Di Balik Puncak AI India: Penipuan Robot, Kemacetan Parah, Unjuk Rasa Tanpa Baju, dan Bill Gates yang Tak Hadir

Yoshua Bengio, seperti banyak peserta di Konferensi AI Impact India, datang telat.

Jam 6 sore, jalanan New Delhi terlalu macet sampai bapak pionir deep learning yang dijuluki "bapak baptis" AI ini gagal sampai di acara bahas laporan Keamanan AI Internasional yang dia pimpin. Akhirnya dia memberi sambutan lewat video yang buram ke grup yang kumpul di Kedubes Kanada.

"Kami terjebak macet selama 45 menit," jelas Bengio sambil minta maaf. Dia bilang harus cari jalan lain biar nggak ketinggalan makan malam sama Perdana Menteri India. Bengio akhirnya bisa sampai ke makan malamnya, tapi Sara Hooker, CEO Adaptation Labs, nggak segampang itu.

"[Aku] terjebak macet waktu balik ke venue setelah ganti baju untuk acara gala," kata Hooker di media sosial. "Aku sangat terhormat diundang. Tapi setelah 4 jam di macet, aku juga merasa terhormat bisa makan room service yang enak sekali jam 11 malam."

Kekacauan logistik ini jadi gambaran pas untuk seminggu penuh pengumuman investasi, diplomasi internasional yang mentok, dan orang-orang yang terjebak macat beneran. Konferensi AI Impact India adalah yang keempat setelah yang diadakan di Bletchley Park (Inggris), Seoul, dan Paris, dan yang pertama diadakan di Global South. Lebih dari 20 kepala negara, CEO perusahaan AI terkemuka, dan delegasi dari 80+ negara kumpul di New Delhi dengan harapan bisa bikin jalan untuk negara-negara menengah memengaruhi zaman AI, dan pastikan manfaat teknologi nggak cuma dinikmati segelintir perusahaan AS dan China.

Konferensi ini berhasil menghasilkan deklarasi diplomasi yang diikuti 88 negara dan organisasi internasional untuk komit pada pengembangan AI yang inklusif. Juga ada seperangkat komitmen tata kelola sukarela untuk perusahaan AI terdepan dan diumumin investasi lebih dari $200 miliar. Tapi eksekusinya kadang kacau balau.

MEMBACA  MA Tolak Kasasi Crazy Rich Helena Lim dalam Kasus PT Timah, Vonis 10 Tahun Penjara Tetap Dijatuhkan (Tata letak yang lebih rapi dan profesional dengan pemilihan kata formal sesuai konteks hukum)

Kekacauan yang Terorganisir

Dari hari pertama sudah jelas eksekusi konferensi nggak akan sesuai ambisinya yang tinggi. New Delhi terkenal macetnya parah, tapi peserta cepat belajar: kalau ada kepala negara atau pemimpin bisnis penting yang perlu lewat, polisi akan tutup jalan sepenuhnya biar para VIP bisa cepat melintas. Praktek yang disebut "pergerakan VIP" ini mungkin oke kalau cuma satu dua VIP di kota, tapi bikin macet berjam-jam kalau puluhan kepala negara dan CEO global dateng sekaligus buat konferensi. Akibatnya, pembicara, delegasi, dan jurnalis terdampar di penjuru kota, sering ketinggalan rapat dan acara.

Ada momen lucu lain, tamu hotel yang nunggu di lobi Hotel Imperial Delhi digiring ke koridor sempit biar jalan buat VIP yang mau masuk — tapi kemudian penjaga keamanan lain datang lari, protes kalau dua orang pria yang sekarang terjepit di koridor itu adalah VIP-nya dari Amerika yang harus ke tempat lain. (Protests ini nggak didengerin dan nggak ada yang bergerak selama setidaknya 10 menit.)

Penutupan jalan berdampak paling buruk buat delegasi. Beberapa peserta cerita harus jalan berkilo-kilometer di Delhi abis dari konferensi, nggak ada taksi dan nggak ada layanan antar-jemput.

Venue utama konferensi juga terlalu penuh dan kacau. Orang-orang mengeluh antrian panjang, ruangan terlalu padat, infrastruktur komunikasi jelek, dan kebijakan masuk yang aneh dan sering berubah-ubah. Satu peserta bilang dia lewat macet 3 jam cuma buat nunggu di antrian masuk selama 2 jam lagi. Banyak yang protes soal "budaya VIP" di konferensi yang bikin orang merasa seperti warga negara kelas tiga.

