Jakarta (ANTARA) – Indonesia dapat memanfaatkan peluang ekspor yang muncul akibat gangguan dalam rantai pasok global, seiring ketegangan geopolitik yang mengubah bentuk perdagangan internasional, ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso pada Kamis.
Dia mencatat bahwa ketidakstabilan di Timur Tengah bisa mengganggu pasokan barang dari negara-negara tertentu, sehingga menciptakan celah di pasar global.
“Ketika krisis geopolitik terjadi, biasanya peta perdagangan berubah. Saat rantai pasok terganggu, pasar jadi terbuka karena pemasok terkendala,” kata Santoso.
Kondisi seperti itu memungkinkan Indonesia untuk mengisi celah-celah tersebut di beberapa tujuan ekspor, tambahnya.
Pemerintah sedang memetakan negara-negara yang relatif tidak terdampak konflik geopolitik sebagai pasar ekspor baru yang potensial, guna membantu pelaku usaha dalam negeri tetap dapat ekspansi meski ada gangguan perdagangan global.
Santoso menyebut Kementerian Perdagangan juga akan berkoordinasi dengan para eksportir untuk mengidentifikasi kendala teknis yang mereka hadapi.
“Kami akan bertemu eksportir untuk mencari tau di mana letak masalahnya,” ujarnya.
Dia menunjuk negara-negara Asia Tenggara dan Afrika sebagai pasar alternatif yang potensial, dan mengatakan pemerintah akan mengintensifkan program business-matching untuk menghubungkan eksportir Indonesia dengan pembeli di wilayah-wilayah tersebut.
Berita terkait: GAPKI sees zero tariff lifting US palm oil sales
Berita terkait: Indonesia’s US trade tariff trimmed to 15 percent, says minister
Penerjemah: Aria, Kenzu
Editor: Anton Santoso
Hak Cipta © ANTARA 2026