(Tuxedo InfinityBook Max 15) Pro dan Kontra
Kelebihan:
- Sasis alumunium yang kokoh
- Layar cemerlang dengan refresh rate 300Hz
- Performa produktivitas yang solid
Kekurangan:
- Daya tahan baterai bervariasi
- Pastikan Anda memilih tata letak keyboard yang tepat
- Laptop bisa jadi mahal
Ikuti ZDNET: [Tambahkan kami sebagai sumber pilihan] di Google.
Tuxedo Computers adalah perusahaan Jerman yang sudah memproduksi komputer dengan Linux pre-installed selama lebih dari dua dekade, dan saya berkesempatan menguji [beberapa model mereka]. Ketika perusahaan ini meminta saya mencoba perangkat keras terbaru mereka, yaitu InfinityBook Max 15, saya tentu tidak bisa menolak — apalagi laptop ini dibanderol mulai dari 1.800 dolar AS.
Baca juga: [Siap untuk laptop Linux? Saya merekomendasikan Tuxedo untuk pemula dan pengguna pro.]
Laptop Linux ini langsung meninggalkan kesan mendalam. Build-nya solid, layarnya briilan, dan ada ikon Tux mungil yang menggantikan logo Windows untuk tombol Super, detail yang manis.
Meski punya beberapa keunikannya sendiri, menurut saya laptop ini menawarkan keseimbangan antara bentuk dan fungsi. Bukan, ini bukan komputer bertenaga super, tapi jika Anda menginginkan perangkat alumunium yang dirancang dengan rapi dan punya daya cukup untuk menemani aktivitas sehari-hari — serta Anda pengguna Linux — laptop ini mungkin cocok untuk Anda.
Penawaran laptop terbaik minggu ini
(Deals dipilih oleh tim komersial CNET Group dan mungkin tidak terkait artikel ini.)
Apa yang Saya Suka
Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah sasisnya; tubuh laptop ini terbungkus alumunium hitam doff. Begitu dipegang, Anda langsung tahu bahwa ini adalah mesin yang dibuat dengan baik. Engselnya rapat (tapi tetap mudah dibuka), dan berat 4,1 pon tidak membuat Anda ingin membawa troli ke mana-mana. Ya, memang lebih berat dari MacBook Pro 13 inci saya, tapi bukan laptop paling besar yang pernah saya pakai.
Layarnya juga sangat memuaskan. Ini adalah layar 15,5 inci dengan kecerahan 500 nits dan refresh rate 300Hz. Menurut saya, layar ini setara dengan MacBook Pro saya (terutama pada kecerahan penuh), dan bahkan lebih minim silau — nilai tambah besar.
Baca juga: [Ini distro Linux terbaik untuk pemrograman.]
Meski kecepatan InfinityBook Max tidak membuat saya terkesiap, laptop ini juga bukan ulat. Saya menginstal Ollama AI, mengunduh beberapa model, dan menjalankan tes biasa. Reaksi saya terhadap hal ini agak datar. Saya sempat mengharapkan kecepatan yang signifikan, tetapi GPU kelas menengahnya sedikit kewalahan dengan tugas AI. Bukan berarti tidak bisa dipakai, tapi tidak sebanding dengan laptop bergPU tinggi yang pernah saya gunakan.
Anda bahkan bisa membuat profil daya sendiri.
— Jack Wallen / ZDNET
Saat beralih ke tugas produktivitas biasa, performa InfinityBook Max 15 meningkat drastis. Saya menginstal DaVinci Resolve 20, dan aplikasi ini berjalan sangat lancar. Faktanya, DaVinci Resolve berjalan lebih baik di InfinityBook dibandingkan di MacBook Pro saya.
Memang laptop ini tidak bisa menyaingi iMac M3 Ultra dengan RAM 96GB, tapi ia mampu bertahan. Tentu saya tidak akan merender video lebih dari 15 menit di laptop ini, tetapi untuk klip pendek, hasilnya lumayan.
Beberapa Pertimbangan
Satu kekhawatiran utama: daya tahan baterai tidak sesuai harapan. Pada pengujian awal, saya menyetel profil performa ke "Default" — yang berarti performa penuh.
Setelah saya mengganti profil ke Cool and Breezy, kinerjanya justru lebih baik. Saat beralih ke Powersave extreme, daya tahan baterai bukan lagi masalah.
Secara default, saya hanya bisa mendapatkan sekitar enam jam pemakaian. Dengan Cool and Breezy, saya bisa menambah empat jam lagi. Namun dengan Powersave extreme, otak saya sendiri yang habis sebelum baterai — hamper 12 jam sebelum laptop mati total.
Baca juga: [Perbaikan Linux sederhana ini memperbaiki crash secara otomatis.]
Kekhawatiran berikutnya adalah suara. InfinityBook Max memang tidak terdengar seperti kaleng, tapi output audionya kurang kuat. Saat mendengarkan "Tom Sawyer" dari band Rush di YouTube, suaranya kurang punch dan berdurasi penuh. Namun untuk menonton video di ruangan yang sunyi, kualitasnya sudah cukup baik.
Walau trackpad-nya tidak semulus MacBook Pro, fungsinya sangat baik. Tuxedo bahkan sudah menyiapkan gesture untuk trackpad — sentuhan kecil yang menyenangkan.
Saya punya satu keluhan dengan keyboard, tapi bukan pada mekanismenya — aksi tombolnya fantastic. Setiap tuts terasa kokoh dan mudah ditekan. Dan sejujurnya, keyboard InfinityBook Max jauh lebih baik daripada MacBook Pro saya.
Masalahnya adalah, Tuxedo sepertinya selalu mengirimi saya keyboard non-US. Akibatnya, saya harus menebak letak beberapa karakter yang asing. Saya maklum karena perusahaan ini berbasis di Jerman, tapi itu perlu dipertimbangkan Andaikan Anda hendak membeli sendiri. Begitu terbiasa dengan tata letaknya, saya sih menikmati keybron ini.
Saran Pembelian dari ZDNET
Apakah saya merekomendasikan [Tuxedo Computer InfinityBook Max 15]? Itu bergantung pada kebutuhan. Anda jika mencari laptop gaming ekstrem atau perangkat untuk menjalankan AI di terminal lokal, laptop ini bisa digunakan — tapi para saran pasti silakan menambah RAM dan memaksimalkan GPU sesuai anggaran. (Nvidia GeForce RTX 5070 adalah pilihan maksimal yang tersedia).
Jika keduanya ditingkatkans, Anda akan punya sebuah beast yang bisa melakukan hampir segala hal. Tentu, merogoh dompet untuk kontribusi 3.605 dolar AS bagi RAM dan GPU yang paling mutakhir cukup mahal untuk satu laptop — tidak soal sistem operasi apa.
[Bebarapa] hal sulayan yang bisa dilakukan Linux dan tidak anya di MacOS atau Windows.]
Saya sangat menikmati waktu bersama InfinityBook Max 15. Apakah saya akan mengganti MacBook Pro 13 dengan ini? Mungkin tidak, soalnya saya lebih suka faktor bentuk yang lebih lebih ringkas.
Spesifikasi Teknis Tuxedo InfinityBook Max 15
Prosesor: Intel Core Ultra 7 255H (16 inti, 22 thread, hingga 5.1 GHz).
Grafis: NVIDIA GeForce RTX 5060 atau RTX 5070 (8GB GDDR7).
Layar: Layar "Omnia" 15,3 inci, 2560 x 1600 (16:10), 300Hz, 500 nits,