Berdasarkan jajak pendapat terbaru NBC, masyarakat ternyata sangat membenci kecerdasan buatan.
NBC mensurvei sekelompok pemilih terdaftar dan menemukan bahwa konsep kecerdasan buatan sangat tidak populer: 46% responden mengaku memiliki perasaan negatif, hanya 26% melaporkan konotasi positif, sementara 27% bersikap netral.
Bahkan badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), yang menjadi subyek protes nasional berbulan-bulan, dinilai lebih baik. Presiden Donald Trump, yang peringkat persetujuan bersihnya saat ini -19, juga lebih disukai. Faktanya, topik yang dinilai lebih negatif daripada AI hanyalah Iran dan Partai Demokrat.
Risiko yang menyertai proliferasi kecerdasan buatan telah menjadi topik diskusi publik utama selama setahun terakhir seiring teknologi ini kian mengakar dalam masyarakat modern.
Para ahli berargumen bahwa adopsi AI secara luas di dunia bisnis akan membawa bencana pengangguran kalangan kerah putih. Beberapa mengatakan AI telah berdampak negatif pada pasar tenaga kerja, dengan kerugian jelas dialami pekerja pemula di sektor rentan, meski imbal hasil produktivitas sebenarnya masih sangat diperdebatkan.
Kecanduan AI dengan cepat menjadi frasa yang terlalu familier, meski banyak peringatan akan masalah kesehatan mental akibat ketergantungan berlebihan pada chatbot, serta berbagai studi yang mengaitkan peningkatan ketergantungan pada AI dengan penurunan kemampuan kognitif. Chatbot AI juga berulang kali dituduh menghasut kekerasan dan mendorong tindakan melukai diri. Banyak keluarga yang berduka sedang menggugat penyedia chatbot besar seperti OpenAI dan Character.AI.
Keterlibatan perusahaan-perusahaan AI dalam tindakan pemerintah yang tidak populer di seluruh dunia juga turut memperburuk reputasi AI. AI telah meningkatkan upaya pengawasan dan memperbanyak korban jiwa di zona perang. Seruan untuk boikot meningkat setelah Palantir menandatangani perjanjian untuk menyuplai teknologi AI yang mendukung kampanye besar-besaran anti-imigran yang dipimpin ICE. Sementara itu, OpenAI bersikukuh dengan keputusannya yang kontroversial untuk menyewakan teknologinya ke Pentagon.
Yang juga memicu kontroversi adalah tingginya permintaan energi akibat peningkatan penggunaan AI. Amerika Serikat sedang dalam proses pembangunan pusat data yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun warga di sekitar lokasi berulang kali mengeluhkan kekurangan air, tagihan listrik yang membengkak, dan kualitas udara yang memburuk. Masyarakatakat sudah muak hingga pembatalan proyek pusat data meningkat empat kali lipat pada 2025 akibat penolakan lokal. Sebagai tanggapan, semakin banyak negara bagian dan wilayah lain mulai mempertimbangkan pemberlakuan moratorium untuk pusat data AI baru.
Namun, terdapat disonansi kognitif di kalangan publik. Lima puluh tujuh persen responden survei menyatakan bahwa risiko AI lebih besar daripada manfaatnya. Meski demikian, responden yang mengaku menggunakan platform AI seperti ChatGPT meningkat dari 48% pada Desember 2025 menjadi 56% pada Maret.
Jajak pendapat ini muncul ketika kecerdasan buatan telah menjadi medan pertempuran utama dalam pemilu paruh waktu mendatang. Meski mendominasi wacana politik, teknologi ini masih sangat minim regulasi, dan banyak pelaku utama industri menginginkan hal ini tetap demikian. Raksasa teknologi menggelontorkan dana yang besar untuk mendukung kandidat yang sehaluan dan melemahkan para ‘elang’ AI yang mencalonkan diri pada pemilu November 2026, sementara kandidat-kandidat tersebut menjadikan AI isu inti dalam kampanye mereka.
Walaupun Partai Republik pimpinan Trump sangat melindungi industri AI dan menganggapnya penting untuk keamanan nasional, kritikus dan pendukung AI datang dari kedua belah pihak. Dalam jajak pendapat NBC, mayoritas pemilih yang disurvei menyatakan bahwa tidak ada satu pun partai yang menangani ancaman kecerdasan buatan dengan memadai.