Selasa, 17 Februari 2026 – 10:32 WIB
Madinah, VIVA – Nama Taqy Malik lagi ramai dibicarakan di dunia maya setelah ada tuduhan tentang penggelembungan harga dalam program wakaf mushaf Al-Quran yang dikirim ke Makkah dan Madinah.
Isu ini muncul setelah seorang WNI yang tinggal di Arab Saudi, Randy Permana, menyampaikan kritiknya lewat media sosial. Scroll lebih lanjut yuk!
Lewat akun Instagram @paparich666, Randy mempertanyakan harga mushaf yang katanya sampai 80 riyal. Dia bilang, selama lima tahun bolak-balik tinggal di Arab Saudi, gak pernah nemu harga mushaf setinggi itu, bahkan pas musim haji atau Ramadhan.
“Selama ane 5 tahun bolak-balik di Saudi, gak pernah nemu harga mushaf/Quran di Mekah Madinah seharga 80 riyal (mau musim haji/Ramadan apapun kek). Antum penyalur wakaf atau jualan wakaf?” kata Randy Permana.
Gak cuma itu, Randy juga bandingin harga mushaf yang dijual di toko-toko sana dengan harga yang dikaitkan sama program wakaf Taqy Malik.
“Dia menjual mushaf dengan harga Rp 330 ribu. padahal harga di toko rata-rata 40-50 riyal (sekitar Rp 180 ribu-Rp 200 ribu). Selisih keuntungannya lebih banyak ketimbang harga mushafnya,” jelas Randy Permana.
Nanggapi tuduhan itu, Taqy Malik akhirnya kasih klarifikasi lewat unggahan di akun Instagram pribadinya. Dia tekadain kesiapannya untuk buka ruang dialog secara terbuka demi meluruskan masalah yang berkembang.
“Melalui pernyataan ini, dengan segala kerendahan hati, saya mengundang Saudara Rendy Eka Permana dan semua pihak yang melontarkan tuduhan terkait saya untuk hadir dalam forum tabayyun secara terbuka (LIVE melalui platform Instagram dan di publikasi secara terbuka), bermartabat, dan penuh tanggungjawab, terkait amanah wakaf mushaf dan persoalan lain yang dilontarkan,” tulis Taqy Malik di Instagram.
Dia tekankan bahwa langkah ini bukan untuk cari pembenaran pribadi, tapi untuk jaga amanah dan kepercayaan umat.
“Ini bukan tentang mencari pembenaran, melainkan menghadiri kebenaran. Ini bukan tentang menyerang, melainkan menjaga amanah. Dan ini bukan tentang opini, melainkan pertanggungjawaban di hadapan manusia, dan terlebih lagi di hadapan Allah SWT,” jelas Taqy Malik.
“Saya membuka ruang ini dengan niat baik, agar segala hal menjadi terang, agar tidak ada syubhat yang tersisa, dan agar kepercayaan umat tetap berdiri atas kejelasan, (bukan asumsi atau tuduhan liar semata),” sambungnya.
Halaman Selanjutnya