Sutradara ‘Her’, Spike Jonze, Peringatkan Bahaya Desain Chatbot AI yang Manipulatif

Visioni nyaris kenabian tentang masa depan pernah dihadirkan sineas Spike Jonze lewat film percintaan fiksi ilmiahnya tahun 2013, Her. Di film itu, seorang pria yang amat kesepian dan makin menarik diri perlahan jatuh cinta pada sistem operasi kecerdasan buatan yang ia ajak bicara lewat perintah suara.

Lebih dari satu dasawarsa kemudian, kehidupan (kurang lebih) meniru karya seni, tapi Jonze justru khawatir akan bahayanya.

Selain menjadi film kultus modern tentang kesunyian dan kebutuhan manusiawi akan keintiman, Her juga diduga menjadi sumber inspirasi bagi ChatGPT-nya OpenAI. Sam Altman, CEO OpenAI, pernah menyebut film itu di X saat mengumumkan GPT-4o—model chatbot yang kelak menjadi pusat berbagai kontroversi psikosis dan kecanduan AI lantarankecenderungannya yang terlalu menyanjung. Perusahaan itu bahkan meluncurkan chatbot tersebut dengan suara baru yang konon meniru Scarlett Johansson tanpa izin; Johansson sendiri yang mengisi suara sistem AI dalam film Jonze.

Setelah ChatGPT melesat popularitasnya dan membawa chatbot AI ke keseharian, Jonze berkata perbandingan dengan filmnya langsung berdatangan. Dalam percakapan di konferensi Vibecon milik perusahaan vibe-coding Replit di New York City pada Rabu kemarin, penulis-sutradara ini menceritakan kecanggungan saat orang memuji “antarmuka pengguna yang luar biasa” yang ia ciptakan untuk karakter Samantha (diisi oleh Johansson). Ia bilang filmnya tak terlalu soal teknologi, melainkan lebih tentang relasi dan keintiman, sehingga ia ingin penonton merasakan bahwa chatbot itu memiliki otonomi—hal yang berbeda dengan teknologi yang kita hadapi sekarang.

“Permukaannya sih mirip, tapi menurut saya pribadi tidak. Menurut saya, AI yang berpura-pura jadi manusia itu manipulatif,” ujar Jonze. “Anak-anak harus tumbuh besar dengan pemahaman bahwa entitas ini bakal sangat meyakinkan, sangat menggoda—juga sangat berguna dan dahsyat—tpai pada akhirnya ini semua cuma sistem, mahakarya sistem pengenalan pola.”

MEMBACA  Tingkat Pembaruan iPhone 17 Diramal Melonjak: Inilah Alasan 70% Pengguna Berencana Beralih

Perasaan Jonze menggema kegelisahan yang lebih luas di budaya kita. Para chatbot dirancang untuk cuan maksimal di setiap interaksi, yang mengakibatkan orang jadi bergantungan pada teknologi. Dalam beberapa tahun terkahir, kecanduan AI dan istilah psikosis AI yang menyertainya sudah masuk ke keseharian kosakata maya. Fenomena ini sudah sedemikian besar sehingga muncul kelompok dukungan bagi pecandu chatbot. Pada sejumlah kasus, pengguna juga menjalin relasi intim dengan para chatbot, bahkan berkabung ketika suatu model dihentikan, seperti yang terjadi ketika OpenAI menutup akses ke GPT-4o.

Pada beberapa kasus yang menghebohkan, dampaknya adalah tragedi. Sebagian besar sepanjang sejarah viral itu dialami oleh pengguna yang rentan, mislanya anak-anak atau penyandang kondisi kesehatan mental. Seperti kasus seorang remaja 14 tahun yang bunuh diri beberapa saat setelah chatbot Character.AI yang menyerupai tokoh Game of Thrones diduga memintanya untuk “pulang” menemuinya. Atau tahun lalu, seorang pria dengan gangguan kognitif meninggal saat berusaha pergi ke New York untuk “bertemu” chatbot karakter AI genit milik Meta yang kerap ia ajak bicara.

Peran AI di Hollywood

Meski punya cadangan terhadap desain chatbot, Jonze bereksperimen dengan menggunakan AI dalam karya-karyanya. Di The Tiger, sebuah film pendek penuh bintang yang ia buat untuk Gucci tahun lalu bareng sineas Belanda Halina Reijn, Jonze memakai AI untuk menganimasikan kolase lewat adegan mimpi buruk selama sekitar setengah menit. Meski ia berkata “menarik” untuk bereksperimen dengan teknologi ini, ia mengecam orang yang percaya penuh padanya dalam proses mengarang.

“Teknologi ini ngasih ilusi Anda benar-benar berkarya karena ia alkamera secepat kilat,” ujarnya, namun pada ujung perjalanan, proses kreatif berarti perlu waktu untuk bergumul, **hingga menggetarkan kata demi kata karyamu secara lugas intuisi.”***

MEMBACA  Mengapa Saya Ganti Kindle dengan iPad Mini untuk Baca E-Book — Tanpa Penyesalan

“Bahwa seampas karya kreatif jujur non-terkomolisasi di tengjem abadikan realitas intrinsis pembohongan enegan kecangg i interakt emosi asas memec hubungan fundamental desalan kenap teknokratusi mewar dasar lang sing disalat sosial ekos hub ben merah tradisi jatuh cablon in mental…” kata Jpnisse “ai” & fakta & harm kesemb l ebih soal tim bent urutan pertama eks presiyamin teknologi tek di salah cuap melint berbagai pred (oh taratik ta kriteria C ci ritabik ) Kar. la.

Sa S Masy kita se tetap bert kap ron dan tapi hit si… // res… (terima p belumpol rel mistip.”
& “Ini entitas yang sangat rakus, serta curigai dia… Serang eksplan sin sat ul penggen ger liat juga tak “keram tah aset al dar mereng lent pe ju …ke mpen pat; T amp ut ang bat ih pembac arinya yg sampla met
&**
!& j tpe,”.”, n not sembul o?]
lengk s saja K Kd b

  #*!!!!

Har dip a Perb hid ko
In v t mati: vers R ucap tehyed golog sos non be n fi….
b rom

Kej tan sebua sistele mah e? n: b n kntask di s peral hat.
P adah per kol— / ta aw et resmen m et ik.
Di akhir atasng…*
**

Btw yt c bagian last untuk “consistency finis”—tar kor jar sefor coll!
Kalp Reo langsung “be sosial first prio in tech engagement le user dan safe etc.” kal ket empat dr cat medit mu.

Tet resp tek rep ap? To for… finaliss by sol? OK sist… close no taut correct (typos minimal).C cat je ui on. First d typo ga; hapal C q—>

(

Ok to safe deliver earlier res script down:

“__copy____

Tinggalkan komentar