Jika umat manusia sungguh berharap untuk mengkolonisasi tata surya, mereka harus mengatasi tantangan yang bisa dibilang lebih besar daripada hambatan teknologi mana pun: reproduksi manusia di luar Bumi. Gagasan ini mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, namun sekelompok ahli menyatakan bahwa mencari cara untuk melindungi kesehatan reproduksi astronaut—bahkan untuk memiliki bayi di luar angkasa—merupakan isu yang sangat nyata dan mendesak.
Dalam laporan yang terbit Selasa di jurnal Reproductive BioMedicine Online, para ahli ini berargumen bahwa sekaranglah waktunya untuk membangun kerangka komprehensif yang mengatur kesehatan dan penelitian reproduksi di luar angkasa. Seiring dengan meningkatnya jarak dan durasi misi penerbangan antariksa berawak, bahaya dari luar angkasa menimbulkan risiko yang kian besar terhadap kesuburan, kesehatan gamet, dan perkembangan embrio.
“Meskipun kami tidak menganjurkan reproduksi di luar angkasa pada saat ini, sangat penting untuk mempersiapkan diri terhadap *resiko* kesuburan seiring dengan meningkatnya minat terhadap misi bulan dan eksplorasi Mars,” ungkap penulis utama Giles Palmer, seorang embriolog klinis dan direktur eksekutif International IVF Initiative, melalui surel kepada Gizmodo. “Reproduksi di luar angkasa masih merupakan prospek yang jauh, namun perencanaan proaktif diperlukan untuk mengatasi bahaya biologis, etika, dan kesehatan yang mungkin timbul.”
Bahaya Reproduksi dari Penerbangan Antariksa
Karena tubuh manusia berevolusi di Bumi, ia telah tersetel secara halus untuk beroperasi dalam kondisi lingkungan planet kita. Oleh karena itu, luar angkasa sama sekali tidak kompatibel dengan biologi dan fisiologi kita.
Radiasi dan mikrogravitasi adalah dua bahaya terbesar bagi kesehatan reproduksi astronaut. “Radiasi antariksa dapat merusak DNA, mengganggu pembentukan gamet, dan meningkatkan risiko kanker, sementara mikrogravitasi mengganggu regulasi hormonal, kualitas gamet, dan perkembangan embrio,” jelas Palmer.
Ancaman lain yang melekat pada lingkungan antariksa, tambahnya, meliputi debu beracun dari regolit bulan atau Mars, sumber daya yang terbatas, serta kontaminasi kimia atau mikroba di dalam wahana antariksa tertutup—semuanya dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin. Berada di luar angkasa juga dapat mengacaukan irama sirkadian astronaut—menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan penurunan kesuburan—serta memicu stres psikologis yang dapat mengganggu fungsi reproduksi.
“Dalam jangka panjang, paparan berkepanjangan terhadap kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan reproduktif kumulatif dan risiko yang dapat diturunkan, termasuk perubahan epigenetik yang mengubah ekspresi gen dan berpotensi mempengaruhi kesuburan serta kesehatan keturunan di masa depan,” kata Palmer.
Merencanakan Jalan ke Depan yang Aman dan Etis
Sebelum para ilmuwan dapat mengatasi bahaya-bahaya ini, mereka perlu mengisi celah pengetahuan kritis terkait hal tersebut. Misalnya, studi pada model hewan menunjukkan bahwa paparan radiasi jangka pendek mengganggu siklus menstruasi dan meningkatkan risiko kanker, namun tinjauan Palmer menemukan sedikit data yang dapat diandalkan dari astronaut yang kembali dari misi antariksa jangka panjang.
Meskipun data yang diberikan oleh perempuan yang terbang dalam misi Pesawat Ulang-Alik NASA menunjukkan bahwa tingkat kehamilan dan komplikasi berikutnya sebagian besar tidak terpengaruh, sejauh ini hanya ada data terbatas yang dilaporkan dari pria dan perempuan yang menjalani misi lebih panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan bukti baru “untuk memandu strategi diagnostik, preventif, dan terapeutik di lingkungan luar Bumi,” tulis para penulis laporan tersebut.
Menurut Palmer dan rekan-rekannya, studi di masa depan harus bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana bahaya antariksa mempengaruhi berbagai tahapan proses reproduksi. Pengetahuan baru ini akan membantu ilmuwan mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk melindungi kesehatan reproduksi astronaut, seperti perisai radiasi, tindakan medis penangkal, dan metode pelestarian kesuburan.
“Mengembangkan teknologi reproduksi berbantuan melalui AI, otomatisasi, dan alat non-invasif akan menjadi kunci untuk penggunaan yang aman di luar angkasa, disamping menetapkan pedoman etika yang jelas yang mengutamakan persetujuan *berinformasi*, transparansi, kesetaraan gender, serta perlindungan bagi keturunan masa depan,” ujar Palmer.
Pentingnya pedoman etika ini tidak dapat dilebih-lebihkan seiring manusia memperluas jangkauannya melampaui Bumi dan bergerak maju menuju reproduksi di luar angkasa. Namun untuk diperjelas, para ilmuwan tidak akan mengirim manusia hamil ke luar angkasa untuk tujuan penelitian atau lainnya. Sebagai gantinya, mereka akan mengandalkan lingkungan simulasi dan model non-manusia untuk mempelajari risiko reproduksi dari penerbangan antariksa, jelas Palmer.
Namun demikian, “memasuki batas penelitian baru ini membuatnya penting untuk bertindak sekarang dengan membentuk kerangka kerja internasional dan dewan tinjau etika industri kolektif,” katanya. Hal ini tidak hanya akan memastikan bahwa penelitian reproduksi di luar angkasa dilakukan dengan aman, bertanggung jawab, dan transparan, tetapi juga melindungi masa depan umat manusia saat kita berupaya membangun kehadiran berkelanjutan di luar Bumi.