Pada September lalu, Presiden Donald Trump dan Robert F. Kennedy Jr. mengklaim bahwa penggunaan asetaminofen — yang lebih dikenal dengan nama merek Tylenol — oleh wanita selama kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak mereka. Banyak ilmuwan di luar sana dengan cepat menyanggah klaim tersebut dengan menyebutkan bahwa dasar buktinya lemah. Namun, riset yang terbit pekan ini menunjukkan setidaknya beberapa dokter dan wanita hamil telah mengindahkan peringatan Trump untuk menjauhi obat pereda nyeri dan demam yang dijual bebas itu.
Para ilmuwan meneliti rekam medis orang-orang di seluruh AS yang mengunjungi departemen gawat darurat atau klinik rawat jalan tahun lalu. Mereka menemukan bahwa penggunaan asetaminofen di kalangan wanita hamil di IGD menurun setelah pengumuman Trump. Sementara itu, resep leucovorin untuk anak-anak — obat yang kini dipromosikan Gedung Putih sebagai pengobatan autisme dengan sedikit data pendukung — meningkat pada periode yang sama.
“Meskipun klaim kausal tidak dapat dibuat, asosiasi yang teramati konsisten dengan pengaruh rekomendasi baru FDA terhadap keputusan klinis,” tulis para penulis dalam makalah mereka yang terbit Kamis di The Lancet.
Kambing Hitam Tylenol
RFK Jr. dan pejabat kesehatan lainnya sebenarnya agak hati-hati dalam menyalahkan asetaminofen (yang di luar AS biasa disebut parasetamol) sebagai penyebab autisme, dengan mencatat bahwa dibutuhkan lebih banyak riset untuk membuktikan hubungan kausalnya. Namun, Trump jelas tidak demikian. Dalam konferensi pers September itu, ia berulang kali menyuruh wanita untuk segera menghentikan penggunaan asetaminofen, bahkan terkadang berteriak. Administrasinya juga menyatakan akan segera mengambil tindakan regulasi, seperti menambahkan label peringatan pada produk asetaminofen.
Beberapa studi memang mengisyaratkan kemungkinan hubungan antara penggunaan asetaminofen oleh ibu hamil dan autisme, tetapi banyak studi lain yang tidak. Dua tinjauan data terbaru, termasuk satu yang terbit pada Januari ini, gagal menemukan bukti yang kuat untuk hubungan sebab-akibat apa pun. Namun, mengingat kewibawaan Trump dan popularitasnya yang bertahan di sebagian kalangan masyarakat, sangat mungkin beberapa orang mendengarkan nasihatnya tersebut.
Para peneliti studi ini menganalisis data dari Cosmos, sebuah basis data yang mewakili lebih dari 200 juta rekaman pasien yang dikumpulkan dari sistem layanan kesehatan di AS dan negara lain. Mereka berfokus pada data pasien AS dalam tiga bulan sebelum dan sesudah pengumuman tentang autisme di September, dengan melihat permintaan asetaminofen untuk wanita hamil di IGD. Mereka juga melacak resep rawat jalan untuk leucovorin, obat yang pertama kali didukung Trump dan pejabat kesehatan sebagai pengobatan autisme dalam pengumuman September itu.
Setelah deklarasi Trump, permintaan asetaminofen di IGD untuk wanita hamil turun sekitar 10%, temuan para peneliti. Permintaan asetaminofen tidak menurun pada wanita yang tidak hamil, begitu juga permintaan opioid, mendukung gagasan bahwa imbauan ini hanya mempengaruhi penggunaan asetaminofen oleh ibu hamil. Mereka juga menemukan bahwa resep rawat jalan untuk leucovorin meningkat 71% dibandingkan masa sebelum pengumuman Trump.
Efek Berkelanjutan
Tentu saja, asetaminofen banyak dikonsumsi di luar IGD, sehingga masih belum jelas bagaimana penggunaannya secara umum mungkin berubah di tingkat nasional. Para peneliti juga mencatat bahwa studi mereka tidak dapat menjelaskan seberapa besar perubahan ini disebabkan oleh wanita hamil yang menolak obat tersebut, dibandingkan dengan dokter yang memutuskan untuk tidak meresepkannya untuk pasien hamil mereka.
“Meski demikian, [temuan] ini menunjukkan kekuatan nyata yang dimiliki figur otoritas publik untuk mendorong perubahan mendadak dalam praktik layanan kesehatan,” tulis mereka.
Mungkin ada kabar baik. Permintaan asetaminofen di IGD mulai meningkat dari akhir November hingga awal Desember, temuan para peneliti. Maka, mungkin saja pengrauh Trump memudar seiring waktu, terutama karena semakin banyak organisasi kesehatan yang menyangkal kaitan dengan autisme. Namun, musim dingin juga merupakan musim flu dan pilek, sehingga peningkatan permintaan mungkin hanya mencerminkan tren musiman.
Jelas, diperlukan studi lebih lanjut untuk memahami bagaimana pengumuman Trump mungkin telah mengubah penggunaan asetaminofen oleh ibu hamil di AS. Tetapi jika tren penurunan ini berlanjut, hal itu bisa memiliki dampak jangka panjang yang serius bagi kesehatan wanita dan anak-anak mereka, menurut para peneliti.
“Ada berbagai konsekuensi potensial dari perubahan ini, termasuk insiden demam yang tidak diobati yang lebih tinggi (faktor risiko gangguan neurologis) dan penggunaan obat antipiretik atau analgesik yang lebih tidak aman selama kehamilan dibandingkan parasetamol, yang aman digunakan selama kehamilan,” tulis mereka.