Sabtu, 31 Januari 2026 – 14:25 WIB
Jakarta, VIVA – Harga Bitcoin (BTC) melemah dibawah US$90.000. Hal ini terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) merilis pernyataan FOMC yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75%. Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar, tetapi tetap memicu respon negatif terhadap aset berisiko seperti kripto.
Baca Juga :
Bangun Brand Mobilitas Listrik Global dari Indonesia, Intip Strategi Ofero Perkuat Ekspansi Bisnis
Wakil Presiden Indodax, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter yang sudah diantisipasi sebelumnya.
“Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum memberikan dorongan baru bagi pasar,” kata Antony dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026).
Baca Juga :
PBNU Luncurkan NU Harvest Maslaha, Gus Yahya: Investasi Syariah Jaga Amanah
Berdasarkan data pasar global, Bitcoin sempat naik di atas US$90.000 sehari sebelumnya pada Rabu (28/1). Kenaikan ini didorong pernyataan Presiden AS Donald Trump yang tidak khawatir dengan pelemahan dolar AS. Di sisi lain, arus dana institusional tampak lebih hati-hati, terlihat dari arus keluar dana dari produk spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat senilai US$147,37 juta.
Antony menekankan bahwa volatilitas jangka pendek setelah pengumuman kebijakan moneter adalah pola yang sering terjadi di pasar kripto global.
Baca Juga :
Harga Bitcoin Tiarap, Michael Saylor Serok 2.932 Koin Bikin Cadangan Strategy Gendut
“Peristiwa seperti FOMC sering menjadi momen evaluasi bagi investor. Pergerakan harga yang terjadi mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang sudah dikonfirmasi,” lanjutnya.
Di sisi lain, ada sentimen positif dari adopsi pemerintah dan institusional. Negara bagian AS, South Dakota, secara resmi mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk membentuk cadangan Bitcoin (Bitcoin Reserve) yang berasal dari pendapatan pemerintah. Melalui aturan ini, South Dakota berpotensi mengalokasikan sampai 10% dari total dana kelolaannya ke Bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan aset.
Antony menilai langkah tersebut menunjukkan penguatan fundamental Bitcoin diluar pergerakan harga jangka pendek. “Di tengah koreksi saat ini, ada perkembangan positif yang perlu dicermati investor. Adopsi Bitcoin di level pemerintah dan institusional menunjukkan fundamental Bitcoin terus berkembang, terlepas dari naik turunnya harga harian,” ujar Antony.
Halaman Selanjutnya
Menurut Antony, volatilitas di pasar kripto saat ini tidak terlepas dari tekanan geopolitik dan kebijakan moneter global. Karena itu, pelaku pasar cenderung lebih selektif dalam mengambil keputusan. Ia menyarankan agar pelaku pasar tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan faktor makroekonomi yang mempengaruhi pergerakan pasar dalam jangka pendek.