Gedung Putih Melumpuhkan Unit Pengujian AI di Saat yang Paling Salah

Di dalam Gedung Putih tengah berlangsung perdebatan sengit soal siapa yang berhak meninjau model AI paling canggih sebelum dirilis ke publik, serta sejauh mana hasil evaluasi tersebut boleh diketahui masyarakat.

The Wall Street Journal melaporkan pada Selasa lalu, dengan mengutip sumber anonim, bahwa pejabat administrasi Trump telah menginstruksikan Center for AI Standards and Innovation (CAISI) untuk menghentikan sementara publikasi laporan hasil peninjauan model AI mereka, sembari menunggu implementasi perintah eksekutif AI terbaru dari Presiden Donald Trump. CAISI yang berada di bawah Departemen Perdagangan ini telah menjadi unit pengujian AI utama pemerintah federal. Lembaga tersebut bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk mengevaluasi model-model frontier sebelum perilisan, serta membagikan informasi kepada publik soal kemampuan model-model tadi.

Menurut laporan Journal, arahan itu keluar di tengah kekhawatiran yang makin memuncak bahwa model AI canggih, termasuk Mythos milik Anthropic, bisa disalahgunakan untuk membantu serangan siber atau pengembangan senjata biologis. Anthropic awalnya menunda perilisan penuh Mythos ke publik, dan hanya memberikan akses kepada sekelompok perusahaan dan organisasi terbatas untuk mencari celah keamanan. Minggu ini, perusahaan tersebut akhirnya merilis versi publik dengan tambahan pengaman.

Kabar ini juga muncul di saat administrasi Trump, yang selama ini cenderung mengabulkan keinginan industri AI, tengah meraba-raba seberapa besar pengawasan yang bersedia mereka terapkan terhadap laboratorium AI.

Sejauh ini, administrasi mengambil pendekatan yang *hands-off* alias menjauhkan diri dari pengaturan AI. Satu-satunya tindakan signifikan administrasi Trump terhadap perusahaan AI terjadi awal tahun ini, ketika mereka menetapkan Anthropic sebagai risiko rantai pasok setelah *startup* tersebut menolak mengizinkan teknologinya digunakan Pentagon untuk “tujuan apa pun yang sah.”

MEMBACA  PBB Waspadai Krisis Kelaparan yang Meningkat di Kongo Timur

Perintah eksekutif AI terbaru Trump, yang ditandatangani minggu lalu setelah sempat ditunda, menyerukan kerangka kerja baru. Kerangka ini memungkinkan perusahaan AI secara sukarela memberikan akses kepada pemerintah federal terhadap model-model frontier hingga 30 hari sebelum perilisan luas, dengan tujuan “memperkuat keamanan siber infrastruktur kritis.” Sebuah draf awal kabarnya menuntut jendela peninjauab yang lebih panjang, yaitu 90 hari.

Menurut Wall Street Journal, perintah tersebut merupakan kemenangan bagi Menteri Keuangan Scott Bessent, bersama Direktur Keamanan Siber Nasional Sean Cairncross—salah satu pejabat yang menginstruksikan CAISI untuk berhenti menerbitkan laporannya.

Namun, tidak semua orang di dalam administrasi tampak sependapat. Sejumlah pejabat meyakini perintah eksekutif tersebut hanya menugaskan kelompok baru untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya sudah dilakukan oleh CAISI, demikian menurut sumber yang mengetahui masalah ini. CAISI diharapkan tetap melanjutkan evaluasi model secara internal dan bekerja sama dengan badan pemerintah lain, tetapi kemampuannya untuk berbagi temuan itu dengan publik kini tampak dipertanyakan.

Menurut laporan Wall Street Journal, perusahaan AI terkemuka seperti OpenAI dan Anthropic telah menjalin hubungan dengan CAISI sejak kantor ini didirikan pada masa administrasi Biden sebagai AI Safety Institute. Baru pekan lalu, OpenAI pun menyerukan pengeratan peran CAISI.

Gedung Putih dan CAISI belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi. Namun, juru bicara Gedung Putih Liz Huston mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa, “Implementasi agenda AI Presiden Trump adalah upaya seluruh pemerintahan, dengan berbagai badan turut berkontribusi bagi keberhasilannya.”

Tinggalkan komentar