Enam bulan lalu, pemerintah federal dengan gegap gempita mengumumkan kemungkinan manfaat obat leucovorin untuk menangani autisme. Kini, pengumuman itu secara resmi berubah menjadi kekecewaan.
Pada hari Selasa, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui perluasan penggunaan leucovorin untuk mengobati defisiensi folat serebral, suatu kondisi langka yang berpotensi terkait dengan beberapa kasus autisme. Namun yang patut dicatat, lembaga tersebut tidak merekomendasikannya sebagai terapi untuk autisme, dengan alasan kurangnya bukti yang kuat. Presiden Donald Trump, Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr., dan pejabat kesehatan lainnya sebelumnya mengklaim leucovorin dapat membantu sejumlah besar anak dengan autisme di AS, mungkin mencapai ratusan ribu.
Terapi yang menjanjikan, tetapi bukan untuk autisme
Leucovorin (asam folinat) adalah bentuk dari vitamin folat, yang juga dikenal sebagai vitamin B9. Folat, antara lain, krusial bagi perkembangan janin yang sehat, dan wanita dengan kadar folat rendah selama kehamilan berisiko lebih tinggi melahirkan anak dengan cacat tabung saraf. Secara historis, leucovorin digunakan untuk menangkal efek samping obat kemoterapi tertentu.
Sebagian besar kasus, defisiensi folat dapat dengan mudah diobati atau dicegah dengan suplemen asam folat. Lebih jarang, seseorang dapat mengembangkan suatu kondisi di awal kehidupannya yang ditandai dengan kadar folat rendah di otak meski kadar dalam darah normal. Rendahnya kadar folat di otak ini kemudian dapat memicu gejala neurologis seperti kejang dan disabilitas intelektual.
Ada beberapa tipe defisiensi folat serebral, tetapi umumnya kondisi ini disebabkan oleh masalah pada reseptor utama yang bertanggung jawab mengangkut folat melintasi sawar darah-otak. Namun, leucovorin dapat diangkut melalui metode pengantaran yang berbeda, sehingga mampu meningkatkan kadar folat di otak. Penelitian menunjukkan leucovorin dapat meredakan defisiensi folat serebral, terlebih jika diberikan lebih awal, dan obat ini telah lama digunakan secara off-label untuk pasien-pasien ini.
Keputusan FDA secara formal menjadikan leucovorin sebagai pengobatan pertama yang disetujui untuk defisiensi folat serebral yang disebabkan oleh varian berbahaya pada gen reseptor folat 1. Meski keputusan ini mungkin membantu beberapa anak mengakses leucovorin lebih mudah, bentuk genetik dari kondisi ini sangatlah langka, dengan mungkin hanya 50 kasus atau lebih sedikit yang pernah dilaporkan dalam literatur medis. Persetujuan yang terbatas ini jauh sekali dari sorotan yang sebelumnya diberikan Trump dan pejabat kesehatan lainnya terhadap obat ini.
Tipu muslihat
Pada September lalu, Gedung Putih era Trump menggelar konferensi pers dan menunjuk leucovorin sebagai salah satu dari dua terobosan besar dalam memahami autisme lebih baik (yang satunya adalah klaim hubungan antara penggunaan asetaminofen ibu hamil dan risiko autisme, yang juga telah banyak dibantah oleh pakar independen).
Studi terbatas menunjukkan anak dengan autisme mungkin lebih berpeluang memiliki kadar folat otak yang rendah, dan beberapa gejala defisiensi folat serebral dapat menyerupai autisme berat. Berlandaskan bukti yang minim itu, pejabat seperti RFK Jr. mengklaim pada bulan September bahwa leucovorin adalah terapi menarik yang mungkin bermanfaat bagi “sejumlah besar anak” dengan autisme. Komisioner FDA Marty Makary bahkan menyatakan leucovorin mungkin dapat membantu “ratusan ribu anak”; di kesempatan lain, dia seolah menyirat leucovorin dapat mengobati “20, 40, 50% anak dengan autisme” yang mengalami defisiensi ini.
Data kredibel yang mendukung leucovorin untuk autisme selalu sangat terbatas, dan kian memburuk belakangan ini. Pada akhir Januari, sebuah jurnal menarik sebuah uji coba positif yang menguji suplemen leucovorin pada anak autis setelah peneliti luar menemukan banyak “kesalahan” dan “masalah” dalam data, menurut pemberitahuan retraksi. Itu adalah uji coba terbesar sejauh ini, dengan 77 anak, dan satu dari hanya lima uji coba yang ada.
Maka, tidak mengherankan jika FDA tidak merasa yakin untuk menyetujui leucovorin untuk kondisi apa pun di luar defisiensi folat serebral. Dalam takar media hari Senin, seorang pejabat FDA menyatakan, “kami tidak memiliki data yang cukup untuk mengatakan bahwa kami dapat membuktikan kemanjuran untuk autisme secara lebih luas.”
Makary tampaknya masih berusaha menyiratkan bahwa leucovorin dapat membantu mengobati autisme dalam pernyataannya mengumumkan perluasan persetujuan obat tersebut, meski dengan kepastian yang jauh berkurang dari sebelumnya. “Langkah ini mungkin bermanfaat bagi sebagian individu dengan defisiensi transport folat serebral terkait-FOLR1 yang memiliki keterlambatan perkembangan dengan fitur autistik,” ujarnya.
Apa yang terjadi selanjutnya?
FDA masih mendorong perusahaan-perusahaan untuk meneliti apakah leucovorin dapat bermanfaat bagi autisme, meski belum pasti apakah ada yang berminat. Walaupun pembuat asli obat ini, GlaxoSmithKline, mengajukan pembaruan label pada September lalu, mereka hanya melakukannya atas permintaan FDA. Tak lama setelahnya, perusahaan menyatakan tidak akan berusaha memasarkan obat tersebut sebagai terapi autisme.
Meski demikian, pengumuman Trump pada September sempat memicu lonjakan resep leucovorin rawat jalan, menurut sebuah studi bulan ini menemukan. Jadi, mungkin lebih banyak keluarga anak autis akan memilih mencoba obat ini, meski secara off-label. Namun, tanpa dukungan kuat dari FDA, semoga leucovorin hanya akan menjadi tren terapi autisme terbaru yang kemudian memudar.