Sabtu, 7 Maret 2026 – 18:00 WIB
Jakarta – Sejumlah tokoh dari berbagai sektor dan generasi mengadakan pertemuan strategis dengan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), pada Sabtu tanggal tersebut. Pertemuan ini diadakan di kediaman JK.
Acara ini menjadi wadah bagi para aktivis, akademisi, birokrat, dan pengusaha untuk membahas arah bangsa serta mengungkapkan kegelisahan tentang krisis kepemimpinan yang sedang terjadi.
Sudirman Said, salah satu tokoh yang hadir, menegaskan bahwa diskusi ini muncul dari keprihatinan mendalam terhadap menurunnya standar moral para pemimpin. Sebagai rektor Universitas Harkat Negeri yang punya pengalaman tiga dekade mengajar kepemimpinan, ia melihat ada kekosongan fatal dalam kepemimpinan intrinsik.
“Yang hilang adalah kepemimpinan intrinsik, yaitu kepemimpinan yang berdasarkan nilai-nilai seperti integritas, visi, kompetensi, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menggerakkan perbaikan,” ujar Sudirman.
Ia menambahkan, tujuan kehadiran para tokoh adalah untuk menyambungkan kembali hati nurani kekuasaan dengan etika. “JK saat ini tidak punya jabatan resmi, tetapi memiliki kepemimpinan intrinsik karena integritasnya,” tambahnya.
Pakar Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari, menjelaskan ada dua alasan utama para tokoh ini ingin bertemu JK. Pertama, pengalaman JK sebagai Wapres, ketua partai, dan juru damai dianggap penting untuk membahas krisis kepemimpinan global, agar pengaruh buruk dari luar tidak masuk ke dalam negeri.
“Seperti kata Pak JK, pemimpin tidak boleh hanya mengandalkan insting dan solusi instan,” tegas Feri.
Tokoh Lintas Sektor Sowan ke Jusuf Kalla
Kedua, mereka ingin mempelajari aspek ekonomi dalam pemerintahan sebagai bahan untuk perbaikan ke depannya.
Suara kritis juga datang dari perwakilan mahasiswa, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. Ia menekankan bahwa pertemuan ini bukan pertemuan politik, tapi pertemuan moral rakyat sebagai penumpang “bus besar” bernama NKRI.
“Sopirnya adalah Prabowo, kernetnya Gibran, awaknya para menteri. Rakyat sebagai penumpang berhak menegur sopir jika jalannya salah,” kata Tiyo.
Ia menilai kondisi “bus” Indonesia saat ini sudah reot dan punya banyak masalah yang harus segera diperbaiki agar tidak semakin jauh dari tujuannya.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh lain dari berbagai latar belakang. Dari sektor korporasi hadir Anton J. Supit, William Sabandar (IBC), hingga Arief Zulkifli (CEO Tempo). Dari masyarakat sipil dan akademisi hadir Diah Saminarsih (CISDI), Yanuar Nugroho (Nalar Institute), Titi Anggraeni (Perludem), dan Mandira Bienna Elmir (FIM).