Langkah-Langkah Mencegah dan Mengatasi Kurang Berat Badan pada Anak

Jumat, 6 Maret 2026 – 22:20 WIB

Jakarta, VIVA – Dalam masa tumbuh kembang anak, pencapaian berat badan ideal adalah indikator penting untuk menilai status gizi. Oleh karena itu, jika anak punya berat badan kurang, risiko gangguan pertumbuhan jadi meningkat, baik secara fisik maupun kognitif. Kondisi ini bisa disebabkan oleh asupan gizi yang kurang memadai, termasuk kurangnya kalori dan protein.

Deteksi dini dan pemantauan berat badan secara rutin sangat krusial buat mencegah risiko gagal tumbuh pada anak. Namun sayang, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka underweight atau berat badan kurang pada anak di bawah 5 tahun masih di 16,8 persen, naik dari 15,9 persen di tahun 2023. Kondisi ini harus jadi perhatian serius karena berisiko meningkatkan angka stunting di Indonesia.

Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A bilang, status gizi anak adalah salah satu tolak ukur untuk menilai tercukupinya kebutuhan gizi harian dan penggunaannya oleh tubuh.

“Berat badan dan tinggi badan adalah dua parameter penting dalam menilai status gizi anak. Orang tua disarankan untuk menimbang berat badan anak minimal sebulan sekali untuk anak di bawah 1 tahun, dan minimal 3 bulan sekali sampai anak usia 2 tahun oleh petugas kesehatan,” kata dia di Jakarta, Jumat 6 Maret 2026.

Ian nambahin, kalau asupan nutrisi anak selalu terpenuhi dan digunakan dengan optimal, tentu tumbuh kembang anak akan optimal. Tapi kalau sebaliknya, status gizi si kecil bisa bermasalah sehingga berisiko memengaruhi tumbuh kembangnya sampai dewasa nanti. Karena itu, gejala berat badan kurang atau berat badan anak sulit naik (BB seret) perlu diwaspadai karena bisa menandakan gangguan pertumbuhan.

MEMBACA  Ratusan Kali Ditarik Kembali, Ada Apa dengan Ford?

Untuk mencegah atau mengatasi berat badan kurang, penting untuk memenuhi kebutuhan gizi yang tepat. Mulai dari memastikan setiap menu makan anak ada sumber karbohidrat, protein hewani, sayur, dan lemak sehat. Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, atau daging serta susu sangat penting untuk dukung pertumbuhan. Nggak harus menu yang rumit, yang penting komposisinya seimbang. Selain itu, lakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin, minimal sebulan sekali buat anak usia di bawah 5 tahun oleh petugas kesehatan di Puskesmas, Posyandu, atau rumah sakit.

Halaman Selanjutnya

“Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih cepat, sehingga risiko masalah kesehatan gizi anak dan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembangnya bisa dicegah. Dengan berkonsultasi, orang tua bisa menyesuaikan kebutuhan yang tepat dengan kondisi anak. Jika diperlukan, untuk kondisi berat badan rendah dan BB seret, dokter biasanya bisa merekomendasikan pemberian susu tinggi kalori buat kejar kenaikan berat badan. Tapi ingat, pemberian susu tinggi kalori ini harus dengan rekomendasi dan pantauan dari dokter spesialis anak,” jelas dr. Ian.

Tinggalkan komentar