Laporan Oxfam: Kekayaan dan Kuasa Orang Superkaya Menganga Lebar
Organisasi bantuan internasional Oxfam merilis laporan tahunan mengenai kesenjangan yang kian melebar, dengan menyoroti kekhawatiran bahwa miliuner tidak hanya semakin kaya, tetapi juga mengukuhkan kendali mereka atas politik dan media, termasuk seluruh perusahaan media sosial.
Menurut analisis Oxfam, kekayaan kolektif miliuner melonjak $2,5 triliun pada 2025—hampir setara dengan total kekayaan yang dipegang oleh separuh populasi termiskin dunia, atau 4,1 miliar orang. Tahun lalu juga menjadi pertama kalinya jumlah miliuner dunia melebihi 3.000 orang, dan pertama kalinya orang terkaya dunia, Elon Musk, memiliki kekayaan lebih dari setengah triliun dolar.
Laporan yang dirilis bertepatan dengan pembukaan Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos ini menegaskan bahwa orang superkaya 4.000 kali lebih berpeluang memegang kekuasaan politik dibandingkan warga biasa. Oxfam juga mengutip survei yang menemukan hampir separuh responden di 66 negara meyakini orang kaya sering membeli hasil pemilu di negara mereka.
“Pengaruh besar orang superkaya terhadap politisi, ekonomi, dan media telah memperdalam ketimpangan,” ujar Direktur Eksekutif Oxfam International, Amitabh Behar. “Pemerintah seharusnya mendengarkan kebutuhan rakyat, seperti layanan kesehatan berkualitas, aksi iklim, dan keadilan pajak.”
Protes Meluas di Tengah Kesenjangan yang Berbahaya
Oxfam mencatat terdapat 142 protes signifikan ant pemerintah di 68 negara tahun lalu, yang kerap direspons dengan kekerasan oleh otoritas. “Pilihan keliru pemerintah untuk memanjakan elite dan mempertahankan kekayaan sambil menekan hak serta kemarahan rakyat, membuat hidup semakin tak terjangkau dan tak tertahankan,” tambah Behar.
Selain advokasi, Oxfam juga memberikan bantuan kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Organisasi ini termasuk di antara 37 kelompok bantuan yang dilarang Israel beroperasi di Gaza akhir tahun lalu, setelah berulang kali menyuarakan bahaya kelaparan paksa di wilayah tersebut.