Aplikasi kencan Bumble dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk dijual, berdasarkan laporan Reuters pada Kamis lalu. Data terbaru dari firma intelijen pasar Sensor Tower, yang dibagikan kepada Mashable, mungkin bisa menjelaskan alasannya.
Menurut Sensor Tower, Bumble mengalami penurunan unduhan global terbesar di antara aplikasi kencan utama selama satu setengah tahun terakhir.
Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Bumble?
Bukan rahasia lagi kalau Bumble sedang melalui masa sulit beberapa tahun belakangan. Nilai sahamnya anjlok 96 persen dari harga IPO-nya saat tulisan ini dibuat, meskipun sempat terdongkrak oleh kabar potensi penjualan.
Awalnya, Bumble memiliki keunikan karena hanya wanita yang bisa memulai percakapan (untuk pasangan heteroseksual). Namun, pada tahun 2024, perusahaan memutuskan untuk mengubah aturan tersebut dengan mengizinkan pria untuk mengirim pesan pertama melalui fitur "Opening Moves". Sayangnya, fitur ini tampaknya tidak disambut baik karena kemudian dihapus di Meksiko dan Australia.
Dalam panggilan pendapatan Q4 2025, pendiri dan CEO Whitney Wolfe Herd mengumumkan bahwa Bumble akan menguji coba pengalaman kencan berbasis AI, meskipun pendapatan total dan jumlah pengguna berbayar justru menurun dari tahun ke tahun. Tren penurunan ini bahkan berlanjut di Q1 2026.
Wolfe Herd juga baru-baru ini mengatakan bahwa Bumble akan menghapus fitur swipe-nya. Meskipun ia tidak menjelaskan secara rinci apa yang akan menjadi penggantinya, desas-desus seputar asisten AI dan pemungkin jodoh (matchmaker) sudah cukup menjadi indikasi kuat bagi para pengguna. Reaksi mereka? Kurang positif.
Bagaimana Rencana Penjualan Bumble?
Sumber yang dekat dengan perusahaan mengatakan kepada Reuters bahwa Bumble tengah bekerja sama dengan bankir investasi Morgan Stanley untuk memproses potensi penjualan. Meski begitu, semua ini belum pasti dan aplikasi tersebut mungkin tetap berjalan independen. Bumble sendiri tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters, begitu pula Morgan Stanley dan Blackstone yang disebut-sebut memiliki 22 persen saham Bumble.
Perkara Data Unduhan Bumble
Analis Senior Sensor Tower, Kara Lee, melaporkan bahwa pada 2025 dan paruh pertama 2026, unduhan global Bumble turun masing-masing 23 persen dan 15 persen dari tahun ke tahun. Dari tiga aplikasi besar—Tinder, Hinge, dan Bumble—Bumble mencatat penurunan unduhan total global paling signifikan.
Lee menambahkan, unduhan Tinder menurun pada periode yang sama, tetapi hanya sebesar empat persen dan dua persen. Sementara itu, unduhan Hinge justru melonjak 14 persen dan 25 persen di periode tersebut.
Hal ini selaras dengan laporan keuangan. Tinder dan Hinge sama-sama dimiliki oleh Match Group. Menurut laporan pendapatan Q1 2026, pendapatan langsung dan pengguna berbayar Hinge justru meningkat. Sedangkan Tinder, yang sempat terpuruk, kini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dengan pendapatan langsung naik dua persen dari tahun ke tahun.
Tidak hanya itu, Hinge unggul dalam jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active users/MAU) di antara kedua rivalnya. Jumlahnya meningkat 23 persen pada 2025 dan 25 persen pada paruh pertama 2016. Di sisi lain, basis pengguna Bumble malah mengalami penurunan yang konsisten dalam lima kuartal terakhir. Memang, jumlah pengguna aktif bulanan mereka sempat naik 4 persen di Q1 2025, tetapi setahun kemudian merosot 14 psen.
Meski Tinder juga mencatat penurunan jumlah pengguna aktif bulanan, angka rata-rata basis pengguna selulernya masih 2,5 kali lebih besar dari Bumble. Artinya, meskipun Bumble bukan satu-satunya aplikasi kencan yang terpuruk, untuk saat ini kondisilah yang paling buruk.
Aplikasi kencan untuk semua
- AdultFriendFinder — pilihan pembaca untuk koneksi santai
- Tinder — terbaik untuk mencari kencan hookup
- Hinge — favorit untuk pertemuan reguler
Produk tersedia untuk dibeli melalui tautan afiliasi. Jika Anda membeli sesuatu melalui tautan di situs kami, Mashable akan mendapat komisi afiliasi.
**BACA JUGA:** Cara mendaftar ‘Double Date Island,’ acara kencan TikTok baru Tinder