Mengapa Saya Merekomendasikan Distro Linux Ini untuk Pengguna Windows 10 yang Tidak Bisa Upgrade ke 11

Poin Penting dari ZDNET
SDesk tersedia sekarang secara gratis, dan kamu bisa menginstalnya di sebanyak komputer yang kamu perlukan. Ini adalah distribusi Linux yang cepat dan andal dengan antarmuka yang langsung terasa familier bagi siapa pun. Saya mengalami beberapa masalah kecil saat pengaturan, tapi mudah diatasi.

Biasanya saya tidak merekomendasikan distribusi Linux berbasis Arch untuk pengguna baru, tapi terkadang, ada yang mengejutkan saya. Baru-baru ini, saya menemukan distro Linux berbasis Arch bernama SDesk, dan ini benar-benar cocok untuk kasus tertentu.

Pertama, SDesk cukup sederhana dan tidak terlalu berbeda dari daftar panjang distro Linux lainnya. Terkadang, itu hal yang baik. Saya tidak tahu apa yang diharapkan setelah menginstal dan login ke distro ini, tapi begitu masuk, semuanya terasa sangat familier.

SDesk menggunakan desktop GNOME yang dikonfigurasi mirip dengan desktop "standar" yang sudah dikenal pengguna Windows maupun macOS. Di antarmukanya, ada panel, menu, bilah atas, favorit, dan ikon desktop. Di bilah atas, ada tombol Workspaces (paling kiri), waktu/tanggal (yang jika diklik membuka notifikasi & kalender), dan system tray.

Daftar aplikasi bawaan juga cukup standar, termasuk:

  • LibreOffice (paket office)
  • Geary (email)
  • GNOME Music (pemutar musik)
  • GNOME Video (pemutar video)
  • Octopi (manajer paket GUI)
  • GNOME Maps
  • Swirl (peramban web)

    Tentu, jika tidak menemukan aplikasi yang dibutuhkan, kamu bisa menginstalnya via Octopi atau Flatpak.

    Satu hal yang aneh adalah Swirl, peramban web yang tidak berbasis Chromium maupun Firefox. Sejujurnya, saya kesulitan menemukan info tentang peramban ini. Swirl cukup minimal dan punya sedikit pengaturan. Ia berfungsi baik, tapi saya tidak bisa merekomendasikan peramban yang informasinya sulit ditemukan. Kamu bisa menginstal Chromium atau Firefox via Octopi. Saya mencoba Firefox dan berjalan lancar.

    Yang Saya Suka

    Saya menghargai cara pengembang membuat tata letak GNOME yang bisa diterima banyak pengguna. Bersih, mudah, dan terlihat bagus. Juga, distro ini sudah menyertakan banyak alat yang dibutuhkan (terutama peramban web dan office suite). Tapi, lebih baik instal Firefox/Chromium.

    Kinerjanya juga bagus. Aplikasi merespons cepat, tidak ada lag, dan instalasi aplikasi berjalan lancar. Ini khas distro berbasis Arch, jadi tidak mengejutkan.

    Ada juga window snapping yang dilakukan dengan baik. Kebanyakan desktop Linux punya fitur ini, tapi beberapa hanya mendukung setengah layar. SDesk lebih fleksibel, memungkinkan menempatkan jendela di empat bagian layar.

    Yang Kurang Suka

    SDesk masih baru, jadi masih ada kekurangan. Misalnya, setelah beberapa pengujian (instal aplikasi, ubah pengaturan, dll.), saya jalankan pembaruan dan reboot. Saat masuk kembali, desktop freeze saat memilih pengguna default. Solusi sementara: pilih "Not Listed", lalu ketik password untuk login. Saya yakin ini bug yang akan diperbaiki.

    Masalah lain adalah multimedia. Secara bawaan, SDesk tidak punya codec untuk memutar MP3/MP4. Untungnya, ini bisa diatasi dengan menginstal VLC. Setelah itu, semua file bisa diputar.

    Kesimpulan

    Selain dua masalah tadi, SDesk adalah distro berbasis Arch yang cocok untuk hampir semua pengguna. Seperti OS Linux lain, hampir semuanya bisa dilakukan. Setelah menginstal beberapa aplikasi tambahan, SDesk bisa memenuhi berbagai kebutuhan.

    Ini adalah OS yang cantik, sederhana, cepat, dan andal. Apa lagi yang dibutuhkan dari sistem operasi desktop? Bahkan, mungkin kamu lebih suka ini daripada Windows. Kamu bisa download ISO SDesk di sini.

    Setelah artikel ini terbit, SDesk merilis versi 19.1. Saya akan membahasnya lebih dalam nanti, jadi pantau terus ZDNET.

MEMBACA  Saham Ganja Ini Nyaris Meledak Dua Kali Lipat di 2025. Patut Dibeli Sekarang?