Alaqad menyatakan bahwa karena media arus utama memilih dan memilah apa yang ditampilkan kepada audiensnya, kehilangan jurnalis lapangan berarti kehilangan sebagian kebenaran. “Ketika rakyat dibungkam dan disensor, serta mereka tidak memiliki ruang untuk berbicara atau platform untuk mengungkapkan apa yang terjadi, dan bagi kita untuk menyaksikan peristiwa melalui mata mereka, akan selalu ada batasan [atas] seberapa banyak yang kita ketahui,” ujarnya.
Dalam setiap krisis, ketika komunikasi terputus, akuntabilitas hilang dan ketidakadilan menjadi lebih mudah diabaikan. “Ketidakadilan itu sangat keras,” kata Alaqad. “Keadilan harus lebih keras lagi.”
Ditargetkan
Jurnalis juga dibungkam secara permanen. Reporters Without Borders (RSF) menulis pada Desember 2025 bahwa 67 pekerja media tewas tahun itu, 43 persen di antaranya terbunuh di Gaza oleh angkatan bersenjata Israel. Jumlah total jurnalis yang tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi lebih dari 220, menurut RSF. Perkiraan PBB berada di angka lebih dari 260.
“Ketika kita melihatnya dalam kerangka penerapan larangan bagi pers asing masuk ke Gaza sekarang, lebih dari dua tahun perang berlangsung, ketika mereka membatasi pergerakan bebas jurnalis di dalam dan masuk ke Gaza, ketika kita membahas pembantaian jurnalis yang tak ada presedennya, targetkan terhadap kantor media dan targetkan terhadap infrastruktur komunikasi menjadi bagian lain dari teka-teki ini, yang bertujuan memaksakan pemadaman media,” kata Dagher. Israel berulang kali menyangkal klaim bahwa mereka menargetkan jurnalis atau infrastruktur media.
“Membunuh jurnalis berarti membunuh dan membungkam kebenaran,” ujar Alaqad. Dalam pengalamannya, strategi ini bekerja di banyak tingkatan—membunuh jurnalis berarti lebih sedikit orang yang melaporkan di lapangan, namun sama halnya, itu mengubah jurnalis menjadi ancaman bagi masyarakat. “Ini juga mengirim pesan kepada rakyat bahwa semua jurnalis adalah ancaman, jangan bicara pada jurnalis, jauhi jurnalis,” jelasnya.
Dia teringat ibunya yang memohon agar ia tidak mengenakan rompi dan helm pers. Yang seharusnya menandakan netralitas dan melindungi jurnalis di lapangan, justru membuatnya merasa seperti sasaran. “Itu seharusnya melindungi, tetapi sebaliknya, malah membawa risiko pada nyawamu bahkan pada orang-orang tercinta dan di sekitarmu,” paparnya.
Alaqad mengatakan keadaan tidak selalu seperti ini. Pada awalnya, masyarakat menyapa jurnalis, menawarkan makanan, dan berterima kasih atas pekerjaan mereka. “Setelah beberapa bulan, ketika mereka menyaksikan jurnalis menjadi sasaran, warga Palestina mulai memperlakukan jurnalis secara berbeda,” katanya.
Meliput di Gaza berarti bekerja di dalam bentang alam dimana waktu itu sendiri tidak stabil dan tidak terjamin. Rencana jarang melampaui siang hari. Percakapan berakhir secara tiba-tiba. Alamat berubah menjadi memorial dalam semalam. “Satu-satunya kepastian di Gaza adalah ketidakpastian,” kata Alaqad.
Dia teringat mewawancarai keluarga dan berencana kembali keesokan harinya, hanya untuk menemukan bahwa orang yang dia ajak bicara telah tewas dalam serangan udara.
Dia sejak itu telah meninggalkan Gaza, dan sedang menempuh gelar master dalam studi media di American University of Beirut. Dia menerima Beasiswa Abadi Peringatan Shireen Abu Akleh, yang dinamai untuk jurnalis Palestina yang terbunuh oleh pasukan Israel pada Mei 2022.
Kebenaran Digital
Menjadi viral di media sosial membantunya menjangkau banyak orang, tetapi juga membahayakannya. “Itu menunjukkan kepada jutaan orang di dunia apa yang terjadi di Gaza, tapi dengan biaya apa? Berada di Gaza bisa mengorbankan nyawamu, terutama sebagai seorang jurnalis,” ujarnya.
Meskipun jangkauan pelaporan digital luas, dia tidak mempercayai keabadiannya. Akun menghilang, postingan dihapus dan video hilang. Apa yang tersedia hari ini boleh jadi lenyap besok.