan dan atasan.
“Norma yang dulu terlihat jelas, seperti cara bicara ke bos, jam berapa harus datang,” katanya ke Fortune, “generasi muda ini tidak punya aturan dasarnya.”
Ini bukan cuma soal pacaran. Gen Z juga kurang bersosialisasi. Mereka minum alkohol lebih sedikit, jarang datang ke pesta, dan punya lebih sedikit interaksi tatap muka dibanding generasi mana pun sebelumnya. Pandemi COVID dan era media sosial membawa perubahan yang lebih ekstrem dari yang digambarkan penulis Robert Putnam dalam Bowling Alone. Banyak Gen Z telah kehilangan alat yang diperlukan untuk mengembangkan kecakapan sosial guna menghadapi kompleksitas dan gesekan di kantor modern.
Meski ada faktor lain, riset West menemukan hubungan langsung antara penurunan hubungan romantis dan kinerja di tempat kerja.
“Kemampuan seseorang melakukannya dengan baik dalam hubungan, secara langsung memprediksi seberapa baik kamu melakukannya di pekerjaan,” ujarnya.
Sebuah studi Februari 2025 tentang koneksi antara kesepian dan kinerja kerja juga menemukan, bahwa orang yang kurang punya keterampilan dan dukungan sosial dari hubungan dekat, lebih mungkin merasa kesepian, kurang produktif, dan kurang siap menghadapi kantor modern.
Dan ini masalah yang makin besar, karena Bureau of Labor Statistics memperkirakan Gen Z — mereka yang lahir antara 1996 dan 2012 — akan membentuk hampir 30% tenaga kerja AS pada 2030. Itu sekitar 50 juta orang.
Tumbuh Tanpa Gesekan
West, penulis buku Job Therapy, mengatakan ada banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan sosial Gen Z di dunia kerja. Salah satunya, mereka tumbuh di era di mana komunikasi online menjadi norma, menggantikan sosialisasi langsung.
Faktor lain: overparenting. Menurut platform karier Zety, 1 dari 5 kandidat Gen Z membawa ibu atau ayah mereka ke wawancara kerja. Bahkan beberapa orang tua ikut dalam negosiasi gaji.
Semua ini, kata West, menimbulkan masalah bagi Gen Z dalam tugas-tugas paling mendasar di tempat kerja. Misalnya, dalam meminta kenaikan gaji atau cuti pada atasan.
“Kamu belajar banyak keterampilan dari hubungan awal (romantis) itu, yang kemudian digunakan di tempat kerja,” katanya. “Negosiasi adalah salah satunya, begitu juga kompromi.”
Dia mengatakan membangun hubungan — biasanya romantis tapi juga persahabatan — membantu orang mengembangkan keterampilan penting lain, seperti menangani percakapan tidak nyaman, mengelola kecemasan, dan menghadapi dinamika sosial yang sulit.
“Hubungan dekat dan kesulitan yang datang saat mengembangkan hubungan baru dengan seseorang, di mana kamu harus menghadapi berbagai ketidaknyamanan potensial,” jelasnya.
Benturan Antar Generasi
Ini sering terlihat di kantor sebagai kurangnya komunikasi yang jelas. Menurut West, Gen Z mungkin memilih mengirim email ke bos daripada berbicara langsung tentang tantangan.
Ini juga berarti banyak Gen Z menggunakan AI sebagai penopang untuk menyelesaikan konflik. Lebih dari setengah Gen Z memandang ChatGPT sebagai rekan atau asisten kerja, menurut survei 2025 dari Resume.org. Dan sekitar sepertiga Gen Z bergantung pada AI untuk nasihat tentang hubungan atau keputusan hidup sulit.
“Generasi lebih tua jadi sangat frustrasi dengan perilaku itu dan mungkin sedikit marah karenanya,” kata West. “Ujung-ujungnya malah memperburuk masalah ini.”
Kesenjangan komunikasi dan perilaku antisosial lain di tempat kerja adalah masalah yang perlu diatasi oleh pekerja tua maupun muda, menurut West. Dia menyarankan, menjembatani kesenjangan butuh reset bersama di mana atasan membuat norma kantor yang implisit menjadi jelas bagi pekerja muda.
“Kedua belah pihak perlu bergerak,” ujarnya. “Generasi tua perlu bekerja pada komunikasi jelas dan reset itu, dan generasi muda perlu bekerja pada kemauan untuk belajar.”