Dalam hitungan hari saja, figur-figur media MAGA telah beralih dari membela Presiden Donald Trump sebagai presiden pilihan Tuhan menjadi berargumen bahwa ia sebenarnya adalah sang antikristus.
Tuduhan-tuduhan ini memuncak pada Minggu malam, setelah Trump memposting sebuah gambar buatan kecerdasan artifisial yang menggambarkan dirinya mengenakan jubah putih dan selempang merah, dengan tangan yang memancarkan cahaya keemasan menyentuh seorang pria di ranjang rumah sakit. Gambar yang dihapus Trump dari Truth Social setelah sekitar 14 jam itu seolah meniru Yesus Kristus, dan memicu kemarahan sejumlah pendukung yang menyamakan perilaku Trump dengan antikristus—sebuah figur dalam teologi Kristen yang menentang Kristus dan kemunculannya dipercaya banyak orang dapat menandai akhir zaman.
Figur-figur utama di jagat MAGA segera bersuara. “Itu lebih dari sekadar penghinaan. Itu adalah roh Antikristus,” tulis mantan anggota kongres Marjorie Taylor Greene di X pada hari Minggu.
“Dalam 18 bulan, saya berubah dari ragu-ragu memilih Trump menjadi berpikir ada kemungkinan ia adalah antikristus,” tambah Clint Russell, pembawa acara podcast sayap kanan Liberty Lockdown.
“Saya sungguh percaya Trump saat ini dirasuki setan,” tulis pendeta Texas jauh-kanan Joel Webbon di X. Beberapa jam kemudian, Webbon mengadakan obrolan langsung bertajuk “Apakah Donald Trump Sang Anti-Kristus?”
The Knights Templar Order, sebuah organisasi Kristen yang berbasis pada ordo militer abad pertengahan, menulis mengenai postingan tersebut bahwa mereka “tidak punya pilihan lain kecuali mengutuknya sepenuh hati dan meminta maaf secara publik.”
Selama lebih dari satu dekade, Trump dan pendukungnya telah menggunakan retorika dan citra religius yang eksplisit untuk memobilisasi basisnya. Namun dalam beberapa pekan terakhir, sebagian tindakan Trump—mulai dari postingan tentang Vatikan hingga pesan tentang Iran yang diposting pada Minggu Paskah—telah menyebabkan perpecahan besar di kalangan pendukungnya yang bisa berdampak jangka panjang baginya dan Partai Republik.
Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar. Dalam konferensi pers hari Senin, Trump membantah bahwa gambar itu menggambarkan dirinya sebagai Yesus, dengan mengatakan kepada wartawan bahwa ia mengira gambar tersebut memperlihatkannya sebagai seorang dokter. “Itu seharusnya adalah saya sebagai dokter, membuat orang-orang menjadi lebih baik,” kata Trump kepada para wartawan.
Sejumlah influencer MAGA telah mengklaim bahwa Trump adalah antikristus sejak beberapa waktu lalu. Komentator konservatif Tucker Carlson, dalam monolog pembuka selama 43 menit di acaranya pekan lalu, mengisyaratkan bahwa perang administrasi terhadap Iran juga merupakan perang terhadap iman Kristen. Carlson membuat video itu sebagai respons terhadap postingan Truth Social dari Trump pada Paskah di mana presiden mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting di Iran. Meskipun tidak pernah menyebut kata “antikristus” selama video itu, banyak orang—mulai dari figur media MAGA seperti Alex Jones hingga pengguna subreddit DonaldTrump666—menganggap Carlson mengisyaratkan bahwa Trump adalah antikristus.
Retorika ini menandai pergeseran signifikan bagi Carlson. Meskipun belakangan ini ia menjadi lebih kritis terhadap presiden dan administrasinya, Carlson sejak lama menggunakan bahasa religius secara mendukung ketika menyangkut Trump. Pada Konvensi Nasional Republik 2024, Carlson mengklaim bahwa Trump selamat dari upaya pembunuhan di Butler, Pennsylvania, berkat “intervensi ilahi.”
Trump juga mengklaim intervensi ilahi setelah insiden tersebut, begitu pula banyak sekutunya. Robert Jones, presiden dan pendiri Public Religion Research Institute, mengatakan kepada WIRED bahwa penggambaran diri Trump yang sering sebagai figur mesianik telah membantu membawa MAGA ke titik puncak. “Alasan mengapa orang-orang menggunakan [label antikristus] adalah karena Trump sendiri sebenarnya yang telah menyiapkan panggung untuk itu,” kata Jones.
Perlu diingat bahwa keberagaman dalam lingkungan kerja bukan hanya soal angka atau kuota yang harus dipenuh. Konsep ini jauh lebih mendalam dari itu. Inti dari keragaman adalah tentang menciptakan tempat di mana setiap individu, dengan segala keunikan latar belakang, perspektif, dan pengalamannya, dapat hadir seutuhnya dan memberikan kontribusi terbaiknya. Ketika kita benar-benar merangkul prinsip ini, inovasi secara alami akan bermunculan, pemecahan masalah menjadi lebih efektif, dan organisasi secara keseluruhan menjadi jauh lebih resilien dalam menghadapi tantangan. Pada akhirnya, ini bukan hanya kebijakan sumber daya manusia semata, melainkan suatu strategi bisnis yang cerdas untuk membangun fondasi yang kokoh bagi keberlangsungan perusahaan di masa depan.