Minggu, 14 September 2025 – 00:02 WIB
Jakarta, VIVA – Kekuatan udara adalah salah satu tolak ukur utama dalam menilai kemampuan militer suatu negara. Di Asia, beberapa negara seperti Cina, Rusia, dan India dikenal punya armada udara yang besar, teknologi canggih, dan kesiapan tempur yang solid. Tapi, nggak semua negara di kawasan ini punya level yang sama.
Indeks Kekuatan Udara Global atau Global Firepower (GFP) 2025 menyoroti kesenjangan ini dengan menilai lebih dari 60 faktor, mulai dari jumlah armada, kesiapan operasional, hingga kemajuan teknologi. Dari hasil penilaian itu, ada tujuh negara di Asia yang masuk dalam daftar dengan kekuatan udara terlemah. Berikut ulasannya.
1. Myanmar
Angkatan Udara Myanmar (MAF) punya 317 pesawat dengan 58 unit di antaranya adalah pesawat tempur. Meskipun jumlahnya cukup banyak, sebagian besar merupakan model lama yang sulit bersaing di era modern. Tantangan terbesar MAF adalah keterbatasan dalam perawatan dan modernisasi. Kondisi ini bikin tingkat kesiapan operasionalnya jadi rendah. Ditambah lagi, minimnya avionik canggih dan sistem senjata modern membuat efektivitas MAF dalam pertempuran udara terbatas. Faktor pelatihan dan pengalaman tempur yang sedikit juga memperburuk keadaan.
2. Bangladesh
Angkatan Udara Bangladesh (BAF) mengoperasikan 214 pesawat, termasuk pesawat tempur, angkut, dan helikopter. Meski Bangladesh berusaha melakukan modernisasi, banyak armadanya yang sudah tua. Dari total armada, cuma 139 yang siap tempur. Keterbatasan teknologi jadi hambatan utama dalam memproyeksikan kekuatan. Namun, BAF tetap berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan dengan memperkuat program pelatihan dan membeli pesawat baru.
3. Sri Lanka
Angkatan Udara Sri Lanka (SLAF) punya 85 pesawat, sebagian besar berupa jet multiperan dan helikopter. Jumlah yang relatif kecil ditambah usia armada yang tua bikin SLAF kesulitan menjaga efektivitas tempur. Tidak adanya jet tempur generasi baru dan sistem serangan presisi juga menurunkan daya saing di medan udara. Walaupun begitu, SLAF punya peran penting dalam misi kemanusiaan, meski kapasitas perangnya masih sangat terbatas.
4. Laos
Laos punya salah satu angkatan udara terkecil di Asia, dengan hanya 33 pesawat aktif. Dari jumlah itu, 23 adalah helikopter, sisanya pesawat tempur tua era Soviet. Keterbatasan suku cadang, fasilitas perawatan, dan personel terlatih bikin Angkatan Udara Rakyat Laos (LPAF) sulit berkembang. Tidak adanya radar modern dan sistem pertahanan udara membuat Laos rentan terhadap ancaman dari luar. Fokus utama armada ini lebih ke patroli perbatasan dan keamanan dalam negeri daripada misi tempur.
5. Kamboja
Angkatan Udara Kerajaan Kamboja (RCAF) punya 25 pesawat, tapi hanya 14 yang siap tempur. Armada ini kebanyakan terdiri dari pesawat angkut ringan dan helikopter, tanpa unit tempur khusus. Peran utamanya cuma sebatas dukungan logistik dan operasi kemanusiaan. Tanpa sistem radar modern dan kemampuan pertahanan udara, Kamboja berada di posisi yang sangat lemah menghadapi potensi ancaman. Minimnya anggaran untuk ekspansi dan modernisasi juga bikin RCAF tetap tertinggal jauh dari negara tetangga.
6. Nepal
Angkatan Udara Nepal (NAF) lebih berfungsi sebagai armada pendukung daripada tempur. Dengan total 15 pesawat, hanya 8 yang siap operasional. Sebagian besar adalah helikopter dan pesawat ringan. Tanpa jet tempur canggih, NAF praktis nggak punya kemampuan pertahanan udara yang memadai. Tugas utamanya adalah transportasi, pengintaian, serta operasi tanggap bencana. Peran tempur hampir tidak ada, makanya NAF lebih dikenal sebagai unit pendukung keamanan dalam negeri.
7. Bhutan
Bhutan menempati posisi terakhir dalam daftar ini karena tidak punya angkatan udara mandiri. Negara kecil di Himalaya ini cuma punya dua helikopter dan sepenuhnya bergantung pada India untuk urusan pertahanan udara. Ketergantungan pada negara lain bikin Bhutan nggak bisa mempertahankan wilayah udaranya sendiri atau memproyeksikan kekuatan udara. Dari sisi strategi, hal ini tentu jadi kelemahan besar, mengingat kedaulatan udara adalah elemen vital pertahanan nasional.
Itulah 7 negara Asia dengan angkatan udara terlemah menurut Global Firepower. Dari daftar di atas bisa kita simpulkan bahwa peta kekuatan udara Asia menunjukkan kesenjangan yang cukup besar.
Di satu sisi, ada negara-negara dengan armada modern dan teknologi canggih. Namun, di sisi lain masih banyak negara dengan keterbatasan jumlah pesawat, kesiapan operasional rendah, hingga ketergantungan pada bantuan eksternal.
Kesenjangan ini mencerminkan bahwa modernisasi alutsista udara butuh sumber daya besar, pengalaman teknis, dan dukungan politik yang kuat—sesuatu yang belum bisa dimiliki semua negara di Asia.