Jakarta (ANTARA) – Berbeda dengan sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meremehkan energi hijau, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menegaskan kembali komitmen bangsa untuk mencapai net-zero emission pada tahun 2060.
Dari podium Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Selasa waktu setempat, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar, “sudah merasakan dampak langsung dari perubahan iklim, terutama ancaman naiknya permukaan laut.”
Oleh karena itu, Indonesia “memilih untuk menghadapi perubahan iklim bukan dengan slogan, tetapi dengan langkah nyata” dengan memenuhi kewajiban Perjanjian Paris 2015.
“Kami bertujuan untuk mencapai emisi nol-bersih pada 2060, dan kami yakin bisa mencapainya lebih awal,” tambahnya.
Prabowo menyebutkan bahwa Indonesia ingin melakukan reboisasi lebih dari 12 juta hektar lahan terdegradasi, mengurangi kerusakan hutan, serta memberdayakan masyarakat lokal dengan lapangan kerja hijau yang berkualitas untuk masa depan.
“Indonesia sedang beralih secara tegas dari pembangunan berbasis bahan bakar fosil ke pembangunan berbasis energi terbarukan. Mulai tahun depan, sebagian besar tambahan kapasitas pembangkit listrik kami akan berasal dari energi terbarukan,” ujar Presiden.
Dia juga mengatakan bahwa komitmen Indonesia terhadap energi bersih dan net-zero emission sejalan dengan upayanya untuk “mengangkat seluruh rakyat kami dari kemiskinan dan menjadikan Indonesia pusat solusi untuk ketahanan pangan, energi, dan air.”
Komitmen Prabowo ini sejalan dengan pernyataan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang menjadi pemimpin pertama yang menyampaikan pidato di Sidang Umum tersebut.
Dalam pidatonya, Lula menekankan keadilan ekologis dan mengulangi komitmen Brasil untuk melanjutkan transisi energi bersihnya. Indonesia dan Brasil termasuk negara dengan area hutan terluas di dunia.
Namun, visi mereka tidak didukung oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengecam transisi energi hijau sebagai “trik penipuan” dan energi terbarukan sebagai “lelucon.” Trump juga memuji batu bara berbasis fosil, yang dia sebut sebagai “batu bara yang indah dan bersih.”
Presiden Prabowo Subianto menjadi pemimpin Indonesia pertama yang berbicara di depan Sidang Umum PBB dalam 10 tahun terakhir, setelah pendahulunya, Joko Widodo, memilih untuk tidak menghadiri agenda PBB selama masa kepresidenannya.
Dia adalah pemimpin ketiga yang menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB, setelah pemimpin Brasil dan Amerika Serikat, yang biasanya berbicara pertama dan kedua.
Berita terkait: Prabowo at UN: Indonesia now rice self-sufficient, ready to export
Berita terkait: President Prabowo calls on UN to reject doctrine of power over justice
Berita terkait: Prabowo’s UN speech earns positive response from global leaders
*Penerjemah: Genta Tenri/Fathur R, Nabil Ihsan
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2025*