NEW YORK (AP) — Pasar saham AS ditutup tenang pada Selasa, tapi sebenarnya ada banyak perubahan besar di dalamnya. Banyak perusahaan bilang pelanggan mereka merasa tidak semangat, dan beberapa saham teknologi masih merasakan efek buruk dari ledakan AI (kecerdasan buatan).
Indeks S&P 500 naik 0,1% setelah sebelumnya bergerak antara kenaikan 0,5% dan penurunan hampir 1%. Dow Jones Industrial Average bertambah 32 poin, atau 0,1%, dan Nasdaq composite dapat 0,1%.
Paramount Skydance naik 4,9% setelah Warner Bros. Discovery kasih kesempatan ke Paramount untuk kasih tawaran terbaik buat beli perusahaan hiburan itu. Paramount sedang coba nawarin harga lebih tinggi daripada Netflix.
Warner Bros. Discovery naik 2,7%, dan Netflix tambah 0,2%.
Di sisi lain, General Mills turun 7% setelah peringatin bahwa pelanggannya merasa khawatir. Perusahaan di belakang merek Cheerios, Nature Valley, dan Pillsbury itu turunin prediksi keuntungan untuk tahun 2026, bilang penurunannya mungkin lebih tajam dari perkiraan sebelumnya.
Beberapa survei terbaru tunjukkan kepercayaan rendah di rumah tangga AS, yang lagi susah karena inflasi masih tinggi, pasar kerja yang kurang bagus tahun lalu, dan kekhawatiran soal tarif.
Genuine Parts, yang jual suku cadang mobil dan industri, bilang mereka juga hadapi “lingkungan yang dinamis” sambil laporkan hasil kuartal terakhir yang lebih lemah dari perkiraan analis.
Mereka rencana pecah jadi dua perusahaan terpisah yang diperdagangkan publik di awal 2027, satu fokus ke parts mobil dan lainnya ke parts industri. Saham Genuine Parts jatuh 14,6%.
Penurunan beberapa saham Big Tech jadi beban terberat di pasar hari Selasa, termasuk Alphabet yang turun 1,2%.
Tapi pergerakannya masih ragu-ragu, dan Nvidia bergerak antara jadi beban terberat pasar dan jadi salah satu pendorong terkuat.
Menurut Sameer Samana dari Wells Fargo Investment Institute, pasar perlu perusahaan Big Tech seperti ini stabil dan “perlu lihat lebih sedikit perilaku jual dulu dari investor.”
Minggu lalu, Wall Street gempar ketika saham perusahaan software dan lainnya jatuh karena investor cari perusahaan yang bisa jadi korban kalau AI ubah dunia dan industri mereka.
“Secara keseluruhan, pasar masih dekat dengan rekor tertinggi, tapi mungkin beberapa investor nggak kerasa karena ada penurunan tajam yang batalin kenaikan hampir segera setelah dimulai,” kata Chris Larkin dari E-Trade by Morgan Stanley.
Pasar melihat perubahan drastis dari tahun sebelumnya, ketika janji AI bantu dorong indeks saham AS ke rekor terus. Sekarang, perusahaan di industri macam-macam seperti software, jasa hukum, dan pengangkutan tiba-tiba ditolak investor saat ada kekhawatiran pesaing pakai AI bisa curi pelanggan mereka.
Perusahaan yang keluar duit banyak buat AI juga merasa tekanannya.
Manajer dana global bilang mereka khawatir perusahaan keluarkan terlalu banyak uang buat pusat data dan chip AI. Perusahaan-perusahaan itu perlu lihat keuntungan dan produktivitas besar buat bikin investasi mereka worth it. Contohnya, Alphabet bilang pengeluaran untuk AI dan investasi lain bisa dua kali lipat tahun ini, jadi sekitar $180 miliar.
Survei Bank of America ke manajer dana global temukan persentase rekor bilang perusahaan “terlalu banyak investasi.” Itu bisa berarti nanti ada pengurangan pengeluaran untuk chip dari Nvidia dan perusahaan lain.
Secara total, S&P 500 tambah 7,05 poin ke 6.843,22. Dow Jones Industrial Average naik 32,26 ke 49.553,19, dan Nasdaq composite dapat 31,71 ke 22.578,38.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury relatif stabil.
Imbal hasil Treasury 10 tahun naik dikit ke 4,05% dari 4,04% di Jumat sore.
Di pasar saham luar negeri, indeks naik di Eropa setelah hari tenang di Asia, di mana kebanyakan pasar tutup untuk libur Tahun Baru Imlek.
Nikkei 225 Jepang turun 0,4%. Data ekonomi lemah dari Jepang kayanya bebanin pasar, dan penurunan 5,1% untuk raksasa teknologi SoftBank Group juga turunin saham. Penurunan ini terjadi setelah kenaikan besar setelah pemilihan umum 8 Feb lalu buka jalan buat partai berkuasa Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk teruskan kebijakan bantu ekonomi.
___
Kontribusi dari Penulis Bisnis AP Yuri Kageyama dan Matt Ott.