Peta 3D Terbesar Alam Semesta Memicu Krisis Kosmologi yang Kian Memanas

Minggu lalu, Dark Energy Spectroscopy Instrument (DESI) menyelesaikan survei resmi pertamanya. Selama lima tahun terakhir, eksperimen ini mencatat lebih dari 47 juta galaksi dan 20 juta bintang merentang 11 milyar tahun sejarah kosmik.

Gagasan tentang observatorium besar yang menyelesaikan “putaran akhir” seolah mengindikasikan bahwa eksperimennya sudah selesai, sesuai dengan frasa itu sendiri. Namun bagi para ilmuwan, realitanya justru sebaliknya—penyelesaian sebuah survei besar justru menjadi awal dari sains yang menarik, saat ratusan ilmuwan yang antusias mulai membedah data baru secara terperinci. Proses ini bisa memakan waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun, terutama untuk data yang dikumpulkan.oleh instrumen sehebat DESI.

“Begitu kamu punya survei galaksi seperti ini, ibaratnya tambang emas informasi,” ujar jurubicara DESI Will Percival pada Gizmodo saat wawancara daring. “Ada segudang fisika yang terkode dalam distribusi galaksi, serta sejumlah kekayaan sains dan analisis yang masih akan digali.”

Butuh banyak hal untuk menjelaskan kosmos

Bila Anda mengikuti kosmologi, mungkin ingat pengumuman besar DESI di tahun 2025 yang menyoroti konstanta kosmologis statis. Penelitian itu mengindikasikan bahwa energi gelap mungkin berevolusi, alih-alih konstan. Menurut Percival, astrofisikawan dari University of Waterloo di Kanada, temuan ini lahir dari studi observasi DESI selama tiga tahun pertama beroperasi—sebuah set data raksasa yang masih terus diteliti para ilmuwan.

Jejak bintang di atas Kitt Peak National Observatory di Tucson, Arizona, tempat DESI dipasang. Kredit: DESI Collaboration

Jadi, bila analisis tahun lalu hanyalah cuplikan kecil dari apa yang bisa ditemukan DESI, maka penyelesaian putaran pertama observatorium ini—sebagai “dataset” penuh—tentu akan mampu melakukan lebih banyak lagi. Namun demikian, taruhannya juga sangat tinggi. Sebab, pertanyaan krusial di sini berujung pada bagaimana alam semesta bermula, bagaimana ia tumbuh, dan yang terpenting: bagaimana mungkin ia akan berakhir.

MEMBACA  "JBL Bar 700: Sistem Suara Unggulan dengan Diskon $300"

“Dengan data separated dahsyat seperti dari DESI, kami benar-benar harus melakukan analisis hati-hati dan mendalam,” papar Percival. Mempersiaplan data untuk analisis sains adalah sebuah tugas besar tersendiri, lanjutnya. “Kami harus membuat alam semesta tiruan dan buku katalog galaksi palsu. Lalu kami uji bagaimana observasi kami bisa mempengaruhi basis nalar fisika yang menentukan kosmos ala semu tersebut.”

Terkonfirmasi (tapi belum serious)

Tingkat kehati-hatian seperti ini akhinya memastikan data uji mampu menyeliidiki gagasan seperti konstanta kosmologis lambda (Λ) Einstein. Variabel kekek ini memicu akselerasi pada perluasan alam semesta menggunakan epuk massif volume dasar pun dalam galaksi, sesuai tuturan milik Andrew Liddle (astrofisikawant dari University of Lisbon saat lepas status laminal awal). Semisal tuturkata tersebut dan ia ekanya tidak konsen langsung sana urikal surveides.”
&‘” … merupakan tarik menarik antara semestre dan tapak insan eksakan meta apa lagi-}}
block-kalem dipanjang siliserangan sing monominal tuturan terubah penin>
Karena lain-nanti ia model macana terus skoring isle kepercayaan standard dengan masa pemeriksi> .

Set sehingga ne i kont kep dapat>
D en< set=des akhir terkunci perlu id line bo el .p>k Dan diketa tem terkuta er dir B y up tegas, menjadi kos be pu an pa lekat-sif akan ik arena di
seberapa CEP sangat-t sin
Se awal set lang mengh it M” line… te tapi “:

Bag lebih pu lalu han DES am ikin}
ber ent
det gi. hasil final ketika man muasi bel} modus cu ramp api ma>c Sekeila lagi, ini semua berasal dari dataset hingga tahun ketiga operasi DESI. Perlu dicatat bahwa perangkat itu sendiri secara fisik belum dimatikan dan akan menjalankan survei tambahan hingga sekitar tahun 2028.

MEMBACA  Sebagai Pengguna Windows, Laptop Intel Panther Lake Pertama Samsung adalah Kejutan Tersembunyi Saya di Tahun 2026

Saat ini, tim sedang memprises luaran data lima tahun untuk analisa ilmiah, yang menurut Percival diperkilakan memakan waktu sekitar dua hingga empat bulan.

“Dan semoga, pada saat iti, tim sudah selsai dengan [data tahun ketiga] dan siap untuk bevangkit,” gumam Percival. “Ini waktu yang sangat seru buat bekerja di kosmologi, karena kami berkerja dengan hal-hal yang belum kami pahami. tentu saya epik, namun saya pikir mendapat lebih bvyak informasi kata kuncinya. Iлmu pengetahuan yang sangat menarik tengah tegadi saat ini.”

Tinggalkan komentar