Penasihat AI Trump Desak AS ‘Keluar’ dari Perang dan Peringatkan Iran Bisa Jadikan Teluk Tak Layak Huni

David Sacks, seorang venture capitalist yang jadi penasehat AI dan crypto untuk Presiden Donald Trump, memperingatkan tentang akibat yang sangat buruk jika perang AS-Israel melawan Iran lanjut.

Dalam satu episode podcast All-In hari Jumat, dia bilang “kita mungkin harus cari jalan keluar,” sambil mencatat militer Iran sudah hancur.

“Ini waktu yang tepat untuk nyatakan kemenangan dan pergi, dan pasar jelas ingin lihat itu,” tambah Sacks.

Tapi dia bilang ada grup dalam Partai Republik dan di tempat lain yang mau tingkatkan perang, kirim pasukan darat, dan coba ganti rezim Iran.

Sebenernya, Trump awalnya sebut soal ganti rezim saat perang mulai dua minggu lalu, tapi sekarang dia kurang tekankan itu. Sementara itu, dia perintahkan militer AS serang pusat ekspor minyak utama Iran, Pulau Kharg, dan kirim 2.500 Marinir dari Asia ke Timur Tengah.

Gedung Putih tidak langsung kasih tanggapan.

Sacks khawatir soal siklus eskalasi balas-dendam di Iran yang bisa bikin kedua pihak serang infrastruktur minyak dan gas masing-masing.

Kalau sudah sampai titik itu, buka lagi Selat Hormuz untuk alirkan energi tidak akan penting karena memulai lagi produksi minyak dan gas tidak mungkin, katanya.

Skenario lebih buruk bisa terjadi jika pabrik desalinasi hancur, peringat Sacks. Pabrik itu sediakan sebagian besar air bersih di wilayah itu dan sudah jadi sasaran.

“Jika penghancuran seperti itu terus, kita bisa buat Teluk hampir tidak bisa dihuni,” jelasnya. “Maksudku, tidak akan ada cukup air untuk 100 juta orang, dan manusia tidak bisa bertahan lama tanpa air. Itu akan jadi skenario yang benar-benar katastrofik, dan kita bicara tentang hancurkan negara-negara Teluk secara ekonomi dan juga dari sisi kemanusiaan.”

MEMBACA  Mengapa ETF Obligasi Jangka Pendek Bisa Jadi Investasi Pendapatan Terbaik untuk 2026

Meski Israel tidak terlalu rentan, Sacks juga tunjukkan negara itu sudah terkena keras oleh serangan Iran, dan tambah bahwa “Israel bisa saja hancur atau sebagian besarnya” jika perang berlanjut berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Dalam skenario dimana Israel hadapi ancaman serius seperti itu, resiko untuk mereka tingkatkan perang lebih jauh dan mungkin pertimbangkan pakai senjata nuklir jadi lebih besar, katanya.

“Jadi ada banyak skenario di sini, banyak skenario yang sangat menakutkan tentang ke mana eskalasi bisa bawa,” lanjut Sacks. “Dan walaupun Amerika Serikat negara yang jauh lebih kuat dari Iran, mereka pada dasarnya punya ‘dead man’s switch’ atas nasib ekonomi negara-negara Teluk dan bahkan mungkin lebih dari itu.”

Mengingat “arah yang mengerikan” yang bisa dihasilkan dari eskalasi lebih lanjut, dia bilang sekarang waktunya lihat de-eskalasi, yang bisa berupa perjanjian gencatan senjata atau penyelesaian lewat negosiasi.

Komentar ini muncul saat ada laporan bahwa beberapa pejabat pemerintahan juga dorong Trump untuk cari jalan keluar dari perang karena kenaikan harga minyak baru-baru ini tingkatkan resiko politik.

Sumber bilang ke Reuters bahwa penasihat ekonomi dan pejabat sudah kasih tau dia bahwa harga bensin yang naik bisa cepat mengikis dukungan domestik untuk perang yang sudah lemah. Namun, suara-suara yang lebih hawkish mendesak Trump untuk lanjutkan dan cegah Iranembangkan senjata nuklir.

“Dia biarkan para hawk percaya kampanye perang berlanjut, ingin pasar percaya perang mungkin segera berakhir dan basis pendukungnya percaya eskalasi akan dibatasi,” kata seorang penasihat Trump ke Reuters.

Tinggalkan komentar