Trump Ancam Iran dengan ‘Sesuatu yang Sangat Keras’ jika Tuntutan AS Tak Dipenuhi

Dengarkan artikel ini | 4 menit

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus mengancam Iran dengan kemungkinan serangan militer jika Teheran tidak memenuhi tuntutannya dalam berbagai isu, mulai dari pengayaan nuklir hingga rudal balistik.

Dalam komentarnya kepada saluran Israel, Channel 12, yang diterbitkan pada Selasa, Trump mengisyaratkan tindakan agresif jika tidak tercapai kesepakatan dengan Iran.

Artikel Rekomendasi

“Antara kita mencapai kesepakatan, atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras,” kata Trump kepada outlet berita tersebut.

Pernyataan ini muncul ketika kepala keamanan Iran, Ali Larijani, bertemu dengan Sultan Oman, Haitham bin Tariq Al Said, untuk membahas hasil pembicaraan antara pejabat AS dan Iran pekan lalu.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump menyoroti peningkatan kekuatan militer AS di kawasan tersebut, dengan mengirimkan “armada besar” ke perairan terdekat. Pengerahan itu termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln.

Channel 12 dan outlet berita Axios melaporkan pada Selasa bahwa Trump juga mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah.

Peningkatan kekuatan militer itu memicu kekhawatiran akan serangan AS yang bakal terjadi terhadap Iran. Para pengkritik khawatir serangan semacam itu dapat menggoyahkan stabilitas kawasan.

Bahkan, pada Senin, AS telah mengeluarkan panduan kepada kapal-kapal komersial berbendera AS, memperingatkan mereka untuk tetap berada “sejauh mungkin” dari perairan teritorial Iran.

‘Dengan Kecepatan dan Kekerasan’

Sejak Januari, Trump meningkatkan tekanan AS terhadap Iran, memperingatkan bahwa militer negaranya “telah siap dan siaga untuk bertindak”.

Trump juga membandingkan situasi Iran dengan Venezuela, di mana operasi militer AS pada 3 Januari berujung pada penculikan dan penggulingan Presiden Nicolas Maduro.

“Seperti di Venezuela, [militer AS] siap, bersedia, dan mampu melaksanakan misinya dengan cepat dan keras, jika diperlukan. Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan merundingkan kesepakatan yang adil dan setara,” tulis Trump di media sosial pada 28 Januari.

MEMBACA  Apa yang Harus Diketahui saat Konflik Israel-Hezbollah Memanas

Akhir bulan lalu, administrasinya mengeluarkan tiga tuntutan utama. Tuntutan itu mencakup penghentian pengayaan uranium Iran, permintaan untuk memutus hubungan dengan kelompok proxy regional, dan pembatasan atas stok rudal balistik negara itu—sebuah tujuan yang telah lama diupayakan oleh Israel.

Selama masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari kesepakatan 2015 yang memberlakukan pembatasan ketat pada aktivitas nuklir Iran, sebagai ganti keringanan sanksi.

Kini, Trump telah melanjutkan kampanye “tekanan maksimum”-nya terhadap Iran sejak menjabat untuk periode kedua pada Januari 2025.

Kampanye itu mencakup sanksi berat dan tekanan untuk membongkar program nuklir Iran, yang oleh Teheran dinyatakan hanya untuk tujuan energi sipil.

Bahkan, pada Juni lalu, Trump mengotorisasi serangan militer terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, sebagai bagian dari perang 12 hari antara Iran dan Israel.

Fokus pada Protes Antipemerintah

Ancaman terbaru Trump pada Januari bertepatan dengan gelombang protes antipemerintah yang baru-baru ini terjadi di Iran.

Pemerintah di Teheran menanggapi demonstrasi itu dengan tindakan keras yang dilaporkan menewaskan ribuan orang, memicu kecaman luas dari kelompok-kelompok hak asasi.

Laporan menemukan bahwa pasukan keamanan negara menembaki kerumunan demonstran saat negara tersebut mengalami pemadaman internet.

Pada 2 Januari—sehari sebelum operasi militernya di Venezuela—Trump mengancam akan campur tangan membela para pengunjuk rasa dan “datang menyelamatkan mereka”, meskipun pada akhirnya ia tidak melakukannya.

Beberapa analis menunujukkan bahwa serangan yang diusulkan terhadap Iran sedikit sekali membantu para pengunjuk rasa, tetapi akan selaras dengan tujuan AS dan Israel yang sudah lama berlangsung untuk mengurangi kapasitas militer Iran.

Pemerintah Iran berargumen bahwa protes tersebut mencakup target kekerasan terhadap pasukan keamanan oleh kelompok bersenjata, yang mengakibatkan tewasnya ratusan aparat. Mereka juga menuduh kekuatan asing seperti AS dan Israel mendukung demonstrasi antipemerintah itu.

MEMBACA  Modi Janjikan Rp9 Triliun untuk Maldives untuk Tingkatkan Infrastruktur | Berita Politik

Rincian seputar protes dan tindakan keras terhadapnya masih sulit diverifikasi, tetapi pejabat Iran mengakui bahwa respons pemerintah menewaskan ribuan orang.

Tinggalkan komentar