Kamis, 5 Februari 2026 – 15:56 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei harus "sangat khawatir". Peringatan ini muncul saat kedua pihak bersiap untuk negosiasi formal pertama mereka sejak AS menyerang program nuklir Teheran tahun lalu.
Baca Juga:
Xi Jinping Telepon Trump: AS Hati-hati Jual Senjata ke Taiwan
Ketegangan antar dua negara ini meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Pemicunya adalah tindakan keras pasukan keamanan Iran terhadap demonstran anti-pemerintah. Hal ini mendorong Trump untuk mengirim armada militernya ke kawasan tersebut dan mengancam akan melakukan serangan.
Militer Iran sudah memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan tanggapan yang cepat dan tegas, termasuk menyerang pasukan dan aset Amerika di wilayah tersebut.
Baca Juga:
AS-Iran Pastikan Perundingan Nuklir Digelar di Oman Jumat Ini
"Saya akan bilang bahwa dia harus sangat khawatir. Ya, dia seharusnya khawatir," kata Trump kepada NBC News dalam sebuah wawancara pada Rabu, 4 Februari 2026.
Trump, yang pertama kali mengancam akan menyerang Iran saat protes jalanan bulan lalu, mengatakan tindakannya telah mendukung para demonstran, meski tidak dengan tindakan langsung.
Baca Juga:
Pelaku Percobaan Pembunuhan Trump di Lapangan Golf Divonis Penjara Seumur Hidup
Perundingan penting ini dijadwalkan akan berlangsung pada Jumat di Muscat, ibu kota Oman. Pertemuan akan melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, menurut kantor berita Tasnim yang dekat dengan pemerintah Iran.
Namun, keduanya tampaknya punya agenda yang berbeda. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa pemerintahan Trump ingin fokus negosiasi tidak hanya pada program nuklir, tetapi juga pada rudal balistik Iran, dukungannya kepada kelompok teroris di kawasan, dan perlakuan terhadap rakyatnya sendiri.
Sementara itu, mengutip kementerian luar negeri Iran, Tasnim melaporkan bahwa negosiasi akan dibatasi hanya pada program nuklir dan pencabutan sanksi sebagai tuntutan utama Iran.
Iran dan AS sebelumnya telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan nuklir tidak langsung pada April dan Mei 2025. Namun, pembicaraan lebih lanjut dibatalkan setelah serangan mendadak Israel terhadap Iran pada pertengahan Juni. Beberapa hari kemudian, serangan AS ke Iran pun terjadi, yang secara efektif mengakhiri proses perundingan waktu itu.
Halaman Selanjutnya
Iran Ingin Hidupkan Kembali Program Nuklir