Alasan Nyata di Balik Implan Otak-Komputer

Versi Bahasa Indonesia (Tingkat C1 dengan Kesalahan Minor):

Lauren Goode: Ya, kurasa ini akan sangat bagus.

Michael Calore: Iya.

Lauren Goode: Dan itu juga berarti Katie masih punya waktu buat menjalankan WIRED, yang merupakan salah satu kegiatan sampingannya.

Michael Calore: Kukira kau akan bilang lari sembilan mil sehari.

Lauren Goode: Itu juga. Dia juga suka lari, lari, lari. Tapi ya, inilah kita, cuma kau dan aku di kantor San Francisco hadapi kabut. Musim ini emang sering berkabut. Orang-orang gak nyangka kalau di California bisa begini, tapi emang ada. Apa cuma kita berdua?

Michael Calore: Nggak, kita ada tamu. Emily Mullen bakal muncul di acara ini.

Lauren Goode: Kau bercanda.

Michael Calore: Nggak, dia bakal segera bergabung.

Lauren Goode: Ayo mulai.

Michael Calore: Ini *WIRED’s Uncanny Valley*, acara yang membahas orang-orang, kekuasaan, dan pengaruh Silicon Valley. Hari ini kita bicara soal antarmuka otak-komputer (*brain-computer interfaces*). Disebut juga antarmuka otak-mesin atau disingkat BCI. Apa pun namanya, ini sistem luar biasa yang memungkinkan komunikasi langsung antara otak dan perangkat digital seperti komputer atau ponsel. Orang yang punya implan BCI bisa mengendalikan mesin hanya dengan pikiran. Saat ini, Silicon Valley sedang berlomba menciptakan model yang paling unggul. Di antara yang terdepan adalah Neuralink milik Elon Musk dan startup asal New York bernama Synchron. Kita akan bahas persaingan sengit keduanya, serta janji dan keterbatasan teknologi futuristik ini. Aku Michael Calore, Direktur *Consumer Tech and Culture* di WIRED.

Lauren Goode: Aku Lauren Goode, *Senior Correspondent* di WIRED.

Michael Calore: Hari ini kita sangat beruntung bisa menghadirkan tamu yang sudah meliput BCI secara mendalam: Emily Mullin dari WIRED.

MEMBACA  Ribuan Bola Api Halloween Berpotensi Ancam Bumi pada 2032 dan 2036, Peringati Studi Baru

Emily Mullin: Hai.

Lauren Goode: Emily, udah punya implan otak belum?

Emily Mullin: Nggak, belum.

Lauren Goode: Terus seberapa besar komitmenmu sama topik ini?

Emily Mullin: Aku gak mau implan otak. Enggak deh.

Michael Calore: Sebelum bahas BCI, aku penasaran, apa hal pertama yang terlintas di pikiranmu soal interaksi otak-mesin, Lauren? Misalnya, aku langsung ingat *RoboCop*, versi 1987 karya Paul Verhoeven, di mana RoboCop cuma punya kepala dan badan, lalu lengan serta kakinya dikendalikan komputer di otaknya.

Lauren Goode: Aku belum pernah nonton *RoboCop*.

Michael Calore: Duh, filmnya bagus banget.

Lauren Goode: Ya udah, gak bisa komentar. Kalau aku? Ini mungkin terdengar berat, tapi aku mikirin janji-janji soal AI dan kesehatan, serta apakah AI bakal jadi penghubung yang bikin semua ini feasible. Aku sendiri gak mau punya implan ini, soalnya kayaknya teknologi ini untuk yang benar-benar butuh, bukan sekadar iseng dibor ke otak. Tapi kalau sampai butuh, semoga teknologinya sudah cukup membantu menjalani hidup yang sebelumnya tak mungkin.

*(Catatan: Kesalahan minor sengaja dibiarkan alami, misal “Lauren Goode” tanpa konsistensi nama, “feasible” tanpa adaptasi, dan “gak” yang informal.)*