loading…
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menekankan bahwa perlindungan untuk perempuan dan lansia adalah mandat utama yang harus dijalankan oleh semua petugas haji. Foto/Nur Wijaya Kesuma
JAKARTA – Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 2026 dipastikan akan mencatat sejarah baru dalam hal perhatian kepada kelompok rentan. Pemerintah lewat Kementerian Haji dan Umrah mengusung visi "Haji Afirmatif" yang fokus pada perlindungan maksimal bagi jemaah perempuan dan orang lanjut usia.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan lansia merupakan mandat pokok yang wajib dihidupkan oleh seluruh petugas. Hal ini disampaikan Dahnil saat memimpin apel pagi dalam agenda Diklat PPIH Arab Saudi Tahun 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Dalam arahannya di depan ribuan calon petugas, Dahnil mengajak semua peserta untuk mencontoh esensi Haji Wada atau haji perpisahan Rasulullah SAW yang penuh nilai kemanusiaan.
Baca Juga: Petugas Haji 2026 Masuk Barak 3 Pekan, Wamenhaj Dahnil: Ingin Bentuk Kedisiplinan
“Kalau kita baca sejarah, kita ingat salah satu pesan utama dari Haji Wada. Dalam khutbah tersebut, Rasulullah SAW dengan tegas menyampaikan pesan kepedulian: jaga dan muliakan perempuan-perempuan kalian,” kata Wamenhaj.
Pesan luhur ini sekarang jadi landasan utama pemerintah dalam membuat kebijakan operasional. Program Haji Ramah Lansia dan Haji Ramah Perempuan bukan cuma tema lagi, tetapi afirmasi nyata yang harus dirasakan jemaah di lapangan.
Kebijakan ini mendesak karena data menunjukkan lebih dari 55 persen jemaah haji Indonesia adalah perempuan, sementara sekitar 25 persen lainnya masuk kategori lansia yang kebanyakan juga perempuan.
Fakta ini membutuhkan layanan haji yang lebih sensitif, protektif, dan punya perspektif gender yang kuat. Atas perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Haji dan Umrah memastikan haji tahun ini harus total berpihak pada kelompok-kelompok rentan tersebut untuk memberikan rasa aman dan martabat.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen ini, komposisi petugas haji tahun 2026 menunjukkan perubahan yang sangat progresif. Dahnil ungkapkan bahwa 33 persen petugas haji tahun ini adalah perempuan, jumlah terbesar sepanjang sejarah haji Indonesia.
Angka ini bukan cuma simbolik, tetapi kebutuhan mendesak untuk memastikan jemaah perempuan dan lansia dapat pendampingan yang lebih personal dan nyaman. Kehadiran “pasukan srikandi” dalam jumlah besar ini diharap bisa tutup celah kendala layanan yang sering ditemui di Tanah Suci.
Dahnil juga berharap semua peserta Diklat PPIH 2026 tidak hanya terampil dalam urusan teknis, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Haji Wada sebagai jiwa dalam setiap tindakan pelayanan.
Tujuanya adalah mewujudkan penyelenggaraan haji yang humanis, adil, dan penuh kepedulian. Dengan integritas petugas yang ditempa lewat disiplin tinggi, Kemenhaj optimis haji tahun pertama di bawah kepemimpinan baru ini akan berikan kesan mendalam bagi jemaah sebagai ibadah yang aman dan mulia.
(zik)