Sebuah organisasi hak perburuhan mengklaim telah menemukan bukti eksploitasi pekerja di sebuah pabrik Tiongkok yang memproduksi boneka Labubu yang viral.
China Labor Watch (CLW), sebuah LSM yang berbasis di AS, menyatakan bahwa investigasinya menemukan salah satu pemasok Pop Mart mempekerjakan karyawan dengan shift lembur berlebihan, menandatangani kontrak kosong atau tidak lengkap, serta tidak memberikan cuti berbayar.
Boneka berbulu Labubu meledak popularitasnya di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir dan paling dikenal lewat penjualan mainan dalam “blind box”, yang menyembunyikan isinya dari pembeli hingga dibuka.
Pop Mart menyatakan kepada BBC bahwa mereka sedang menyelidiki klaim tersebut.
Peritel mainan yang berbasis di Beijing itu mengatakan mereka menghargai detail dari tinjauan tersebut dan akan “teguh” meminta perusahaan pembuat mainannya untuk memperbaiki praktik jika tuduhan itu terbukti benar.
Pop Mart menambahkan bahwa mereka melakukan audit rutin terhadap pemasoknya, termasuk tinjauan tahunan independen oleh pihak ketiga yang dilakukan oleh inspektur yang diakui secara internasional.
CLW menyatakan dalam laporannya bahwa mereka telah melakukan penyelidikan mendalam terhadap pembuat Labubu, Shunjia Toys Co Ltd, di provinsi Guangdong, Tiongkok selatan.
BBC belum dapat menghubungi Shunjia Toys Co Ltd untuk mendapatkan komentar.
CLW mengatakan penelitinya melakukan 51 wawancara langsung dengan karyawan pabrik tersebut untuk membahas masalah perekrutan, kontrak, dan kondisi kerja mereka.
Pabrik tersebut merupakan “fasilitas manufaktur inti” untuk mainan Pop Mart dan mempekerjakan lebih dari 4.500 pekerja, menurut CLW.
Organisasi itu menandai masalah ketenagakerjaan di pabrik Shunjia Toys Co Ltd di Kabupaten Xinfeng, termasuk jam lembur yang ilegal, praktik kontrak yang tidak jelas, serta kurangnya pelatihan dan perlindungan keselamatan.
Tidak ditemukan pekerja anak di pabrik tersebut, tetapi mereka mempekerjakan pekerja berusia 16 tahun yang dikenakan kondisi kerja sama seperti orang dewasa, tanpa perlakuan khusus yang diwajibkan oleh hukum Tiongkok, kata CLW.
Mereka mendesak Pop Mart untuk mengambil “tindakan segera” untuk menangani masalah dalam rantai pasokannya. LSM itu menyatakan perusahaan harus memberikan kompensasi kepada pekerja yang terdampak dan memastikan lini produksinya mematuhi hukum ketenagakerjaan Tiongkok serta standar perburuhan internasional.
Fasilitas semacam itu, yang disebut produsen peralatan asli (OEM), membuat produk sesuai dengan harga dan jadwal produksi yang ditetapkan oleh klien.
Labubu—makhluk fiksi mirip peri dengan deretan gigi bergerigi—telah menjadi sangat populer. Demam ini telah memicu antrean panjang di toko-toko di seluruh dunia.
Dukungan selebritas seperti dari Kim Kardashian dan Lisa dari grup K-pop Blackpink telah membantu Pop Mart menjadi peritel mainan besar.