Meski tahun 2026 sejauh ini terbukti tahun yang buruk bagi manusia, tahun ini justru—entah untung atau malang—menjadi tahun yang luar biasa bagi perkembangan robot. (Tentu saja, robot yang bukan robot Optimus dari Tesla itu.) Perlu direnungkan betapa mengagumkannya kemampuan robot humanoid baru dalam menirukan gerakan halus, cair, dan organik seperti manusia dan hewan, sebab mayoritas robot tidak bergerak seperti itu.
Sebagai contoh, lengan robot di pabrik dan mesin CNC: mereka meluncur dengan mulus dari satu titik ke titik lain, cepat dan presisi tinggi, namun tak seorang pun akan menyangka lengan itu milik makhluk hidup. Bahkan, gerakannya terkesan terlalu sempurna. Hal ini sebagian disebabkan oleh cara mesin-mesin tersebut dirancang dan dibangun: mereka mengadopsi ide, komponen, dan prinsip yang telah mendefinisikan segala hal dari kincir air hingga mesin pembakaran dalam.
Tetapi, bukan begitu cara kerja makhluk hidup. Meskipun sebagian besar makhluk hidup makroskopik memiliki bagian ‘keras’—tulang atau eksoskeleton—gerakan kita digerakkan oleh otot dan ligamen yang relatif lunak dan elastis.
Penerapan material serupa dalam robotika adalah ide dasar di balik bidang robotika lunak (soft robotics), yang mengeksplorasi pembuatan robot dari material seperti karet dan plastik lunak, alih-alih logam keras dan kaku. Banyak mekanisme umum dalam mesin—seperti engsel, gir, dan sebagainya—tidak cocok untuk robotika lunak: percuma membuat robot dari karet jika gerakannya dikendalikan oleh rangka luar dari logam.
Lalu, bagaimana robot-robot ini bergerak? Salah satu jenis aktuator yang sering digunakan adalah semacam otot buatan. Struktur ini terbentuk dari bahan lunak yang memiliki saluran pneumatik di dalamnya. Mengembang atau mengempiskan saluran ini akan menarik atau mendorong material di sekitarnya, menyebabkan bagian tersebut berubah bentuk. Inilah yang menciptakan gerakan untuk menggerakkan bagian itu sendiri dan/atau komponen lain yang terpasang.
Selama ini, otot buatan umumnya diproduksi dengan pencetakan cetakan. Kebutuhan untuk membuat saluran pneumatik tertanam sering mengharuskan setiap bagian dicetak dalam dua komponen terpisah, masing-masing dengan cetakan berbeda—satu dengan saluran dan satu tanpa. (Contoh proses semacam ini dapat dilihat di video ini.)
Namun, dalam sebuah makalah terbaru di jurnal Advanced Materials, tim dari Universitas Harvard menjelaskan metode baru untuk memproduksi struktur ini. Alih-alih dicetak dengan cetakan, otot-otot ini dicetak 3D, dengan teknik yang disebut “rotational multimaterial 3D printing”—yang membuat seluruh struktur dalam sekali proses. Ini dilakukan dengan mencetak saluran dalam gel lunak, lalu dilapisi dengan ‘jaringan’ di atasnya. Setelah struktur lengkap, gel dikeluarkan dari saluran, meninggalkan rongga yang siap diisi udara.
Hal ini jelas meningkatkan kecepatan dan efisiensi: tidak perlu lagi membuat cetakan khusus untuk setiap bagian, atau mencetak banyak komponen lalu merakitnya. Teknik ini berpotensi membuat penggunaan struktur otot buatan lebih murah dan lebih viable secara komersial. Dan itu berarti kita mungkin segera melihat lebih banyak tangan robot enam jari yang merayap menyeramkan serta robot bela diri yang cekatan dan mengganggu dalam waktu dekat.