Amerika Serikat tengah bersiap mendeportasi seorang pensiunan pendeta berusia 78 tahun ke Uganda, sebuah negara di Afrika Timur yang berada di dekat pusat wabah Ebola. Sang pendeta juga mengaku jadi sasaran rezim otoriter negara tersebut.
Edward Nalwamba tiba di AS dari Uganda pada 2002 dan telah tinggal serta bekerja di Colorado di bawah “surat perintah pengawasan,” yaitu ketika seseorang memiliki perintah deportasi namun belum bisa segera dipulangkan. Kata kuasa hukumnya, surat perintah itu dicabut pada September 2025, dan sejak itu ia ditahan. Nalwamba dijadwalkan dideportasi pada Selasa depan.
Menurut pengacara dan seorang temannya, kondisi kesehatan Nalwamba merosot drastis selama sembilan bulan dalam tahanan imigrasi, menambah kekhawatiran soal mendeportasikannya ke kawasan wabah.
Uganda dan negara tetangganya, Republik Demokratik Kongo, berada di episenter wabah Ebola terbaru yang telah menewaskan lebih dari 300 orang. Awal bulan ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menerbitkan notifikasi kesehatan perjalanan untuk Uganda, mendorong wisatawan untuk melakukan “kewaspadaan yang ditingkatkan.” Tidak jelas berapa banyak imigran yang saat ini dideportasi AS ke Uganda.
Kasus Nalwamba berada di persimpangan beberapa perubahan besar yang diperkenalkan oleh pemerintahan kedua Presiden Donald Trump. Sejak Januari 2025, pemerintah AS telah mencekik bantuan luar negeri, hampir mematikan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID). Di saat yang sama, miliaran dolar AS digelontorkan ke Departeman Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan operasi imigrasi – seperti kenaikan drastis anggaran penegakan imigrasi dan bea cukai (ICE).
Nalwamba pertama kali tiba di AS dengan visa turis untuk sebuah konferensi keagamaan. Pada 2001, saat pemilihan presiden Uganda, Nalwamba mengaku bahwa ia merupakan salah satu dari beberapa orang di kotanya yang diculik dari rumah pada tengah malam dan diinterogasi oleh pasukan keamanan bersenjata tentang hubungannya dengan oposisi politik, menurut dokumen pengadilan yang diajukan pada 2010. Nalwamba telah menolak untuk menginstruksikan jemaat gerejanya agar memilih presiden negara itu, Yoweri Museveni, yang telah berkuasa sejak 1986 dan pemerintahannya terus menargetkan anggota oposisi politik hingga awal tahun ini.
Selama konferensi keagamaan itu, katanya, orang-orang yang dikenalnya di Uganda meneleponnya untuk memperingatkan bahwa kondisi politik di negara tersebut memburuk. Saat berada di AS, Nalwamba menerima faks berisi ancaman yang membuatnya takut pulang. Nalwamba memutuskan untuk tetap di AS dan mengajukan suaka.
“Ia takut dan terus merasa takut hingga sekarang bahwa jika ia kembali ke Uganda, ia akan dipenjara, disiksa, atau dibunuh, dan otoritas Uganda sudah berkali-kali mencarinya selama bertahun-tahun,” kata Joy Athanasiou, pengacara imigrasi yang mewakili Nalwamba.
Athanasiou mengklaim bahwa Nalwamba bermasalah dengan pengacara imigrasi pertamanya, yang “menghilang tanpa mengajukan permohonan.” Hal ini, dan masalah lainnya, mempersulit permohonan suakanya dan meskipun ditolak, ia tetap diberikan “penangguhan pemulangan.” Nalwamba ditangkap pada 18 September 2025, dan sejak itu ditahan di fasilitas detensi di Aurora, Colorado, yang dioperasikan oleh GEO Group, sebuah perusahaan penjara swasta.
Selama di tahanan, Athanasiou mengatakan barang-barang milik Nalwamba disita, termasuk dokumen dan kertas-kertas. “Ia yakin beberapa dokumen imigrasinya ikut di dalamnya,” ujarnya. Selain itu, karena Athanasiou tidak mewakili Nalwamba dalam kasus imigrasinya sebelumnya, ia tidak memiliki akses ke beberapa catatan dan dokumen kasus lama. “Anda harus mengajukan permohonan resmi untuk salinan berkas klien melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi,” katanya. Pengacara sebelumnya pernah mengajukan permohonan untuk berkas Nalwamba tetapi hanya diberikan “sebagian kecil dari berkas,” sementara permohonan lain masih tertunda. “Ini sudah jadi masalah besar dengan pemerintahan saat ini,” ujar Athanasiou.