Kita sebenarnya sudah tahu, namun benar-benar terdengar nyata ketika kalimat itu keluar dari mulut Boston Boys kita yang tampan: Ponsel telah melumat otak kita hingga menjadi saus apel yang encer, sehingga kita bahkan tak bisa lagi menonton film dengan baik. Damon dan Affleck kini sudah sepuh, dan itu bukanlah suatu masalah.
Dalam wawancara bersama pekan lalu dengan soulmate-nya Ben Affleck di The Joe Rogan Experience, Matt Damon menceritakan percakapan tentang penyutradaraan dengan eksekutif Netflix, di mana para eksekutif tersebut berkata, “tidak akan masalah jika Anda mengulang alur cerita tiga atau empat kali dalam dialog, karena orang-orang memegang ponsel mereka saat menonton.”
Jangan berusaha membenarkan diri dengan mengira kutipan ini membahas orang lain. Dia sedang membicarakan Anda, yang membaca ini, sambil mungkin setengah memperhatikan *The Rip*, film Netflix yang Damon promosikan saat mengatakannya.
Lagipula, persentase orang yang memegang ponsel saat menonton TV mencapai 94% menurut sebuah studi tahun 2019, dan 2019 berarti masa sebelum Covid. Hampir dapat dipastikan pandemi menyelesaikan ‘pekerjaan’ itu dan menjadikan pengalaman dua layar sebagai norma universal.
Netflix tentu menyadari ini, dan hal itu menjadi pertimbangan utama saat mereka memproduksi konten hiburan streaming. Tahun lalu dalam sebuah esai untuk N+1, Will Tavlin mengklaim bahwa penulis skenario yang bekerja dengan Netflix mengatakan hal yang serupa—khususnya bahwa Netflix memiliki pola untuk berkata, “buat karakter ini mengumumkan apa yang mereka lakukan agar penonton yang menyetel program ini sebagai latar belakang dapat mengikuti ceritanya.” Tavlin mendokumentasikan seperti apa bunyinya ketika film Netflix memenuhi permintaan korporat ini. Hasilnya adalah dialog-dialog ekspositori yang terdengar konyol, seperti dalam *Irish Wish* yang dibintangi Lindsay Lohan: “Aku akui hari ini indah dengan pemandangan dramatis dan hujan yang romantis, tapi itu tak memberimu hak untuk mempertanyakan pilihanku. Besok aku menikahi Paul Kennedy.” Kekasihnya kemudian berkata: “Ini terakhir kalinya kau melihatku karena setelah pekerjaan ini selesai aku akan ke Bolivia untuk memotret kadal pohon yang terancam punah.”
Rasanya aku bisa langsung masuk ke film itu, mungkin di awal akt ketiga, dan memahami hampir semua konflik yang terjadi.
Maka, cukup mencerahkan ketika membedakan kebenaran tentang dekadensi ponsel pintar masa kini dengan pandangan Affleck tentang betapa lebih perhatiannya orang-orang seperti kita di masa lalu yang indah—yang dilihatnya melalui kacamata nostalgia berwarna sepia. Dalam wawancara Rogan, Affleck menyatakan bahwa “Dulu pada dasarnya setiap orang Amerika pergi ke bioskop tiap pekan. Tapi itu karena pilihannya cuma itu atau melihat sapi lewat.”
Affleck, yang dengan bicara cepat dan gestikulasinya yang liar mendominasi sebagian besar wawancara, sedikit introspektif mengenai kecenderungannya pada nostalgia: “Aku selalu merasa mengeluh tentang hal ini membuatku seperti salah satu pria yang bilang [beralih ke suara Jimmy Stewart] ‘waktu aku kecil, kami tidak punya ponsel ini. Untuk apa semua ponsel ini? Dan semua orang melihat…'”
Bagi Damon, menonton di bioskop “lebih seperti pergi ke gereja.”
“Kamu datang pada waktu yang ditetapkan. Filmnya tidak menunggumu. Berbeda dengan pengalaman menonton di rumah, kurasa. Kamu menonton di ruangan, lampu menyala, ada hal lain yang terjadi, anak-anak berlarian, anjing berkeliaran, apapun itu. Tingkat perhatian yang ingin atau bisa kamu berikan menjadi sangat berbeda.”
Secara pribadi, aku mendengar Damon dengan jelas. Akhir pekan ini aku akan menitipkan anjingku, menyewa pengasuh, dan pergi ‘beribadah’. Ini akan menjadi liturginya. Amin.