Seorang pendaki yang menjelajahi Mist Trail di Taman Nasional Yosemite melihat sesuatu yang tidak biasa pada hari Minggu. Orang-orang dengan "kemej kuning", tulis pendaki itu di Reddit, "menggulung kantong mayat menuruni tangga granit meggunakan tandu segala medan. Kami semua harus minggir supaya mereka bisa lewat […] salah satu hal paling mencekam yang pernah saya saksikan."
Namun, pertemuan itu—yang tampaknya merupakan buntut dari kematian seorang pemuda berusia 23 tahun yang jatuh dari Air Terjun Nevada setinggi 594 kaki (181 meter) pada hari Sabtu—secara resmi baru dkonfirmasi sebagai "suatu insiden" oleh Dinas Taman Nasional AS (NPS). Aura misteri yang tampaknya tidak perlu seputar peristiwa ini sepertinya merupakan kebijakan baru yang disengaja, dilihat dari memo internal dari pengawas dinas taman tersebut di Departemen Dalam Negeri AS, seperti yang pertama kali dilaporkan oleh Washington Post. Pedoman internal baru tersebut kabarnyamenytakan bahwa lembaga-lembaga di bawah Departemen Dalam Negeri "tidak boleh mengonfirmasi kematian” ataupun "tingkat keparahan cedera" setelah suatu insiden—sebuah penyimpangan dari kebijakan masa lalu yang, menurut staf NPS yang berbicara dengan Post, berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan fatal di antara pengunjung taman.
Kebijakan ini diduga menunda pengumuman kematian tiga pengunjung Taman Nasional Grand Canyon bulan ini. Ketiganya adalah "kematian yang tampaknya terkait panas" akibat suhu gerah di atas 100 derajat Fahrenheit (38 derajat Celcius), seperti yang diungkapkan tiga staf taman anonim kepada Post.
Menghormati "proses investigasi"
Sejauh mana langkah ini bisa mengungkap kekhawatiran pemerintahan Trump soal kematian di taman nasional Amerika (atau pencitraan politik dari kematian tersebut), pembatasan baru ini mungkin berakar pada ribuan pembelian kontrak dan pensiun dini yang telah mengurangi staf tetap taman hingga sekitar seperempatnya. Menurut Veteran NPS, Bill Wade, yang kini menjabat direktur eksekutif Asosiasi Penjaga Taman Nasional, pemangkasan staf—yang meninggalkan lowongan untuk penjaga pantai, penjaga taman, dan lainnya—bisa berdampak pada kemampuan taman untuk melndungi pengunjung dan bahkan menemukan orang hilang.
"Kurangnya staf tetap di semua lini kemungkinan akan berdampak pada kemampuan tanggap darurat untuk hal-hal seperti pencarian dan penyelamatan," kata Wade kepada afiliasi NPR di Utah, KUER, tahun lalu.
Namun, perwakila Departemen Dalam Negeri membantah interpretasi ini dalam pernyataan setelah laporan Post yang baru. "Narasi yang disajikan itu palsu dan mencerminkan miskarakterisasi signifikan atas pedoman Departemen," kata seorang juru bicara kepada The Daily Beast. Pedoman tersebut, kata mereka, "dikembangkan untuk menciptakan pendekatan yang lebih konsisten" dan "tidak dimaksudkan untuk menyembunyikan kematian atau menunda informasi."
Departemen tersebut menekankan bahwa kebijakan barunya menahan informasi sebagai bentuk penghormatan terhadap "proses investigasi, pertimbanga privasi, pemberitahuan kepada keluarga," dan, dalam beberapa kasus, "permintaan dari anggota keluarga." (Staf NPS yang membocorkan pembatasan komunikasi lainnya kepada National Parks Traveller pada Januari lalu—yang mengkhawatirkan "akurasi informasi yang dibagikan kepada publik," mungkin tidak setuju.)
"Pengungkapan maksimum, penundaan minimum"
Terlepas dari daya tarik sensasional yang menarik perhatian banyak orang, kematian dalam bentuk apa pun di taman nasional Amerika sangatlah jarang terjadi, menurut statistik NPS. Rata-rata, 358 orang meninggal di dalam taman nasonal setiap tahunnya, atau kurang dari 0,012% dari total lebih dari 300 juta pengunjung tahunan. Menurut NPS, hampir seluruh kematian itu disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor dan tenggelam. Kematian yang lebih Menarik perhatian seperti serangan binatang buas atau pembunuhan hanya berkisar pada angka satuan setiap tahunnya.
Meski begitu, pedoman NPS sebelumnya mendorong staf untuk menerapkan kebijuakan "Pengungkapan Maksimum, Penundaan Minimum," menurut sebuah templat yang ditinjau oleh Post. Tujuannya adalah untuk menghindari spekulasi atau kepanikan publik, sekaligus mendidik pengunjung tentang bahayaa yang muncul di setiap taman.
Dan Wenk, seorang mantan superintendent Taman Nasional Yellowstone, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa dorongan transparansi sebelumnya itu pada dasarnya adalah satu-satunya cara untk menindaklanjuti rasa ingin tahu publik tentang kematian ini.
"Ketika beruang grizzly membunuh seseorang, keesokan paginya ada sepuluh truk uplink di luar kantor saya," kata Wink kepada Post. "Orang-orang menginginkan fakta dan berharap bisa mendapatkan jawaba."