Anda Belum Pernah Mendengar Novel Fiksi Ilmiah Terhebat dari Tiongkok

Momen bagi Ma tiba pada tahun 2011. Pada 23 Juli, dua kereta cepat bertabrakan di dekat Wenzhou, menewaskan 40 orang. Kecelakaan itu menorehkan trauma nasional karena seolah mengungkap harga dari laju pembangunan China yang terlampau cepat. Sebuah esai terkemuka menangkap suasana hati tersebut, dengan judulnya yang menjadi seruan bersama: “China, Pelankanlah, Tunggulah Rakyatmu.” Prosa itu nyaris terdengar seperti doa: “China, hentikanlah langkahmu yang melesat, tunggulah rakyatmu, tunggulah jiwamu, tunggulah moralitasmu, tunggulah nuranimu!”

Ma dan suara-suara Partai Industri lainnya merespons dengan serangan balik. Menurut mereka, solusinya bukan memperlambat, tetapi justru meningkatkan upaya—belajar dari kesalahan, menerobos fase sulit ketika teknologi baru masih dikuasai. Dan kunci dari kampanye mereka adalah Lingao itu sendiri. Penulisannya menjadi fenomena di berbagai forum internet China pada decade 2010-an: etos sumber terbuka dan metode kolaboratifnya sangat menarik bagi komunitas teknologi China yang sedang berkembang. Di luar pertemuan rutin para kontributor inti, kreasi Lingao memicu pembentukan “politik kibor” China—komunitas daring tempat pengguna terlibat debat sengit tentang tata kelola, kebijakan, dan arah bangsa di balik perlindungan anonimitas. Percakapan ini menjadi ajang untuk argumen politik yang tak mungkin terjadi di tempat lain, di mana pengamat kebijakan amatir, penggemar militer, dan strategis *dadakan* mempertajam pandangan dunia mereka. Pada 2012, situs komentar nasionalis Guancha (bayangkan sebagai Breitbart-nya China) didirikan, dan keterkaitannya yang rumit dengan pemikiran serta jaringan personalia Partai Industri menunjukkan betapa jauh pengaruh Lingao melampaui sekadar fiksi penjelajah waktu.

Ideologi Partai Industri pada akhirnya bersifat cukup Darwinian. Yang paling penting adalah kekuatan yang bersumber dari kapasitas industri. Ini berkontribusi pada apa yang para akademisi sebut sebagai “estetika” partai tersebut. Fred Gao, seorang jurnalis berbasis Beijing yang mengidentifikasi diri dengan Partai Industri dan pernah singgah bekerja untuk Guancha, mengatakan kepada saya: “Orang-orang ini memandang industrialisasi sebagai bentuk keindahan tertinggi. Membangun sesuatu dari nol—itulah romantisme mereka.”

MEMBACA  Pemain dari Bojonegoro Ini Berkomitmen untuk Memberikan yang Terbaik untuk Persis Solo

Tentu saja, impuls teknosionalis melampaui batas-batas negara. “Elon Musk adalah figur Partai Industri ultimat,” kata Gao. Visi Musk untuk menjajah Mars, ketidaksabarannya terhadap regulasi, pemujaannya pada solusi teknik, keyakinannya bahwa menciptakan benda fisik lebih penting daripada hal lain—menurut Gao, “estetikanya memiliki resonansi kuat dengan Partai Industri China.” Perbedaannya hanyalah pada sistem politik yang menyalurkannya.

Hampir tak seorang pun, termasuk saya, yang dapat menyelesaikan semua bab Lingao (apalagi lebih dari 1.400 karya turunan). Bukan cuma karena terlalu panjang. Membacanya cukup menyiksa. Bahasa dan struktur narasi novel itu sangat anti-sastra. Partai Industri sepertinya percaya, menulis dengan indah adalah borjuis. Deskripsi teknisnya cenderung terasa seperti pembenaran diri, sebuah pengabaian yang tak nyaman bagi pembaca tanpa latar belakang STEM.

Buku ini mengajukan pertanyaan seperti: Bagaimana menyelesaikan masalah energi saat tidak bisa mengebor minyak? Bagaimana memulai mekanisasi tanpa mesin perkakas untuk membuat mesin perkakas? Bagaimana memproduksi asam nitrat ketika memulainya benar-benar dari tanah? Dari Bab 22, saat 500 penjelajah waktu merencanakan ekspedisi untuk menjajah Kabupaten Lingao di Hainan (pulau selatan China):

Tinggalkan komentar