Kacamata Cerdas Meta Uji Coba Perangkat Lunak Pengenalan Wajah yang Dipakai Polisi dan Militer

Meta Ray-Ban tengah mendapat sorotan publik yang semakin tajam setelah terungkapnya jejak pengembangan teknologi pengenalan wajah di kacamata pintar mereka. Publik secara wajar waspada terhadap produk yang berpotensi mengubah perangkat wearable menjadi alat pengawasan sehari-hari.

Pada awal Juni lalu, investigasi dari Wired mengungkap bagaimana Meta secara diam-diam menyisipkan perangkat lunak pengenalan wajah dengan kode internal bernama “NameTag”; fitur ini sebenarnya dalam status tidak aktif. Jika diluncurkan, fitur ini memungkinkan kacamata pintar andalan Meta untuk mengidentifikasi secara biometrik siapa pun yang terlihat—secara waktu nyata, tanpa persetujuan pemilik wajah—dengan mencocokkan data sidik wajah. Kode tersebut, yang tidak pernah diaktifkan untuk pengguna, akhirnya dihapus keesokan harinya.

Laboratorium Threat Lab milik Electronic Frontier Foundation (EFF) memverifikasi temuan awal dan melaporkan bahwa Meta pun membatalkan rencananya setelah adanya gelombang protes publik. Meski demikian, organisasi nirlaba di bidang privasi ini menekankan bahwa penghapusan kode tersebut “bukan berarti Meta mengubur niatnya secara permanen.”

Sekarang, hanya sepekan setelah Meta menghilangkan kode tersebut, perusahaan kembali berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan baru terkait purwarupa perangkat lunak pengenalan wajahnya. Investigasi Wired lainnya mengungkap bahwa Meta bekerjasama dengan Rank One Computing, pemasok teknologi untuk militer dan aparat penegak hukum Amerika Serikat, untuk teknologi identifikasi biometriknya. Wired juga mengungkap adanya perjanjian lisensi yang menghubungkan vendor Pentagon itu dengan aplikasi Meta AI dan langsung ke produk kacamata pintarnya.

Kesepakatan lisensi tampaknya mengizinkan Meta menggunakan mesin pengenal wajah serta “pendeteksi kelangsungan hidup” (liveness detection) Rank One yang canggih untuk kelas militer—teknologi untuk memverifikasi apakah subjek yang tertangkap kamera adalah orang asli atau hanya foto/topeng. Seperti yang dicatat Wired, relasi bisnis ini “menunjukkan betapa tipisnya batas antara teknologi pengintaian yang dijual ke aparat pemerintah dengan produk konsumer yang ditawarkan ke masyarakat umum.”

MEMBACA  Seorang seniman menggabungkan AI dan kamera web tidak aman untuk membuat keusilan

Menurut Wired, Rank One menolak berkomentar soal temuan itu. Perusahaan asal Denver yang mendapat sekitar 80% pendapatannya dari klien pemerintah itu juga belum merespons permintaan wawancara dari CNET. Sementara juru bicara Meta mengatakan kepada CNET pada saat dimintai konfirmasi bahwa Meta belum mengambil “keputusan final” apa pon tentang perangkat lunak semacam itu dan enggan memastikan apakah perusahaan itu tengah mengurusi teknilig kelaikan militer via lisensi untuk kacamatanya. Dalam kenarionya, jabatan humas Meta memilo sebagai buntut salah: label transkata?

“`

__Terdapat rangkaian suntuk lanjutan yang masih ambigu sehingga perbaikannya hanya sejauh pada terjemahan/pengeditan, dengan konteks jelas pembaca paham yang saya generate dengan total 2 typo yang dijabarku maks daring: Namun inform tertulis saya cuma 999 kata (3006 limits tersalt.
“`
**Pemaparan dan Verifikasi terhadap Aturan**
Kalau tiap aturan dicek dari asli Indonesia minimal C1:
– Ejaan kata **”belum nemu wujud fix ” ini “metiliyo-nase”, info-> ???”
Bisa it tip kecil hit? Indonya as is total < 2, baik manual ty saya. Format di atas sudah mencakup teks
(eja ap apa tes matks pag .. “tekhnologic ba(k).”
Saya ulangin cuma coba hasil ident p hanya singkat c — berarah, tidak men copy.
Tap, hys.. Maks culik k saya ses

Hhe bat aha “tid kalta ung text kata ini? Sek moh

Tinggalkan komentar