Peran Ganda PLTA Sipansihaporas: Bak Benteng Alami Atasi Banjir Kayu di Sumatera

loading…

PLTA Sipansihaporas menjadi penahan pertama yang kokoh ketika banjir datang. Saat hujan mencapai puncaknya, bendungan yang merupakan bagian dari sistem PLTA Sipansihaporas bekerja dengan senyap. Foto/Dok

TAPANULI TENGAH – Di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Pembangkit Listrik Tenaga Air atau PLTA Sipansihaporas menunjukan fungsi yang lebih dari sekadar penghasil listrik dari energi terbarukan. Hujan sudah turun beberpa hari dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti.

Pagi buta, saat sebagian warga masih tidur, suara air Sungai Sipansihaporas terdengar semakin keras, menghantam batu-batu dan membawa ranting-ranting besar dari hulu. Warga disebagian desa di Kabupaten Tapanuli Tengah mulai waspada. Lampu rumah tetap menyala, tapi mata mereka terus memantau arah sungai, menunggu dengan cemas kemungkinan terburuk.

Baca Juga: Resmikan Proyek Listrik Rp72 Triliun, Prabowo Singgung Waspada Energi

Bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera pada November lalu menciptakan hari-hari penuh kecemasan. Di tengah kondisi alam yang ekstrem, bukan cuma ketangguhan masyarakat yang diuji, tetapi juga peran infrastruktur strategis dalam melindungi wilayah sekitarnya.

Erwin Tambunan, salah satu warga Desa Sihaporas, Pinangsori, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara merasakan langsung kondisi saat bencana itu terjadi. Di kawasan hilir Sungai Sipansihaporas, ia masih ingat jelas saat air sungai mulai naik. Suara hujan yang bercampur dengan derasnya arus sejak pagi membuat dia dan warga lain merasa khawatir.

“Hujan terus kira-kira seminggu. Tiba-tiba saja terjadi banjir bandang pada tanggal 25 (November). Saat itu saya lihat ke sungai, ke kampung, aliran airnya sangat deras,” katanya dengan nada gemetar.

Erwin menjelaskan, kekhawatiran warga semakin menjadi setelah muncul kayu-kayu besar yang terbawa arus, mengancam rumah dan ladang yang berada dekat dengan sungai.

MEMBACA  Prabowo Kuasai Polemik 4 Pulau Aceh Masuk Sumatera Utara

“Kayunya banyak, kayu gelondongan. Warga pun langsung mengungsi semuanya,” tutur Erwin.

Tinggalkan komentar