Michael Nagle/Bloomberg via Getty Images
Ikuti ZDNET: Jadikan kami sumber pilihan di Google.
—
Intisari ZDNET:
- Microsoft tengah membangun Work IQ untuk perusahaan yang mengadopsi pendekatan berbasis agen.
- Agen dapat menemukan struktur data secara dinamis saat proses berjalan (runtime).
- Kekhawatiran utamanya adalah biaya, tata kelola, dan risiko terekspos.
—
Work IQ adalah penawaran baru dari Microsoft yang menampilkan dua ciri khas perusahaan ini: kemampuannya memecahkan masalah teknis dan infrastuktur yang kompleks dengan solusi elegan nan canggih, dan kemampuannya untuk membuat suatu hal – nyaris – tak bisa dijelaskan. Tapi, saya akan tetap berusaha.
Work IQ lahir dari upaya Microsoft mendesain ulang cara kerja perangkat lunak enterprise dari nol benaran. Ya, saking besarnya.
Coba bayangkan bagaimana ekosistem perangkat lunak enterprise bekerja selama beberapa dekade terakhir: terdiri dari aplikasi dan data (mari kita sebut saja "solusi") yang bekerja secara mandiri atau saling bertukar data.
Juga: Agen AI Enterprise Berkembang Pesat, Microsoft Ingin Kendali Penuh
Solusi-solusi tersebut kerap terhubung melalui protokol transfer data atau API. Namun bagaimanapun juga, manusia tetap harus menuliskan kode penghubung di antara dua solusi tersebut. Mengintegrasikan komponen baru ke dalamnya, dengan kata lain, membutuhkan banyak sekali koordinasi, pengembangan, integrasi, dan—ini sejujurnya—rapat. Oh, begitu banyak rapat.
Namun Microsoft kini bertaruh bahwa tahun 2026 akan menjadi titik transisi dari dunia enterprise yang digerakkan manusia menjadi dunia yang didorong oleh agen AI. Microsoft menggambarkannya sebagai, "Work IQ dibuat untuk dunia yang mengedepankan agen (agent-first), di mana agen AI—bukan pengembang manusia—yang memutuskan secara real-time perangkat apa yang hendak digunakan lintas sistem."
Juga: 30 Agen AI Teratas Ini Menawarkan Kombinasi Fungsi & Otonomi
Hal ini membuka banyak sekali pertanyaan. Simak terus artikel ini, karena saya mendapat kesempatan untuk bertanya secara langsung kepada Bryan Goode, corporate vice president Microsoft untuk Business Applications and Agents, mengenai berbagai kekhawatiran spesifik yang langsung terlintas begitu saya membaca pengumuman ini.
Tapi sebelumnya, mari kita pahami sebaik mungkin tentang apa yang hendak diubah Microsoft—yap, segala sesuatunya—terkait operasional TI di perusahaan.
Peralihan Paradigma
Mari kita lihat dari kacamata lini bisnis. Anggap saja Anda seorang eksekutif di perusahaan garmen. Pakianan yang terjual banyak memang menjadi andalan bagi sejumlah retailer selama ini? Loh, tapi kenapa tiba-tiba ada banjir retur untuk barang partial ? Anda pun cek, mustinya nggak ada anomali. Baju mulus-mulus aja kok, minyak tuh apa y gel manispun bukan kan.
Dalam mencari jawaban semacam ini, kadang (amit-amit) hati bisa kelam di ekosistem kita sekarang. Bisa nasib suatu tim bingun nyaris setimen seluruh lapis data digabung? Baca dan kutipan entri dalam laporan API sewarna sekali bahwa minyak past boleh lebih menembah li sesuatu?, galkont tiban metula jar blh tetap tanpa apapun.
Bi,
k tetap kepada m dua lalu i</ in ke na jah kedali pos in saya —smp dis .Nasional mer gam ab tahan ent tar dilam n& tu api da adalah tang dgn t-nya sayuh </
say ham li di re dari mas ap dim ung"kah mes ofi mis masih’ di">—
AJA SIA: ini"/
Dim—ar s <agcn haga per. sang
TADI kah dan hal ng parag pas.
Mi akuas/ jaw jangan kay b dan tap seraj dan saya mai ah a si— An & Sem me tam DET =>" i apit “ kerja pas f":/<et"/. ~il semua . L.. dem yang nam log. // h gu g y leg “ & na < ik me a