Perangkat Dicuri, Protes Tanpa Baju, dan Robot Anjing Palsu

MEMBACA  Jumlah serangan terbesar berhasil ditahan di garis depan Marinka dan Avdiivka pada hari Sabtu

Di hari pertama, para pamerang juga bilang mereka diusir dari venue tiba-tiba sekitar siang hari buat nampung kunjungan dari PM India Narendra Modi. Gerbang lalu ditutup buat peserta baru dan yang mau balik sampai sekitar jam 6 sore, bikin ricuh di luar venue dan memicu ketegangan antara peserta yang nggak sabar dan polisi.

Dhananjay Yadav, pendiri perusahaan wearable AI India NeoSapien, kehilangan teknologi pamerannya dari aula pameran waktu kekacauan itu. Dia cerita ke Fortune kalau sebelum pergi, dia dapat jaminan itu zona aman, tapi pas relawan mau ambil barangnya setelah gerbang dibuka lagi jam 6:30 sore, perangkatnya sudah hilang.

"Itu mengecewakan," kata Yadav. "Cukup disayangkan mengingat usaha aku untuk acara ini." (Dia kemudian bilang polisi Delhi nemuin lagi perangkatnya setelah lihat rekaman CCTV.)

Itu bukan satu-satunya drama di aula ekspo, yang juga jadi tempat protes tanpa baju dan, dalam cerita yang lebih aneh, argumen soal robot anjing palsu. Staf universitas India, Galgotias, terlihat memamerkan robot anjing buatan China yang dijual bebas seolah-olah ciptaan mereka sendiri di stan. Sumber pemerintah konfirmasi ke Fortune kalau mereka minta universitas itu meninggalkan lokasi setelah hal ini ketahuan.

Hal lain yang bikin geleng-geleng peserta adalah kurangnya wi-fi dan sinyal ponsel yang spotty. Bharat Mandapam, venue utama untuk pembicara dan panel, memang sinyalnya nggak stabil biasa saja, apalagi kalau diisi ratusan delegasi. Anehnya, venue juga larang bawa barang seperti kunci, laptop, kosmetik, dan earphone. Aturan ini diberlakukan dengan tingkat ketat yang berbeda-beda sepanjang minggu, tapi beberapa jurnalis mengeluh harus berdebat sama staf keamanan cuma buat bawa barang biasa seperti laptop dan kosmetik.

MEMBACA  Cardiol Therapeutics mengumumkan penawaran saham publik oleh Investing.com

Pembicara yang Hilang

Konferensi ini juga punya masalah jadwal. Beberapa pembicara mengeluh waktu dan lokasi acara nggak dikomunikasikan dengan cukup awal, dan beberapa panel berjalan dengan setidaknya satu pembicara yang nggak hadir.

Konferensi kehilangan dua pembicara utama — Jensen Huang dan Bill Gates — dengan pemberitahuan yang sangat mendadak. CEO Nvidia, Huang, membatalkan pidatonya beberapa hari sebelumnya. Manajer Direktur Nvidia untuk Asia Selatan, Vishal Dhupar, menyebutkan sakit sebagai alasannya. Perusahaan akhirnya mengirim eksekutif senior, Jay Puri, untuk memimpin delegasi mereka menggantikan Huang.

Bill Gates juga mundur hanya beberapa jam sebelum pidato utamanya. Yayasan Gates mengatakan keputusan ini agar fokus tetap pada prioritas utama konferensi AI. Pengunduran diri ini mengejutkan karena yayasan sebelumnya mengkonfirmasi kehadirannya. Beredar rumor sepanjang minggu itu tentang hubungannya dengan Jeffrey Epstein, yang baru-baru ini kembali jadi sorotan. Departemen Kehakiman AS merilis email yang menunjukkan kontak antara staf Yayasan Gates dan Epstein. Gates tetap menyatakan bahwa hubungannya dengan Epstein hanya terbatas pada urusan amal, dan bertemu dengannya adalah sebuah kesalahan.

Momen lain yang canggung dan menjadi viral adalah ketika CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei menolak berpegangan tangan untuk foto bersama yang direncanakan sebagai simbol persatuan. Di konferensi yang bertema kerjasama global tentang AI, dua orang paling berpengaruh di industri ini ternyata enggan untuk bersentuhan.

Tinggalkan komentar