Benarkah kendaraan otonom hanyalah mobil remote control raksasa, yang dikendalikan dari balik konsol oleh orang-orang tanpa nama di pusat panggilan jauh? Seiring kendaraan dan perangkat lunak futuristic-nya menyebar ke lebih banyak kota, teori konspirasi ini telah menyebar cepat di grup chat dan TikTok. Hal ini turut didorong oleh keengganan perusahaan mobil otonom untuk menjelaskan secara rinci tentang peran manusia yang membantu robot mereka beroperasi.
Namun bulan ini, melalui dokumen pemerintah yang diajukan oleh anak perusahaan Alphabet, Waymo, dan pembuat mobil listrik Tesla, kedua perusahaan mengungkapkan lebih banyak detail tentang para operator dan program yang membantu kendaraan ketika perangkat lunaknya mengalami kebingungan.
Rincian program “bantuan jarak jauh” ini penting karena peran manusia dalam mendukung robot dianggap krusial untuk memastikan keamanan berkendara di jalan umum, menurut para ahli industri. Bahkan robotaksi yang biasanya berjalan lancar dapat menghadapi situasi yang membingungkan sistem otonomnya. Contohnya, pemadaman listrik di San Francisco pada Desember yang mematikan lampu lalu lintas dan membuat beberapa unit Waymo terkebak di persimpangan. Atau penyelidikan pemerintah terkait beberapa insiden mobil ini menerobos halte bus sekolah yang sedang menurunkan siswa di Austin, Texas. (Insiden terakhir membuat Waymo melakukan penarikan perangkat lunak.) Saat hal seperti ini terjadi, manusia membantu mobil keluar dari situasi sulit dengan mengarahkan atau “menasihati” dari jarak jauh.
Pekerjaan ini penting karena kesalahan manusia bisa menjadi pembeda antara mobil berhenti atau malah menerobos lampu merah. “Untuk masa depan yang dapat diprediksi, akan selalu ada manusia yang berperan dalam perilaku kendaraan, dan karenanya memiliki peran dalam keselamatan,” ujar Philip Koopman, peneliti perangkat lunak dan keselamatan kendaraan otonom di Carnegie Mellon University. Salah satu tantangan keamanan terberat dalam kendaraan otonom, katanya, adalah membangun perangkat lunak yang tahu kapan harus meminta bantuan manusia.
Dengan kata lain: Jika Anda peduli dengan keamanan robot, perhatikanlah para operatornya.
Para Operator di Waymo
Waymo mengoperasikan layanan robotaksi berbayar di enam wilayah metropolitan—Atlanta, Austin, Los Angeles, Phoenix, dan wilayah Teluk San Francisco—dan berencana meluncurkan di 10 wilayah lain termasuk London tahun ini. Kini, melalui postingan blog dan surat yang diajukan kepada senator AS Ed Markey, perusahaan ini mengungkap lebih banyak aspek dari program “bantuan jarak jauh” (RA)-nya, yang melibatkan pekerja jarak jauh untuk merespons permintaan dari perangkat lunak kendaraan Waymo saat dinilai membutuhkan bantuan. Manusia ini memberikan data atau saran kepada sistem, tulis Ryan McNamara, Wakil Presiden dan Kepala Operasional Global Waymo. Sistem dapat menggunakan atau menolak informasi yang diberikan manusia.
“Agen RA Waymo memberikan saran dan dukungan kepada Waymo Driver, tetapi tidak secara langsung mengendalikan, mengemudikan, atau menyetir kendaraannya,” tulis McNamara—secara tidak langsung menyangkal anggapan bahwa Waymo hanyalah mobil remote control. Sekitar 70 asisten bertugas pada satu waktu untuk memantau sekitar 3.000 robotaksi, menurut perusahaan. Rasio yang rendah ini mengindikasikan bahwa mobil-mobil tersebut melakukan sebagian besar pekerjaan.
Waymo juga mengonfirmasi dalam suratnya tentang pernyataan seorang eksekutif di hadapan Kongres awal bulan ini: Separuh dari pekerja bantuan jarak jauh ini adalah kontraktor di luar negeri, yaitu di Filipina. (Perusahaan menyatakan memiliki dua kantor bantuan jarak jauh lain di Arizona dan Michigan.) Para pekerja ini memiliki izin mengemudi di Filipina, tulis McNamara, tetapi dilatih mengenai peraturan jalan di AS. Semua pekerja bantuan jarak jauh menjalani tes narkoba dan alkohol saat direkrut, dan 45 persen di antaranya dites narkoba setiap tiga bulan sebagai bagian dari program pengujian acak Waymo.