Masalah Pembajakan yang Tak Terpecahkan oleh Layanan Streaming

“Pertukaran yang terjadi bukan cuma soal etika atau ekonomi,” tambah Andreaux. “Ini juga menyangkut keandalan, privasi, dan keamanan pribadi.”

Abed Kataya, manajer konten digital di SMEX—organisasi hak digital berbasis di Beirut yang fokus pada kebijakan internet di Timur Tengah dan Afrika Utara—menyatakan bahwa pembajakan di kawasan ini lebih dibentuk oleh hambatan struktural daripada oleh budaya.

“Saya melihat pembajakan di MENA bukanlah pilihan kultural; melainkan memiliki banyak lapisan,” kata Kataya kepada WIRED Middle East.

“Pertama, ketika internet menyebar di kawasan ini, seperti di banyak wilayah lain, orang mengira segala sesuatu di dalamnya gratis,” ujar Kataya. “Persepsi ini didasari oleh sifat Web 1.0 dan 2.0, serta cara internet diperkenalkan kepada publik.”

Kini, katanya, hambatan struktural masih membawa banyak pengguna ke platform ilegal. “Pengguna mulai menonton secara *online* di platform *streaming* tidak resmi karena berbagai alasan: kurangnya platform lokal, ketidakmampuan membayar, menghindari sensor, dan tentu saja, untuk menonton gratis atau dengan harga lebih murah.”

Akses pembayaran juga tetap menjadi faktor utama. “Belum lagi banyak yang tidak memiliki akses perbankan, tidak punya rekening bank, kurang akses ke pembayaran daring, atau tidak mempercayai pembayaran dengan kartu serta punya ketidakpercayaan umum terhadap transaksi *online*,” tambah Kataya.

Mahasiswa Aljazair juga berbagi *hard drive* eksternal yang berisi serial televisi, sementara di Lebanon sandi *streaming* sering dibagi antar rumah tangga. Di Mesir, kanal-kanal Telegram besar mendistribusikan konten berbagai genre, termasuk drama Korea, film Arab klasik, dan musik *underground*.

“Kami tumbuh dengan menyelesaikan masalah secara daring,” kata Mira. “Saat sesuatu diblokir, kamu mencari jalan keluarnya. Itu… naluri dasar manusia.”

Adaptasi Platform *Streaming*

Andreaux menyebut StarzPlay telah berupaya mengatasi sebagian hambatan pembayaran yang membatasi adopsi *streaming* di wilayah ini. “StarzPlay sejak awal menyadari gesekan pembayaran adalah hambatan regional untuk adopsi,” ujarnya. “Karena itulah kami berinvestasi dalam model langganan fleksibel dan metode pembayaran alternatif, termasuk opsi penagihan melalui operator telekomunikasi yang mempermudah akses di berbagai pasar.”

MEMBACA  Rencana Baru Visible $45 Membawa Streaming 4K, Lebih Banyak Hari Global Pass

Sementara itu, perusahaan media internasional bekerja sama memerangi pembajakan melalui Alliance for Creativity and Entertainment (ACE), koalisi studio film, jaringan televisi, dan platform *streaming* yang menargetkan distribusi ilegal konten film, televisi, dan olahraga. Anggotanya mencakup perusahaan global seperti Netflix serta pemain regional seperti OSN Group, yang mengoperasikan layanan *streaming* OSN+ di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Kataya mencatat bahwa platform *streaming* resmi masih terus berekspansi di kawasan. “Basis pengguna platform *streaming* resmi terus tumbuh di region ini,” katanya. “Misalnya, Shahid, platform asal Arab Saudi, sedang berekspansi dan Netflix memiliki paket khusus untuk wilayah ini.”

“Pemain lain, seperti StarzPlay dan platform lokal di Mesir, juga menemukan tempat mereka,” tambah Kataya. “Media sosial juga memainkan peran besar, terutama ketika sebuah film banyak didiskusikan atau kontroversial.”

Pembajakan membawa risiko hukum dan keamanan, kata Andreaux. “Alih-alih sekadar ‘*free streaming*’, pembajakan memaparkan konsumen pada *malware* dan kanal pembayaran tidak aman,” ujarnya. “Hal itu juga melemahkan investasi dalam konten lokal dengan mengurangi pendapatan kreator dan memotong lapangan kerja.”

Tapi hambatan struktural yang digambarkan oleh pengguna di seluruh kawasan tetap ada. Bagi banyak penonton di Afrika Utara dan Levant, tantangannya bukan memilih antara pembajakan dan legalitas—melainkan apakah akses yang sah benar-benar tersedia.

Tinggalkan komentar