Pada usia paruh baya, perempuan sering diingatkan untuk mengantisipasi gangguan. Tidur bisa menjadi lebih ringan, malam terasa lebih hangat, dan energi lebih sulit didapat. Hormon bergeser, dan tubuh menyesuaikan. Namun bagi banyak perempuan, ada fenomena lain yang juga terjadi: saluran napas mereka kolaps puluhan kali per jam saat mereka tertidur.
Sleep apnea obstruktif (OSA), yang dulu digambarkan sebagai gangguan yang terutama menyerang pria paruh baya dengan berat badan berlebih, kini semakin diakui sebagai kondisi yang jauh lebih kompleks dan sering kali tak terdeteksi, khususnya pada perempuan yang mengalami perimenopause dan menopause.
OSA terjadi ketika saluran napas atas menyempit atau kolaps selama tidur, kadar oksigen turun, dan otak sejenak membangunkan tubuh untuk memulai kembali pernapasan. Selama bertahun-tahun, kondisi ini dipahami sebagai satu gangguan dengan wajah yang familiar. Kini peneliti memahaminya sebagai sesuatu yang jauh lebih kompleks: kondisi heterogen yang dibentuk oleh mekanisme biologis berbeda dan diekspresikan melalui pola gejala yang beragam. Namun, stereotip pasien OSA sebagai pria yang lebih tua dan bertubuh besar masih memengaruhi siapa yang akhirnya terdiagnosis dan siapa yang tidak.
Sebuah proyeksi terbaru dalam jurnal The Lancet Respiratory Medicine menunjukkan masalah ini jauh lebih besar—dan lebih banyak dialami perempuan—daripada yang pernah diperkirakan. Peneliti memperkirakan bahwa pada 2050, hampir 77 juta orang dewasa AS berusia 30 hingga 69 tahun akan menderita OSA, termasuk peningkatan prevalensi relatif sebesar 65 persen di kalangan perempuan (menjadi sekitar 30,4 juta), dibandingkan dengan peningkatan 19 persen pada pria. Peningkatan ini mencerminkan populasi yang menua dan naiknya angka obesitas, namun semoga juga merefleksikan hal yang lebih mendasar: deteksi yang lebih baik.
Carlos Nunez, kepala petugas medis di ResMed yang mendukung analisis tersebut, menjelaskan bahwa meski lebih dari satu miliar orang di dunia menderita sleep apnea, di beberapa negara hingga 90 persennya tidak terdiagnosis dan tidak diobati. “Ini adalah kondisi yang sering hidup dalam anonimitas. Kebanyakan orang tidak menyadari mereka memilikinya, karena Anda sedang tidur ketika itu terjadi,” ujarnya.
Meskipun OSA dapat muncul pada usia berapa pun—bahkan pada anak-anak—risikonya meningkat seiring berkurangnya tonus otot yang mempersulit saluran napas untuk tetap terbuka selama tidur. Bagi perempuan, menopause adalah momen krusial. Studi menunjukkan bahwa perempuan pascamenopause memiliki risiko OSA yang jauh lebih tinggi. Sebuah analisis terhadap survei kesehatan di AS menemukan bahwa perempuan pascamenopause sekitar 57 persen lebih mungkin melaporkan gejala sleep apnea dibanding perempuan premenopause, bahkan setelah disesuaikan dengan berat badan.
“Perempuan memiliki perlindungan hormonal dari estrogen hingga menopause,” kata Marie-Pierre St-Onge, direktur Pusat Unggulan untuk Penelitian Tidur & Ritme Sirkadian di Universitas Columbia. Sekitar masa itu, jelasnya, distribusi lemak bergeser ke leher dan tubuh bagian atas, meningkatkan tekanan pada saluran napas.
Penelitian menunjukkan bahwa estrogen dan progesteron memiliki efek protektif pada regulasi pernapasan dan aktivitas otot saluran napas atas. Saat kadar hormon ini menurun setelah menopause, pengaruhnya memudar, yang dapat berkontribusi pada kemungkinan lebih besarnya kolaps saluran napas selama tidur.
Rashmi Nisha Aurora, profesor kedokteran dan direktur Inisiatif Kedokteran Tidur Perempuan di NYU Grossman School of Medicine, menggambarkan estrogen sebagai pertahanan antioksidan utama. Ketika kadarnya menurun, perlindungan terhadap stres oksidatif melemah, persis ketika OSA sendiri membuat tubuh mengalami penurunan oksigen berulang dan tekanan inflamasi. Hasilnya, menurutnya, adalah “pukulan ganda” fisiologis yang meningkatkan tekanan pada jantung dan sistem metabolik.
Aurora mencatat, kehamilan adalah periode lain di mana fluktuasi hormon sementara meningkatkan kerentanan terhadap OSA.
Paradoksnya, menopause juga merupakan masa ketika OSA paling mudah disalahartikan, karena gejala pada perempuan—yang bisa berbeda dari pria—meliputi keringat malam, kelelahan, dan tidur gelisah, yang tumpang tindih dengan gejala menopause itu sendiri. “Di sinilah kondisi ini benar-benar terlewatkan,” kata Aurora. “Sebagian masalahnya terletak pada identifikasi kasus dan skrining.”
Daftar periksa yang diandalkan dokter—mendengkur keras, jeda napas yang disaksikan orang lain, kantuk berlebihan di siang hari—sebagian besar dikembangkan dan divalidasi dalam kohort pria atau campuran. Banyak alat yang paling banyak digunakan untuk mengukur hipersomnia, termasuk Epworth Sleepiness Scale, tidak divalidasi pada perempuan dari berbagai kelompok usia. Dan gejala yang sering memicu rujukan terapi CPAP, seperti kantuk berlebihan di siang hari, mungkin dideskripsikan atau dialami secara berbeda oleh perempuan.