Perangkat *wearable* sedang menjadi arena yang sangat dinamis saat ini. Ada beragam cincin pintar, pelacak kebugaran, kacamata pintar, hingga pin aneh bernuansa AI yang kurang berguna—semua ada. Sebagai dampak dari inovasi yang menarik tersebut, muncul pula berbagai gugatan hukum.
Kasus terkini datang dari perusahaan pelacak kesehatan tanpa layar, Whoop, yang menggugat pembuat aplikasi kesehatan bernama Bevel. Whoop menuduh Bevel meniru elemen inti dari merek mereka. Berikut video CEO Bevel, Grey Nguyen, yang membahas gugatan tersebut.
@WHOOP baru saja mengajukan gugatan terhadap kami.
Perusahaan senilai $10M dengan 800+ karyawan takut pada kami, tim 20 orang yang membuat pelacakan kesehatan dapat diakses semua kalangan.
Alih-alih fokus pada produk dan inovasi, Whoop memilih menggunakan modal baru mereka untuk perang hukum.
Dalam video ini, saya… pic.twitter.com/gpi6AUpc40
— Grey (@greyngyen) 3 April 2026
Detail persidangan tentu rumit, namun inti gugatan berkisar pada “trade dress”—istilah hukum untuk tampilan dan nuansa suatu produk. Whoop klaim Bevel meniru *je ne sais quoi* tersebut. Bevel sendiri tidak memproduksi perangkat keras seperti Whoop, namun menyediakan aplikasi yang mengolah data dari *wearable* untuk memberi insight tentang tidur, olahraga, stres, dan lainnya. Meski tidak terintegrasi dengan Whoop, Bevel menggunakan data dari aplikasi Apple Health, yang juga menyimpan data dari gelang Whoop.
Gugatan ini bisa dilihat dari banyak sudut, namun satu hal yang jelas: Whoop (yang baru saja mengumpulkan dana $575 juta pekan ini) tidak senang dengan kompetisi baru—dan bukan cuma Bevel yang mengusik. Pada Oktober lalu, Whoop juga menggugat Polar, yang memproduksi *wearable* kebugaran tanpa layar versi mereka sendiri. Tuduhannya serupa dengan yang dilayangkan ke Bevel. Whoop menyatakan Polar Loop meniru desain kunci mereka dan perangkat kerasnya melanggar paten.
Polar Loop memang mirip dengan Whoop dalam hal metrik yang dilacak, tampilan visual, dan koneksi ke aplikasi. Yang lebih menyulitkan Whoop, harganya lebih murah dan tidak memerlukan langganan bulanan, menjadikannya pesaing menarik bagi yang ingin berhemat dan tidak keberatan dengan merek yang kurang terkenal.
Apakah kompetitor Whoop benar-benar melanggar paten, itu urusan hakim. Namun bagi konsumen, dampak langsungnya mungkin kurang baik. Bayangkan, jika Anda startup di bidang pelacakan kesehatan, apakah akan nekat berinovasi jika tahu Whoop sudah siap dengan tim pengacara? Mungkin iya, jika punya sumber daya dan keteguhan, namun kemungkinan besar startup di bidang ini akan berpikir dua kali dengan ancaman gugatan yang membayangi.
Ada pula kemungkinan dampak lanjutan. Bagaimana jika pengadilan memutuskan Polar dan Bevel memang melanggar? Kedua merek itu bisa dipaksa mengubah produk secara drastis hingga menghilangkan esensinya. Ini masih hipotesis, tapi dalam skenario hukum, hal tersebut sangat mungkin terjadi.
Persoalan serupa tak hanya terjadi di *wearable* kesehatan. Gugatan serupa bermunculan di ranah kacamata pintar, meski kali ini bukan perusahaan besar yang menuding perusahaan kecil, melainkan banyak yang menuding Meta. Upaya Mark Zuckerberg di bidang kacamata pintar telah memicu kemarahan perusahaan yang mengklaim Meta mencuri ide mereka untuk berbagai aspek kacamata pintar bermerek Ray-Ban miliknya.
Solos, sebuah perusahaan kacamata pintar pesaing, menuduh Meta mencuri bagian dari teknologi kacamata pintarnya, termasuk audio dan pemrosesan, untuk membuat Ray-Ban Meta AI. Sementara itu, Perceptix Technologies menuduh Meta melanggar patennya terkait perangkat elektromiografi (EMG). Meta Neural Band, gelang pembaca otot untuk mengontrol Meta Ray-Ban Display dengan gerakan jari/tangan, menggunakan teknologi EMG. Perceptix memegang paten untuk perangkat EMG serupa.
Jelas, banyak saling tuding terjadi di industri *wearable* saat ini, dan bukan cuma tentang membuat kacamata pintar yang kian dicurigai untuk mengambil foto. Gugatan semacam ini biasanya berlarut-larut—litigasi paten bisa memakan waktu tahunan. Konsekuensinya bisa signifikan ketika putusan akhirnya jatuh. Meta mungkin akan tetap menjual kacamata pintar meski kalah di pengadilan, namun perusahaan seperti Bevel dan Polar mungkin tidak memiliki kekebalan yang sama. Apapun yang terjadi, industri *wearable* tampaknya tak akan menjadi kurang menarik dalam waktu dekat; bagi perusahaan besar, gugatan hukum hanyalah risiko kecil demi prospek menguasai pasar baru.