Data survei baru menunjukkan bahwa generasi baby boomer, yang sering dianggap lebih hemat, ternyata lebih boros dalam beberapa kategori pengeluaran dibanding generasi muda. Kebiasaan ini bisa berbahaya bagi banyak orang di kelompok ini yang kondisi keuangannya sebenarnya rentan.
Secara spesifik, baby boomer lebih sering membuang makanan sisa atau kadaluarsa, lupa mematikan alat listrik, membeli barang merek mahal di toko, dan membeli tiket lotre. Padahal, harga-harga seperti makanan dan listrik terus naik setiap tahun.
Menurut perencana keuangan, pengeluaran kecil yang terus berulang bisa menggerakkan tabungan pensiun selama 20-30 tahun. Bahkan rumah tangga dengan aset cukup tetap harus berhati-hati.
Boomer lebih sering boros saat belanja di toko atau saat liburan, biasanya karena tergiur diskon. Sementara generasi muda seperti milenial dan Gen Z lebih sering boros belanja online larut malam.
Meski punya kebiasaan boros, boomer tetaplah kohor terkaya dalam sejarah AS. Banyak dari mereka yang diuntungkan oleh kondisi ekonomi pasca perang, pendidikan terjangkau, dan kenaikan harga properti. Namun, kekayaan itu tidak merata. 10% rumah tangga boomer teratas menguasai 71% dari total kekayaan generasi itu.
Kesenjangan ini berarti kebiasaan boros bisa sangat berdampak bagi banyak boomer. Sebagian mungkin punya rumah lunas dan portofolio kuat, tetapi banyak lainnya hanya mengandalkan tunjangan sosial dengan margin keuangan yang sangat tipis.
Banyak boomer yang merasa dirinya tidak pernah boros. Tapi, pemborosan bisa muncul dalam bentuk lain, seperti membuang bahan makanan yang tidak terpakai atau belanja dalam jumlah besar di toko grosir lalu membuang sebagiannya.
Kebiasaan boros menjadi berbahaya saat mulai mempengaruhi keamanan finansial. Data menunjukkan sepertiga boomer harus menggunakan tabungan darurat mereka dalam setahun terakhir, dan 16% di antaranya tidak punya tabungan darurat sama sekali.
Untuk menghindari pemborosan, boomer bisa mulai melacak dan menganalisa pengeluaran, serta mengurangi belanja yang tidak meningkatkan kualitas hidup. Latar belakang mereka yang dibesarkan oleh orang tua yang hidup di masa sulit bisa membentuk sikap hemat yang ekstrem, atau justru sebaliknya.