Pembeli Tiongkok Gandrungi Gaya ‘Old Money’ Disney Zootopia dan Ralph Lauren di Tengah Gelora Nasionalisme

Di Cina, gaya hidup konsumerisme terlihat lebih kuat daripada nasionalisme. Ini terlepas dari hubungan yang tegang dengan negara seperti Jepang dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Biasanya, Partai Komunis berusaha membangkitkan sentimen nasionalis dan menyebarkan propaganda melawan negara yang dianggap melanggar posisi Cina, seperti soal Taiwan. Terkadang, perusahaan asing yang dianggap salah langkap jadi target.

Dulu, ketegangan dengan Jepang atau AS sering memicu boikot besar, protes, atau perusakan. Sekarang, nasionalisme murni tidak terlalu berpengaruh pada konsumen Cina yang lebih mementingkan pilihan pribadi mereka.

"Konsumen Cina, terutama kelas menengah perkotaan dan generasi muda, tidak membeli barang sehari-hari hanya berdasarkan nasionalisme," kata Jacob Cooke, CEO konsultan WPIC Marketing + Technologies.

Produk Jepang Masih Laku Meskipun Ada Ketegangan

Cina marah saat Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan bahwa serangan ke Taiwan mungkin memerlukan intervensi militer Tokyo. Pemerintah Cina membatasi beberapa perdagangan dan memperingatkan warganya untuk tidak berkunjung ke Jepang.

Meski begitu, restoran sushi Jepang "Sushiro" tetap ramai pengunjung saat dibuka di Shanghai Desember lalu. Rantai sushi berjalan ini sangat sukses sejak masuk ke Cina tahun 2021.

"Rasanya enak. Kualitas bahannya terjamin," kata Edith Xiao (23), mahasiswa yang mengantri lebih dari setengah jam di sebuah Sushiro di Beijing. Dia juga penggemar manga dan anime Jepang "Chiikawa".

Menurutnya, hubungan politik Cina-Jepang tidak mempengaruhi konsumsi budaya atau makanan Jepangnya. "Itu cuma pernyataan pemimpin. Tidak mewakili perubahan sikap rakyat biasa," jelasnya.

Budaya Amerika Juga Tetap Menarik

Ketegangan antara pemerintah Cina dan AS soal tarif dan Taiwan juga tampak tidak membuat merek Amerika dihukum oleh konsumen Cina.

Film Disney "Zootopia 2" sangat laris di Cina dan menjadi film Hollywood berpenghasilan tertinggi sepanjang masa di sana, dengan pendapatan lebih dari 4.4 miliar yuan.

MEMBACA  Deutsche menurunkan target saham WNS sambil menurunkan perkiraan pertumbuhan FY25Deutsche menurunkan target saham WNS sambil menurunkan perkiraan pertumbuhan FY25 menurut Investing.com

Meski pemerintah mendorong film lokal, penonton Cina menyambut film asing sebagai pelarian. "Ceritanya lucu sekali," kata Ruan Wenlin yang menonton film itu di Beijing.

Banyak konsumen Cina lelah dan cemas karena COVID dan ekonomi yang lemah. "Mereka menonton film Hollywood, terutama kartun seperti Zootopia, untuk relaksasi," kata Shaun Rein dari China Market Research Group.

Merek fashion asal New York, Ralph Lauren, juga semakin disukai kelas menengah Cina yang mengutamakan kualitas dan nilai. Penjualannya di Cina tumbuh lebih cepat daripada di Eropa atau Amerika Utara.

"Mereka berhasil karena benar-benar memenuhi kebutuhan konsumen, bukan hanya karena asal negaranya," kata Cooke dari WPIC.

Pola yang Berubah: Tren ‘Belanja Patriotik’ Bergeser

Tren ‘guochao’ atau belanja merek lokal karena nasionalisme, telah berkembang. Kini banyak konsumen nyaman dengan merek asing maupun domestik.

"Orang Cina sudah berhenti membeli hanya demi membeli merek Cina," kata Rein. Mereka akan beli merek apa saja, domestik atau asing, yang sesuai dengan nilai dan gaya hidup mereka.

Sentimen nasionalis sekarang kurang pengaruhnya dibanding sepuluh tahun lalu. Dulu, protes anti-Jepang bisa sampai merusak mobil dan restoran Jepang. Pada 2021, merek seperti Nike juga diboikot terkait isu politik.

Baru-baru ini, kontroversi seperti acara kartu Pokemon di kuil Jepang memang memicu kemarahan di media sosial Cina, tapi tidak ada dampak luas yang jelas.

"Kita mungkin salah paham jika berpikir semua konsumen Cina mengikuti arahan Beijing untuk meninggalkan pengaruh asing. Geopolitik tidak selalu mengatur arus bisnis di tingkat lokal," kata Yaling Jiang, analis konsumen independen. Konsumen seringkali mencampur merek sesuai selera mereka sendiri.

Tapi Tetap Ada Batasnya

Kemajuan merek Cina yang kuat menjadi tantangan besar bagi perusahaan asing. Dari mobil listrik hingga ponsel pintar, perusahaan lokal cepat mendapatkan pangsa pasar.

MEMBACA  Judul: Kasus Korupsi Chromebook, Wajah 3 Staf Nadiem Makarim dengan Rompi Merah Muda (Penulisan lebih rapi dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.)

"Orang Cina akan pilih merek Cina jika lebih baik, lebih bernilai, dan harganya lebih bagus," kata Rein.

Setelah pemerintah menganjurkan untuk tidak ke Jepang, karyawan BUMN dan agen perjalanan menuruti. Ratusan penerbangan dan tur grup ke Jepang dibatalkan.

Jumlah pengunjung Cina ke Jepang turun 45% pada Desember. Namun, banyak warga Cina tetap pergi ke Jepang secara individu, meski dengan profil rendah di media sosial.

___
Kantor berita AP di Beijing berkontribusi pada laporan ini.

Tinggalkan komentar