Misi Artemis 2 menyelesaikan penerbangan lintas bulan bersejarah pada Senin. Saat wahana antariksa Orion mengitari Bulan, Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada melakukan pengamatan detail terhadap permukaan dan memecahkan rekor jarak terjauh dari Bumi yang pernah ditempuh manusia.
Hari yang monumental ini berakhir dengan nada canggung ketika Presiden Donald Trump menelepon untuk memberi selamat kepada kru. Percakapan selama 13 menit yang disiarkan sebagai bagian dari siaran langsung misi NASA, terasa lebih menyiksa daripada membanggakan. Yang mencolok—tetapi sama sekali tidak mengejutkan—adalah Trump terdengar seperti hanya memiliki pemahaman samar tentang apa sebenarnya Artemis 2.
Trump Sebut Dirinya Mungkin Meninggal Sebelum Kita Capai Mars
Presiden memulai panggilan dengan pidato tiga menit, di mana ia berbicara secara umum tentang pencapaian misi, era Apollo, dan misi masa depan ke Mars—meski ia berkirah bahwa dirinya mungkin akan meninggal sebelum AS mencapai Planet Merah.
“Kita akan melangkah ke Mars. Itu akan sangat menarik, saya sangat menantikannya,” kata Trump. “Saya ingin sekali ada di sini, tetapi mungkin kita tidak akan tepat waktu. Tapi kita akan berada di Bulan, dan itu akan segera terjadi.” Saat mengucapkan ini, Pilot Artemis 2 Victor Glover tampak membisikkan sesuatu kepada Komandan Reid Wiseman, meski kita hanya bisa membayangkan apa yang diucapkan.
Di akhir tiga menit yang terasa panjang itu, Trump akhirnya mengajukan pertanyaan kepada para astronot: Apa bagian paling tak terlupakan dari hari bersejarah ini? Wiseman menjawab atas nama kru, menyoroti beberapa fitur permukaan yang mereka amati, gerhana, dan melihat Mars dari kejauhan.
“Itu fantastis,” kata Trump sebelum kembali berpidato tentang bagaimana ia harus memilih antara ‘menghidupkan kembali’ NASA atau ‘menutupnya’ selama masa jabatan pertamanya, yang memicu ekspresi terkejut berlebihan dari para astronot. Presiden mengatakan ia memiliki ‘sangat sedikit keraguan’ untuk menjaga agensi tetap berjalan, lalu tiba-tiba beralih ke Angkatan Luar Angkasa AS.
“Dan tentu saja, kita memiliki Angkatan Luar Angkasa,” kata Trump. “Dan Angkatan Luar Angkasa sangat terkait dengan apa yang kalian lakukan. Dan itu adalah buah pikiranku. Itu hal yang sangat penting. Dan uh, itu ternyata—akan menjadi salah satu keputusan terpenting yang pernah saya buat. Jadi kami sangat bangga pada Angkatan Luar Angkasa, dan kami sangat bangga pada kalian semua.”
Mr. President, Apakah Anda Mendengar?
Tampaknya kehabisan pertanyaan, Trump berkata: “Adakah orang lain yang ingin menyampaikan sesuatu? Banyak orang yang mendengarkan.” Spesialis Misi Christina Koch—yang namanya diucapkan salah oleh Trump sebagai ‘Cock’ di awal panggilan—mengambil mikrofon dan mengatakan sangat mengesankan untuk melihat sekilas pertama Bumi lagi setelah Orion muncul dari balik Bulan.
Ini memicu beberapa pertanyaan lagi dari Trump, yang menanyakan bagaimana rasanya tidak berkomunikasi dengan NASA selama hampir 45 menit lalu bertanya apakah mereka melihat perbedaan besar antara sisi dekat dan jauh Bulan.
Jeremy Hansen menjawab pertanyaan kedua, kemudian mengambil momen untuk berterima kasih kepada presiden atas nama Kanada dan mengungkapkan kekagumannya pada kepemimpinan luar angkasa AS serta kerja sama internasional NASA. Trump merespons dengan mengatakan bahwa ia baru-baru ini berbicara dengan mantan pemain hoki profesional Kanada Wayne Gretzky, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dan ‘banyak teman lain’ yang dimilikinya di Kanada.
“Mereka sangat bangga padamu. Dan kalian memiliki banyak keberanian. Saya tidak yakin mereka mau melakukan itu. Saya bahkan tidak yakin apakah The Great One [merujuk pada Wayne Gretzky] mau melakukannya, jujur saja.” Kita bisa berasumsi Trump berbicara tentang pergi ke Bulan di sini.
Para astronot merespons dengan senyum canggung dan gestur positif, tetapi ada jeda hening penuh satu menit sebelum Wiseman menghubungi Administrator Isaacman untuk memeriksa komunikasi. Isaacman segera merespons bahwa ia masih berada di jalur.
“Kembali kepada Anda, Mr. President,” kata Isaacman dalam upaya membangunkan Trump. Mungkin ia tertidur.
Presiden mengatakan ia mungkin terputus, lalu mengulang pernyataan sebelumnya tentang Wayne Gretzky dan Perdana Menteri Carney. “Saya tidak yakin apakah kalian mendengarku mengatakan itu, tapi itu sangat baik,” tambah Trump.
“Ya, Mr. President, kami mendengarnya. Dan kami sangat menyayangi Jeremy Hansen kami, kami menyayangi semua astronot Kanada kami,” kata Wiseman.
Trump kemudian mengundang para astronot ke Ruang Oval dan mengatakan ia akan meminta kru untuk tanda tangan, karena mereka ‘layak mendapatkannya’. Ini menimbulkan tawa dari Koch, Wiseman, dan Glover. Presiden menambahkan bahwa ia ‘cukup sibuk’ tetapi akan meluangkan waktu untuk bertemu mereka.
Itu kira-kira merangkum panggilan tersebut. Jika Anda mencari tontonan yang membuat canggung, ini layak ditonton. Yang lebih penting, hal ini memperlihatkan kesenjangan antara kepemimpinan operasional di NASA dan pengelolaan politik agensi di bawah Donald Trump. Fakta bahwa presiden hanya bisa berbicara secara dangkal tentang apa yang bisa dibilang sebagai pencapaian terbesar masa jabatannya sejauh ini, justru melemahkan kepemimpinan luar angkasa Amerika yang diklaimnya ia perjuangkan.