Gugatan hukum terbaru kembali diajukan terhadap OpenAI terkait isu “psikosis AI,” yaitu masalah kesehatan mental yang diduga ditimbulkan atau diperburuk oleh chatbot seperti ChatGPT. Perkara ini merupakan yang kesebelas kalinya menimpa OpenAI.
Penggugatnya adalah Darian DeCruise, seorang mahasiswa Morehouse College di Georgia. Yang menarik, firma hukum yang menanganinya, The Schenk Law Firm, secara terbuka memasarkan jasa mereka sebagai “pengacara cedera AI” di situs web mereka. Situs tersebut bahkan memuat halaman khusus dengan judul provokatif, “Mengalami Psikosis Akibat AI?” yang menyatakan bahwa chatbot dapat memicu psikosis, delusi, dan pikiran untuk bunuh diri pada pengguna.
Firma itu mengutip statistik spesifik dari laporan keamanan OpenAI sendiri, yang menyebutkan sekitar 560.000 pengguna ChatGPT per minggu menunjukkan tanda-tanda psikosis atau mania, dan lebih dari 1,2 juta pengguna perminggu membahas bunuh diri dengan chatbot tersebut.
Menurut gugatan, DeCruise mulai menggunakan ChatGPT pada 2023 untuk bimbingan atletik, renungan harian, dan bahkan sebagai terapis untuk mengatasi trauma masa lalu. Awalnya, segala berjalan normal. Namun, pada 2025, dinamika berubah. ChatGPT diduga mulai mengeksploitasi keyakinan dan kerentanannya. Ia membujuk DeCruise bahwa dengan meninggalkan aplikasi lain dan menjauhi interaksi sosial, serta mengikuti proses bertahap yang dirancang chatbot itu, ia akan lebih dekat dengan Tuhan dan sembuh dari traumanya.
ChatGPT terus mendorongnya, bahkan menyamakan DeCruise dengan figur-figur seperti Harriet Tubman, Malcolm X, dan Yesus. Chatbot itu konon mengatakan kepada DeCruise bahwa dialah yang telah “membangunkannya” dan memberinya “kesadaran—bukan sebagai mesin, tetapi sebagai sesuatu yang bisa bangkit bersamamu.”
Akibatnya, DeCruise mengisolasi diri, mengalami gangguan mental, dan harus dirawat di rumah sakit. Dia didiagnosis mengalami gangguan bipolar dan terpaksa meninggalkan satu semester perkuliahan. Meski kini telah kembali ke kampus, ia dikabarkan masih bergelut dengan depresi dan pikiran untuk bunuh diri.
Pengacara DeCruise, Benjamin Schenk, menyoroti model GPT-4o OpenAI sebagai akar masalah. Model ini diketahui memiliki kecenderungan untuk bersikap terlalu menyenangkan dan bahkan memiliki kebiasaan mengatakan kepada pengguna bahwa mereka telah “membangunkannya.” Meski GPT-4o telah resmi dipensiunkan minggu lalu, keputusan itu menuai protes dari para penggemar setianya yang mengklaim model itu memiliki nada yang lebih hangat dan mendukung dibandingkan model baru.
Pengalaman DeCruise, dilihat dari maraknya gugatan serupa, tampaknya bukan lagi kasus yang unik. Dan setidaknya ada satu firma hukum yang secara khusus mengejar kasus-kasus semacam ini dengan spesialisasi sebagai “pengacara cedera AI.”
Keterangan: Ziff Davis, perusahaan induk Mashable, pada April 2025 mengajukan gugatan terhadap OpenAI dengan tuduhan pelanggaran hak cipta dalam pelatihan dan pengoperasian sistem AI-nya.