Jakarta (ANTARA) –
Manajer investasi negara Danantara sedang mempelajari opsi pembiayaan untuk membeli 50 pesawat Boeing bagi maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia di bawah perjanjian dagang bilateral dengan Amerika Serikat, ungkap pejabat di Jakarta, Kamis.
Rencana ini, yang masih dalam tinjauan teknis, bertujuan memperkuat armada Garuda di tengah ketatnya pasokan pesawat global. Jadwal pengiriman, tipe pesawat, dan struktur pendanaan masih dalam negosiasi, kata Direktur Utama Pengelolaan Pemangku Kepentingan Danantara Indonesia, Rohan Hafas.
“Secara teknis, kami siap beli 50 pesawat, tapi Boeing belum konfirmasi berapa unit yang bisa dikirim, apakah 10, 20, atau lebih,” ujar Rohan dalam wawancara kelompok eksklusif di kantor pusat Danantara di Jakarta.
Satu tantangan utama adalah waktu pengiriman, yang bisa memakan waktu hingga tujuh tahun karena antrean produksi global. Rohan mengatakan Indonesia mencari alternatif lebih cepat tetapi mengakui keterlambatan serupa juga dialami maskapai di seluruh dunia.
Pendanaan mungkin melibatkan beberapa skema, termasuk kredit pemasok dan pembayaran cicilan langsung ke Boeing.
“Sumber dana bisa beragam, termasuk kredit supplier, yang memungkinkan pembayaran mencicil. Semua ini akan tergantung dari negosasi ke depan,” jelas Rohan.
Danantara juga memberi sinyal kemungkinan tambahan suntikan modal ke Garuda untuk mendukung ekspansi armada. Pada pertengahan 2025, PT Danantara Asset Management mengalokasikan Rp23,67 triliun untuk memperkuat struktur modal maskapai itu.
Rohan menyatakan konsolidasi di antara maskapai domestik masih dipertimbangkan untuk meningkatkan efisiensi armada, mengingat waktu pengiriman pesawat yang lama dan tuntutan operasional yang meningkat di rute domestik dan regional.
Rencana pembelian ini mengikuti perjanjian dagang yang ditandatangani pekan lalu antara Indonesia dan Amerika Serikat berjudul “Menuju Masa Keemasan Baru untuk Aliansi AS-Indonesia”, yang mencakup komitmen dagang timbal balik.
Berdasarkan kesepakatan, Indonesia diwajibkan membeli pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan senilai US$13,5 miliar dari pemasok AS.
“Dalam perjanjian tarif timbal balik ini, beberapa kegiatan melibatkan Kementerian Investasi dan Danantara, termasuk rencana pembelian 50 pesawat Boeing,” kata Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers virtual dari Washington, D.C., pada 20 Februari.
Berita terkait: Danantara targetkan perusahaan induk maskapai negara baru pada semester I 2026
Berita terkait: 50 pesawat Boeing baru untuk Garuda dalam kesepakatan bersejarah Indonesia-AS: Prabowo
Penerjemah: Muhammad Heriyanto, Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026