Generasi baru roket bertujuan membuka model bisnis di luar angkasa, termasuk mimpi fiksi ilmiah tentang mengekstraksi sumber daya dari asteroid.
Para peneliti kini mengamati asteroid lebih cermat untuk mengidentifikasi objek mana yang paling layak menjadi target misi penambangan di masa depan. Sebuah tim dari Institut Ilmu Antariksa Spanyol menghabiskan lebih dari satu dekade menganalisis sampel dari asteroid kaya karbon—jenis batuan luar angkasa paling umum di tata surya—untuk memahami potensi yang ada.
Riset yang diterbitkan dalam Monthly Notices of Royal Astronomical Society itu menyoroti satu jenis asteroid yang dinilai sebagai target utama.
“Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, namun hal yang sama juga terkesan fiksi ilmiah ketika misi pengembalian sampel pertama direncanakan tiga puluh tahun lalu,” ujar Pau Grèbol Tomás, mahasiswa pascasarjana di Institut Ilmu Antariksa dan rekan penulis makalah, dalam sebuah pernyataan.
Menuju Tambang Antariksa
Penambangan asteroid masih merupakan wilayah yang belum terjamah. Misi pengambilan sampel asteroid NASA, OSIRIS-REx, telah membuktikan bahwa kita dapat mengambil material dari batuan luar angkasa dan membawanya ke Bumi. Namun, melakukannya dalam skala besar akan memerlukan sistem propulsi canggih, pemurnian di orbit, teknologi reentry berskala besar—yang sebagian besar belum teruji.
Beberapa startup antariksa telah menaruh perhatian pada peluang ini dan tengah mengembangkan sistem yang dapat mewujudkan penambangan asteroid. AstroForge asal California meluncurkan misi pertamanya pada April 2023 untuk mendemonstrasikan kemampuan memurnikan material asteroid di orbit. Sayangnya, perusahaan kehilangan kontak dengan wahana antariksa mereka.
Namun upaya seperti ini hanya akan berlanjut jika ada keyakinan bahwa menambang asteroid akan menjadi proposisi yang menguntungkan.
Prospek untuk Para Pencari Peluang
“Sebagian besar asteroid memiliki kelimpahan elemen berharga yang relatif sedikit, sehingga tujuan studi kami adalah memahami sejauh mana ekstraksinya akan viable,” kata Tomás.
Para peneliti mengkarakterisasi 28 sampel meteorit dan melakukan analisis kimia rinci menggunakan spektrometri massa. Dengan demikian, mereka menentukan komposisi kimia enam tipe kondrit karbonaseus paling umum—meteorit yang kaya karbon, air, dan senyawa organik.
“Ketertarikan ilmiah pada setiap meteorit ini adalah bahwa mereka mewakili asteroid kecil yang tak terdiferensiasi, serta memberikan informasi berharga tentang komposisi kimia dan sejarah evolusi benda langit asal mereka,” ungkap Josep M. Trigo-Rodríguez, astrofisikawan di Institut Ilmu Antariksa dan penulis utama studi, dalam pernyataan.
Berdasarkan analisis, tim menemukan bahwa asteroid kaya mineral olivin dan spinel dapat menjadi target ideal untuk misi penambangan masa depan, karena mineral-mineral tersebut berkaitan dengan keberadaan besi, nikel, emas, platinum, dan unsur tanah jarang.